AfD Kukuhkan Diri di Puncak Jajak Pendapat Jerman, Ribuan Warga Turun ke Jalan
Baca dalam 60 detik
- Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) kembali memilih Alice Weidel dan Tino Chrupalla sebagai ketua umum dalam kongres tahunan di Erfurt, di tengah gelombang protes massal.
- Dukungan terhadap AfD mencapai 29 persen dalam survei terbaru, unggul jauh dari koalisi pimpinan Kanselir Friedrich Merz yang hanya 22 persen.
- Kemenangan di pemilu daerah September mendatang di Sachsen-Anhalt dan Mecklenburg-Vorpommern dipandang sebagai batu loncatan menuju kekuasaan nasional.

Ribuan warga Jerman memadati jalan-jalan di kota Erfurt, Thuringia, akhir pekan lalu untuk memprotes kongres tahunan Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang kembali mengukuhkan kepemimpinan radikalnya. Aksi ini menjadi pertanda semakin dalamnya polarisasi politik di negara Eropa itu, di mana AfD kini memuncaki jajak pendapat nasional dengan elektabilitas 29 persen, menggeser koalisi konservatif pimpinan Kanselir Friedrich Merz yang hanya 22 persen.
Polisi memperkirakan sekitar 15.000 demonstran—terdiri dari serikat buruh, kelompok masyarakat sipil, dan partai sayap kiri—berpartisipasi dalam aksi yang berlangsung sejak Sabtu (4/7) hingga Minggu. Mereka duduk berbaris di jalan raya dan akses menuju pusat konvensi, diawasi ketat aparat bersenjata lengkap yang didatangkan dari berbagai daerah. Suasana tegang mewarnai hari pertama kongres, tetapi tidak ada laporan bentrokan berarti.
Di dalam gedung, AfD justru menyambut protes itu sebagai bukti bahwa partai mereka menjadi ancaman nyata bagi kemapanan. Alice Weidel, yang kembali terpilih sebagai ketua bersama Tino Chrupalla, dalam pidato pembukanya mengecam para pengunjuk rasa sebagai "anti-demokrasi" dan menyebut AfD sebagai "kesempatan terakhir menyelamatkan Jerman dari kemunduran". Weidel, mantan analis Goldman Sachs asal Jerman barat, dan Chrupalla, seorang pelukis dan tukang vernis dari Sachsen, memimpin partai yang berdiri lebih dari satu dekade lalu dengan platform nasionalisme dan anti-imigrasi.
Sikap keras partai terhadap imigran kembali ditegaskan. Sesaat sebelum kongres dibuka, akun media sosial AfD memutar lagu bertajuk "Kirim Mereka Pulang". Di area konvensi, kartu pos bergaya vintage bertuliskan "ANDA akan dideportasi" dijual bebas. Bjoern Hoecke, tokoh paling radikal di internal AfD, bahkan menyindir kondisi toilet di jalan tol Jerman sebagai simbol kemunduran bangsa. "Jerman yang hebat adalah tempat di mana kunci apartemen bisa dibiarkan tergantung di luar pintu," ujarnya disambut tepuk tangan.
Kongres ini menjadi pemanasan menjelang pemilihan umum di dua negara bagian timur, Sachsen-Anhalt dan Mecklenburg-Vorpommern, pada September mendatang. AfD menargetkan kemenangan pertama di tingkat negara bagian, yang akan menjadi preseden untuk merebut kekuasaan di tingkat federal. "Kami akan memerintah. Pertama di tingkat regional, lalu nasional," tegas Chrupalla dalam pidatonya yang menekankan persatuan partai. Meski terpilih tanpa lawan, perolehan suara Chrupalla hanya 70 persen, anjlok dari 81 persen dua tahun lalu—sinyal adanya keretakan internal.
Di luar retorika, AfD juga mendorong perubahan haluan kebijakan luar negeri. Chrupalla, yang dikenal sebagai pendukung penghentian bantuan militer ke Ukraina, menyerukan normalisasi hubungan Berlin-Moskow yang memburuk akibat perang. Langkah ini kontras dengan sikap pemerintah saat ini yang memperkuat dukungan ke Kyiv.
Partai-partai arus utama di Jerman masih mempertahankan "firewall"—kebijakan tidak bekerja sama dengan AfD dalam koalisi apa pun. Namun, dengan dukungan yang terus menguat, terutama di wilayah bekas Jerman Timur yang dilanda kekecewaan terhadap sistem partai tradisional, tekanan terhadap "firewall" itu semakin besar. Apakah strategi isolasi masih relevan ketika hampir sepertiga pemilih Jerman mendukung partai yang oleh lawan politiknya dituduh mengancam tatanan konstitusi?



