ICC Soroti ECB Terkait Video Pensiun Stokes yang Bocor Saat Laga Berlangsung
Baca dalam 60 detik
- ICC menilai ECB melanggar aturan dengan menyiarkan video pengumuman pensiun Ben Stokes dari dalam ruang ganti sebelum pertandingan usai.
- Aturan PMOA melarang perekaman dan penyiaran audio atau video dari area pemain selama pertandingan berlangsung, demi menjaga integritas anti-korupsi.
- Pensiunnya Stokes membuka perburuan kapten baru Inggris, dengan Harry Brook sebagai kandidat utama, di tengah ketidakpastian manajemen tim.

International Cricket Council (ICC) secara resmi melayangkan surat kepada England and Wales Cricket Board (ECB) terkait pelanggaran protokol yang terjadi saat pengumuman pensiun Ben Stokes pada laga ketiga melawan Selandia Baru di Trent Bridge, pekan lalu. Dalam surat yang dikirim Sabtu (14/6) itu, ICC menduga ECB melanggar standar minimum untuk area pemain dan ofisial pertandingan (PMOA) dengan merekam dan menyiarkan pidato perpisahan Stokes sebelum pertandingan usai.
Aturan 2.2.11 dalam PMOA secara tegas melarang pemasangan kamera tetap atau sementara di dalam ruang ganti yang digunakan tim untuk tujuan penyiaran video atau audio. Meski demikian, ECB tetap menyebarluaskan rekaman tersebut ke penyiar dan media sosial pada pukul 15.25 BST, sesaat sebelum jeda teh. ICC sebelumnya juga telah mengingatkan ECB bahwa materi dari PMOA tidak boleh mengandung audio atau dirilis sebelum pertandingan berakhir.
Stokes, yang mengumumkan pensiun di hadapan rekan setimnya sebelum laga dimulai, mengaku keputusan untuk menyiarkan saat pertandingan berlangsung merupakan hasil koordinasi antara agennya dan ECB. โSaya hanya bilang, kalian atur dengan Michael Lumb dan Neil Fairbrother, dan buat rencana,โ ujar pemain serba bisa berusia 35 tahun itu. Ironisnya, setelah berita pensiunnya menyebar, Stokes justru berhasil mengambil wicket Zak Foulkes pada lemparan pertamanya setelah pengumuman.
Pensiunnya Stokes menimbulkan kekosongan kursi kapten tim Tes Inggris yang harus segera diisi sebelum rangkaian tiga laga melawan Pakistan pada Agustus mendatang. Wakil kapten Harry Brook menyatakan akan menerima jabatan itu sebagai suatu kehormatan, namun ECB disebut ingin mengambil waktu untuk mempertimbangkan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah ketidakpastian masa depan sejumlah figur manajemen setelah serangkaian hasil buruk di Tes dan kontroversi di luar lapangan.
Pelatih kepala Brendon McCullum dan direktur kriket Rob Key mendapat dukungan pada musim semi setelah evaluasi kekalahan 4-1 dari Australia di Ashes. Namun, ECB kini tengah merenungkan situasi tim pria dan kemungkinan baru akan mengumumkan keputusan setelah rangkaian laga white-ball melawan India berakhir. Baik Key maupun CEO Richard Gould belum memberikan pernyataan publik sejak pensiunnya Stokes.
Bagi pengamat kriket Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa ketatnya aturan integritas yang diterapkan ICC di level internasional. Meski kriket belum sepopuler di Tanah Air, pelanggaran semacam ini bisa menjadi preseden bagi federasi nasional lain untuk lebih berhati-hati dalam mengelola konten dari area terbatas. Ke depannya, ECB harus segera merespons surat ICC agar tidak mendapat sanksi yang dapat memperburuk citra kriket Inggris yang tengah terpuruk.



