Trump Kecam Sekutu NATO di KTT Ankara, Sengketa Iran dan Greenland Panas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap sekutu NATO, terutama Spanyol dan Denmark, dalam KTT di Ankara, menyoroti ketidaksepakatan soal Iran dan Greenland.
- Trump mendesak anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan, sementara aliansi melaporkan kenaikan 11% pada 2026, dan mengumumkan kontrak senjata baru untuk meredam ketegangan.
- Pertemuan juga membahas potensi penjualan jet F-35 ke Turki dan upaya mediasi gencatan senjata Ukraina-Rusia, dengan Trump bertemu Zelenskyy dan berkomunikasi dengan Putin.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengecam sejumlah sekutu NATO dalam KTT yang berlangsung di Ankara, Turki, pada Rabu (8/7/2026), dengan isu Iran dan Greenland kembali memanaskan hubungan transatlantik. Dalam pernyataan yang disampaikan di hadapan para pemimpin aliansi, Trump menuding Spanyol sebagai “mitra yang buruk” dan mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Madrid, sambil kembali menegaskan ambisinya menguasai Greenland, wilayah otonom Denmark.
KTT tahun ini berlangsung di tengah ketegangan tinggi setelah eskalasi militer antara AS dan Iran pada malam sebelumnya. Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran “sudah berakhir” dan melontarkan kritik tajam kepada anggota NATO yang tidak mendukung kampanye militernya terhadap Teheran. “Saya sangat kecewa dengan NATO … karena sikap mereka soal Greenland dan karena mereka tidak mau membantu kami menghadapi sponsor teror nomor satu, yaitu Iran,” ujar Trump kepada wartawan di Ankara.
Spanyol menjadi sasaran utama kemarahan Trump. Ia menyebut Madrid sebagai “penyebab yang sia-sia” dan memerintahkan Menteri Keuangan Scott Bessent untuk menghentikan semua kerja sama dagang dengan Spanyol. Serangan ini juga menyentuh isu belanja pertahanan Spanyol yang dinilai belum memenuhi target aliansi. Sementara itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen kembali menegaskan bahwa “Greenland tidak untuk dijual,” menolak pernyataan Trump yang menganggap wilayah itu penting bagi keamanan global.
Di tengah ketegangan, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berupaya meredakan situasi dengan memuji peningkatan belanja pertahanan Eropa. “Kemarin adalah kesuksesan besar,” kata Rutte, seraya menyebut aliansi mulai “mengambil tanggung jawab lebih” untuk pertahanan benua mereka sendiri. Ia menambahkan bahwa langkah ini merupakan “kemenangan besar bagi presiden AS.” Data aliansi menunjukkan belanja pertahanan inti Eropa naik 11% pada 2026 menjadi US$634 miliar, didorong oleh kontrak senjata baru senilai puluhan miliar dolar yang diumumkan sehari sebelumnya.
Isu Ukraina juga menjadi agenda utama. Trump mengaku telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum terbang ke Ankara dan berencana “menindaklanjuti” setelah bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. “Saya pikir kedua belah pihak ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump, meskipun negosiasi masih menemui jalan buntu. Eropa dan Kanada berjanji mempertahankan bantuan militer ke Ukraina sebesar €70 miliar per tahun hingga 2027.
Di luar kritik pedasnya terhadap sekutu Eropa, Trump membawa kabar positif bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia menyatakan akan mempertimbangkan penjualan jet tempur F-35 ke Ankara dan melonggarkan sanksi yang membebani proyek pertahanan Turki. Ankara sebelumnya dikeluarkan dari program F-35 pada 2019 setelah membeli sistem rudal S-400 dari Rusia. Langkah ini dipandang sebagai upaya Trump memperkuat hubungan bilateral dengan Turki, yang selama ini menjadi mitra penting namun kerap bersitegang.
KTT Ankara juga diwarnai pertemuan Trump dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang tengah berupaya membangun kembali citra internasional Suriah pasca-perang saudara. Pertemuan itu terjadi sehari setelah Sharaa menjadi tuan rumah kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang dibayangi serangan bom kembar di Damaskus yang melukai 18 orang. Dengan berbagai isu yang mengemuka, KTT NATO kali ini menjadi ujian bagi soliditas aliansi di bawah kepemimpinan Trump yang tidak terduga. Akankah sekutu Eropa mampu mempertahankan kesatuan di tengah tekanan Washington?



