Stasiun KL Berubah Jadi Lokasi Syuting: Nick Cheung dan Ethan Juan Beradu Akting dalam Film Laga 'Saving Brother Ryan'
Baca dalam 60 detik
- Aktor Hong Kong Nick Cheung dan bintang Taiwan Ethan Juan terlihat menjalani syuting adegan menegangkan di Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur, Sabtu (15/8).
- Film bertajuk sementara 'Saving Brother Ryan' garapan sutradara Wong Ching Po ini mengusung genre laga gangster dengan sentuhan seni bela diri.
- Kehadiran kru produksi besar-besaran, termasuk Vivian Sung dan Troy Liu, menandakan ambisi film ini untuk menjadi tontonan regional yang kuat.

Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur berubah menjadi panggung sinema internasional pada Sabtu (15/8) ketika dua bintang Asia, Nick Cheung dari Hong Kong dan Ethan Juan dari Taiwan, terlibat dalam pengambilan gambar adegan konfrontasi untuk film terbaru mereka. Momen ini langsung menyedot perhatian publik yang kebetulan melintas, membuktikan daya tarik produksi film berskala besar di ruang publik.
Dalam foto yang beredar, Cheung yang berusia 61 tahun tampil dengan rambut panjang dan setelan jas putih berlumuran darah, sementara Juan yang berusia 43 tahun mengenakan kemeja floral biru tua dengan gaya rambut ala mullet. Keduanya terlibat dalam dialog panas yang membutuhkan banyak pengulangan pengambilan gambar, menunjukkan intensitas akting yang tinggi di bawah arahan sutradara Wong Ching Po.
Film yang menggunakan judul kerja Saving Brother Ryan ini digarap oleh sutradara asal Hong Kong, Wong Ching Po, yang sebelumnya telah dua kali bekerja sama dengan Juan. Namun, ini merupakan kolaborasi pertama Wong dengan Cheung. Menurut laporan China Press, film ini mengusung genre laga gangster dengan sentuhan seni bela diri, sebuah kombinasi yang menjanjikan aksi spektakuler.
Produksi film ini tidak main-main. Sekitar 50 hingga 60 kru dikerahkan, lengkap dengan truk air untuk mendukung efek hujan atau adegan basah. Proses syuting dimulai sejak sore hingga larut malam, dengan Cheung yang ditemani sejumlah figuran berperan sebagai anak buahnya, menambah kesan intimidatif. Sementara itu, Juan tiba lebih awal untuk memeriksa posisi kamera dan tanda-tanda di lokasi, menunjukkan profesionalisme tinggi.
Kabar ini tentu menarik bagi penggemar film aksi di Indonesia, yang selama ini akrab dengan karya-karya laga Asia. Kolaborasi antara aktor sekaliber Cheung dan Juan, yang sebelumnya sudah dua kali beradu peran sebagai musuh, kembali mempertemukan mereka dalam posisi berseberangan. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri, mengingat chemistry mereka yang sudah teruji di layar lebar.
Selain Cheung dan Juan, film ini juga dibintangi oleh aktris Taiwan Vivian Sung dan aktor Troy Liu, yang terlihat hadir di lokasi syuting dengan gaya punk. Keduanya sebelumnya pernah terlibat dalam produksi bersama Malaysia-Taiwan. Kehadiran mereka menambah deretan pemain berbakat, termasuk Joseph Chang dan Alyssa Chia yang terlihat syuting di sekitar Kuala Lumpur pada 3 Agustus lalu, di depan bar dan gerai mamak, dengan pengawalan petugas lalu lintas setempat.
Bagi industri perfilman Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana lokasi publik di Asia Tenggara semakin dilirik sebagai latar film internasional. Malaysia, dengan arsitektur ikonik seperti Stasiun KL, menawarkan nilai estetika yang kuat. Hal serupa sebenarnya juga dimiliki Indonesia, seperti Stasiun Kota Tua Jakarta atau kawasan bersejarah lainnya, yang berpotensi menarik produksi asing jika didukung regulasi dan infrastruktur yang memadai.
Dengan skala produksi yang besar dan deretan aktor papan atas, Saving Brother Ryan diprediksi akan menjadi salah satu film yang dinanti. Pertanyaannya, akankah film ini mampu menembus pasar Indonesia dan bersaing dengan produksi lokal yang semakin matang? Atau justru akan menjadi inspirasi bagi sineas tanah air untuk lebih berani mengeksplorasi lokasi-lokasi ikonik sebagai latar cerita?



