Kimi Antonelli: Dari Pangkuan Ayah di Sirkuit Adria Menuju Puncak F1
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli memimpin klasemen F1 2025 dengan enam kemenangan dan unggul 50 poin di paruh musim.
- Perjalanan kariernya dimulai dari simulasi di pangkuan ayahnya, lalu direkrut Mercedes setelah Hamilton hengkang.
- Setelah musim debut yang penuh tekanan, transformasi Antonelli mengejutkan banyak pihak di paddock.

Pada usia 19 tahun, Andrea Kimi Antonelli menjelma menjadi kekuatan dominan di Formula 1 musim ini. Hanya dalam musim keduanya, pembalap asal Italia itu memimpin klasemen dengan keunggulan 50 poin, mengantarkan Mercedes kembali ke puncak setelah era Lewis Hamilton berakhir. Di balik kesuksesan itu, tersimpan kisah panjang tentang seorang anak yang oleh ayahnya sendiri disebut "lahir di garasi" dan mulai mengemudi dari pangkuan sang ayah.
Momen awal yang membekas terjadi di Sirkuit Adria, Italia utara, ketika Kimi masih berusia 10 tahun. Sang ayah, Marco Antonelli, yang kala itu membawa tim Lamborghini-nya, mengajak Kimi mencoba mobil sport di akhir pekan balap. Duduk di pangkuan ayahnya, Kimi mengendalikan kemudi dan girboks sementara Marco mengatur pedal gas dan rem. Saat melaju hingga 320 km/jam di lintasan lurus, Kimi mampu mengendalikan oversteer dengan sempurna. "Saya bilang, 'OK, berhenti, karena ini sudah berbahaya.' Tapi ketika melihat video, anak 10 tahun di pangkuan saya, oversteer, semuanya sempurna, saya berkata: 'Mungkin dia punya sesuatu yang istimewa,'" kenang Marco kepada BBC Sport.
Kecintaan Kimi pada balap sebenarnya sudah terlihat sejak usia tiga tahun, saat ia bermain simulator di rumah. Setiap malam, ia meminta ayahnya untuk mengemudi, bahkan pernah membangunkan sang ayah yang tertidur dengan teriakan, "Ayah, jangan tidur, aku harus mengemudi." Namun, Marco awalnya justru stres melihat hasrat putranya itu. Pengalaman pahitnya sendiri di era 1990-an, ketika peluang menjadi pembalap pabrikan di DTM sirna dua kali karena perubahan manajemen tim, membuatnya takut Kimi mengalami nasib serupa. "Saya sangat menderita karenanya," ujar Marco. "Dan tentu saja, saya takut anak saya mengalami situasi yang sama."
Kekhawatiran itu mulai memudar ketika Kimi menunjukkan bakat luar biasa di ajang karting. Pada usia 11 tahun, namanya sudah diperbincangkan di kalangan motorsport. Mercedes, melalui kepala pramuka akademi pembalapnya, Gwen Lagrue, terbang ke Italia untuk melihat langsung. Yang menarik, saat itu Kimi justru mengendarai kart dengan tenaga lebih kecil dibandingkan rival-rivalnya. Marco sengaja melakukan itu agar Kimi fokus pada peningkatan kemampuan, bukan hasil akhir. "Gwen terkesan dengan kondisi tenaga dan cara Kimi membalap di kategori itu," kata Marco. "Mungkin mereka paham bahwa Kimi adalah anak yang berbeda."
Keputusan besar datang pada awal 2024, ketika Lewis Hamilton mengejutkan dunia dengan pindah ke Ferrari. Toto Wolff, bos Mercedes, langsung menelepon Marco dan bertanya apakah Kimi siap turun ke F1. Padahal, saat itu Kimi belum pernah mengendarai mobil F1 sama sekali. Mercedes kemudian menyiapkan program tes intensif selama 20 hari di berbagai sirkuit. Direktur teknik Andrew Shovlin mengaku terkesan dengan kecepatan Kimi beradaptasi. "Dia butuh beberapa putaran untuk memahami perilaku mobil, lalu langsung mendekati batas," ujarnya. "Kesalahan yang dia buat biasanya karena kurang pengalaman, bukan karena kurang bakat."
Namun, jalan menuju puncak tidak mulus. Debutnya di GP Italia 2024 berakhir dengan kecelakaan di tikungan Parabolica setelah memimpin di lap pertama. Insiden itu meninggalkan tekanan psikologis yang besar. Di pertengahan musim debutnya, performanya menurun drastis, dengan sembilan balapan yang mengecewakan. Wolff mengaku sempat berkata, "Kimi, kamu harus berubah. Ini tidak cukup baik." Namun, Kimi menjawab singkat, "Saya tahu." Perubahan besar terjadi setelah F1 meninggalkan Eropa pada musim gugur 2024. Kimi mulai menemukan ritme dan kepercayaan dirinya kembali.
Musim 2025 menjadi pembuktian. Kimi tampil konsisten mengungguli rekan setimnya, George Russell, dan memimpin klasemen dengan nyaman. Wolff mengaku terkejut dengan transformasi ini. "Tahun lalu, dia tahu apa yang diharapkan. Yang menyenangkan adalah kepercayaan diri yang muncul tanpa merasa berhak," ujarnya. Verstappen, yang juga pernah menjadi remaja pemenang balapan, menilai lompatan Kimi adalah hal yang normal dalam perkembangan seorang pembalap. "Di musim rookie, itu bisa sangat sulit, tapi saat ini dia melakukan pekerjaan yang luar biasa," kata juara dunia empat kali itu.
Di balik kesuksesan Kimi, ada sosok ayah yang selalu menjadi "batu karang" baginya. Marco menanamkan filosofi hidup yang sederhana: "Kita harus menjalani setiap hari dengan terbaik. Bekerja keras setiap hari untuk mencapai tujuan akhir proyek yang kita miliki." Nasihat serupa juga datang dari legenda tenis Roger Federer, yang ditemui Kimi di Wimbledon musim panas ini. Federer menekankan pentingnya fokus pada satu balapan pada satu waktu dan mengendalikan emosi. "Dia bilang, fokuslah pada apa yang bisa kamu kendalikan, dan kendalikan emosi, terutama yang bisa membuatmu melakukan kesalahan," ungkap Kimi.
Bagi Indonesia, kisah Antonelli menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan usia dini dan dukungan keluarga dalam olahraga profesional. Meski Indonesia belum memiliki pembalap di level F1, perkembangan Antonelli menunjukkan bahwa bakat mentah yang diasah dengan benar, ditambah mentalitas kuat, bisa menembus level tertinggi. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru model pembinaan seperti yang dilakukan keluarga Antonelli dan akademi Mercedes? Atau akankah kita terus menjadi penonton di tengah dominasi Eropa di ajang balap paling prestisius ini?



