Rekor Wimbledon yang Tak Terkejar: Federer, Navratilova, dan Dominasi yang Abadi
Baca dalam 60 detik
- Roger Federer memegang rekor gelar tunggal putra terbanyak (8) dan beruntun (5) sejak era Open, sementara Novak Djokovic mengancam dengan 7 gelar.
- Martina Navratilova tak tertandingi di tunggal putri dengan 9 gelar dan 6 beruntun, plus rekor ganda putri (7) dan campuran (4).
- Di kursi roda, Diede de Groot (6 gelar tunggal) dan pasangan Inggris Hewett/Reid (6 ganda) mendominasi, dengan Wang Ziying jadi satu-satunya non-Belanda yang juara.

Wimbledon 2025 memasuki babak final dengan sederet peluang sejarah: Jannik Sinner berpeluang mempertahankan gelar tunggal putra, sementara Novak Djokovic hanya butuh satu kemenangan lagi untuk menyamai rekor Roger Federer. Namun, di balik drama lapangan rumput, sederet rekor legendaris masih kokoh berdiri—sebagian besar mungkin tak akan terkejar dalam waktu dekat.
Sejak era Open dimulai pada 1968, tak ada pemain yang mampu menyaingi dominasi Roger Federer di nomor tunggal putra. Pemain asal Swiss itu mengoleksi delapan gelar juara, termasuk lima gelar beruntun antara 2003 hingga 2007—rekor yang ia bagi dengan Bjorn Borg. Satu-satunya pemain aktif yang mendekati angka tersebut adalah Novak Djokovic, yang telah mengemas tujuh gelar dan berpeluang menyamai Federer jika menjuarai edisi tahun ini. Djokovic sendiri sudah memecahkan rekor Federer untuk jumlah kemenangan terbanyak sepanjang sejarah Wimbledon pada 2025. Sementara itu, Carlos Alcaraz—yang absen karena cedera—baru mengoleksi dua gelar, sama dengan jumlah yang bisa diraih Sinner jika ia sukses mempertahankan mahkotanya.
Di sektor putri, nama Martina Navratilova masih menjadi yang terdepan dengan sembilan gelar tunggal—rekor yang hampir mustahil didekati. Serena Williams, yang kembali bermain tahun ini setelah pensiun, harus menang dua kali lagi untuk menyamai catatan tersebut, namun ia sudah tersingkir di babak pertama. Satu-satunya pemain aktif lain dengan lebih dari satu gelar adalah Venus Williams (5). Navratilova juga memegang rekor ganda putri (7 gelar) dan berbagi rekor ganda campuran (4) dengan Leander Paes. Namun, pasangan tersukses di nomor ganda putri adalah Venus dan Serena Williams dengan enam gelar—rekor yang masih bisa diperpanjang jika keduanya kembali berduet.
Beralih ke nomor ganda putra, Todd Woodbridge dari Australia memegang rekor individu dengan sembilan gelar, enam di antaranya diraih bersama Mark Woodforde—menjadikan mereka pasangan paling produktif di era Open. Sementara itu, di nomor ganda campuran, Navratilova dan Paes sama-sama mengoleksi empat gelar.
Dalam tenis kursi roda yang baru dipertandingkan di Wimbledon sejak 2005, dominasi pemain Belanda sangat terasa. Diede de Groot telah memenangi enam gelar tunggal putri—rekor yang tak terkejar oleh pemain lain. Satu-satunya non-Belanda yang pernah juara adalah Wang Ziying dari China pada 2025. Di nomor ganda putri, Jordanne Whiley dari Inggris memegang rekor individu dengan lima gelar. Sementara itu, pasangan Inggris Alfie Hewett dan Gordon Reid telah mengukir sejarah dengan enam gelar ganda putra kursi roda, selalu berpasangan sejak awal karier mereka.
Bagi penggemar tenis Indonesia, dominasi para legenda ini menjadi pengingat betapa jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk bersaing di level tertinggi. Meski belum ada wakil Indonesia yang menembus babak utama Wimbledon, rekor-rekor ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan bakat muda, terutama di nomor ganda dan kursi roda yang mungkin lebih terjangkau. Pertanyaan besarnya: akankah ada pemain Asia Tenggara yang mampu memecahkan dominasi Eropa dan Amerika dalam satu atau dua dekade ke depan?



