Pelatih Atletik Inggris yang Dikabarkan Hilang Ternyata Dipenjara di Maroko
Baca dalam 60 detik
- Leon Baptiste, pelatih atletik Inggris, menjalani hukuman penjara di Maroko setelah ditangkap pada Mei lalu.
- Kepergian mendadaknya membuat sejumlah atlet top Inggris kehilangan pelatih jelang kejuaraan besar.
- Otoritas Maroko membantah kabar 'penghilangan' dan menyebut Baptiste dalam kondisi sehat.

Kabar tentang pelatih atletik Inggris, Leon Baptiste, yang sempat dikabarkan hilang di Maroko akhirnya terkuak. Pria berusia 41 tahun itu ternyata tengah menjalani hukuman penjara di negara Afrika Utara tersebut setelah ditangkap pada Mei lalu. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh sumber Kementerian Kehakiman Maroko kepada BBC Sport, sekaligus meluruskan pemberitaan yang menyebutnya menghilang secara misterius.
Baptiste, yang merupakan peraih medali emas 200 meter pada Commonwealth Games 2010, tiba-tiba memutus kontak dengan atlet binaannya lebih dari tiga bulan lalu. Padahal, saat itu ia tengah mempersiapkan sejumlah pelari andalan Inggris untuk menghadapi Commonwealth Games di Glasgow dan Kejuaraan Eropa di Birmingham. Para atlet yang dilatihnya, termasuk peraih medali perunggu Olimpiade Charlie Dobson, hanya menerima pesan singkat pada Mei bahwa ia akan absen 'untuk sementara waktu'. Tidak ada penjelasan lebih lanjut, hingga akhirnya pada Selasa lalu, Baptiste mengirim surel pengunduran diri dengan alasan kesehatan yang tidak dijelaskan secara rinci.
Investigasi yang dilakukan BBC Sport mengungkap bahwa Baptiste ditangkap di Marrakech pada Mei, kemudian diadili dan dijatuhi hukuman penjara di penjara Al-Oudaya. Juru bicara Kantor Kejaksaan Publik Maroko membenarkan hal ini, menyebut Baptiste terlibat dalam sebuah kasus pidana. Namun, detail mengenai dakwaan dan lamanya hukuman tidak dipublikasikan. Sumber Kementerian Kehakiman Maroko menegaskan bahwa Baptiste dalam kondisi sehat dan tidak pernah hilang kontak, seperti yang banyak diberitakan. Mereka menyebut pemberitaan tentang 'penghilangan' tersebut tidak akurat dan tidak mencerminkan fakta yang sebenarnya.
Kepergian mendadak Baptiste meninggalkan dampak signifikan bagi atlet binaannya. Charlie Dobson, Sophie Hahn, dan Zac Shaw kehilangan pelatih utama di tengah persiapan menuju kejuaraan besar. Pelatih lain seperti Adam Gemili dan Martyn Rooney terpaksa turun tangan untuk membantu, namun latihan atlet-atlet tersebut tetap terganggu dan membuat mereka kurang siap serta frustrasi. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan telah memberikan dukungan kepada Baptiste dan berkomunikasi dengan otoritas Maroko. Keluarga Baptiste dikabarkan sudah mengetahui kondisi sebenarnya.
Kisah Baptiste menjadi pengingat bahwa kabar tentang atlet atau tokoh olahraga yang 'menghilang' seringkali memiliki penjelasan yang lebih kompleks. Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat banyak atlet dan pelatih yang berlaga di kancah internasional, dan pentingnya pendampingan hukum serta komunikasi yang jelas antara federasi, atlet, dan pihak berwenang. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana UK Athletics akan merespons situasi ini dan apakah ada langkah untuk memperbaiki sistem pendampingan bagi pelatih yang menghadapi masalah hukum di luar negeri.



