Pengalaman Jessica Pegula Kunci Kemenangan atas Remaja Iva Jovic di Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Jessica Pegula mengalahkan Iva Jovic 4-6, 6-3, 6-1 untuk lolos ke perempat final Wimbledon kedua kalinya.
- Pegula bangkit setelah kehilangan set pertama dengan tujuh break serve, menunjukkan superioritas pengalaman.
- Kemenangan ini membuka potensi all-American quarterfinal jika Coco Gauff menang atas Belinda Bencic.

Petenis Amerika Serikat, Jessica Pegula, memanfaatkan pengalamannya untuk menundukkan rekan senegaranya yang masih belia, Iva Jovic, dalam pertandingan sengit di lapangan rumput Wimbledon, Minggu (5/7). Unggulan keempat itu menang dengan skor 4-6, 6-3, 6-1, menyamai pencapaian terbaiknya di turnamen Grand Slam tersebut dengan melangkah ke babak perempat final untuk kedua kalinya.
Pertandingan yang berlangsung di Court One itu tidak berjalan mulus bagi Pegula. Ia kehilangan set pertama setelah menghadapi tujuh kali break serve dalam permainan yang kacau. Namun, pemain berusia 32 tahun itu segera meningkatkan level permainannya. Dengan servis yang lebih kuat dan pengurangan kesalahan sendiri, ia memenangkan empat game beruntun setelah kehilangan game pertama di set kedua, dan tidak pernah melihat ke belakang.
Jovic, yang masih berusia 18 tahun dan menjadi unggulan ke-16, mulai terlihat putus asa di set ketiga saat Pegula bergerak cepat menuju kemenangan. Pegula mengakui pertandingan itu sangat berat. "Dia pemain hebat dengan energi dan intensitas tinggi. Saya tidak bisa menemukan servis saya di set pertama meskipun tidak bermain buruk. Untungnya, saya mulai serve lebih baik," ujarnya.
Pegula, yang telah mencapai setidaknya babak perempat final di semua empat Grand Slam, menjadi salah satu dari lima petenis wanita AS yang mencapai 16 besar untuk pertama kalinya sejak 2002. Kini, ia berpotensi menghadapi rekan senegaranya di perempat final jika Coco Gauff berhasil mengalahkan Belinda Bencic dari Swiss pada pertandingan yang sama di hari Minggu.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, pertandingan ini menunjukkan bagaimana pengalaman menjadi faktor penentu di level tertinggi. Pegula, yang kerap dianggap underrated, membuktikan konsistensinya di turnamen besar. Sementara itu, Jovic, meski kalah, menunjukkan potensi besar sebagai masa depan tenis Amerika. Perkembangan tenis putri Indonesia sendiri masih tertinggal, namun prestasi petnis diaspora seperti Aldila Sutjiadi di ganda campuran bisa menjadi inspirasi.
Dengan kemenangan ini, Pegula menjaga asa untuk meraih gelar Grand Slam pertamanya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia melewati hadangan rekan senegaranya dan akhirnya menembus semifinal Wimbledon untuk pertama kalinya?



