Dua Ibu Berusia 50-an Buktikan Usia Bukan Penghalang di Hyrox World Championships
Baca dalam 60 detik
- Margaret Lim (51) dan Seah Seow Ping (54) dari Singapura berlaga di Hyrox World Championships Stockholm setelah finis kedua di kualifikasi lokal.
- Keduanya memulai latihan fungsional untuk menjaga kesehatan di usia paruh baya, bukan untuk menjadi atlet profesional.
- Kisah mereka menantang stereotip tentang kemampuan fisik perempuan di atas 50 tahun dan menginspirasi banyak orang.

Dua ibu bekerja asal Singapura, Margaret Lim (51) dan Seah Seow Ping (54), membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk berprestasi di panggung internasional. Mereka baru saja berlaga di Puma Hyrox World Championships di Stockholm, Swedia, pada Juni lalu, dalam kategori Womenโs Pro Doubles untuk kelompok usia 50-54 tahun.
Hyrox dikenal sebagai salah satu lomba kebugaran fungsional paling berat di dunia, mengombinasikan lari sejauh 8 kilometer dengan delapan stasiun latihan yang menguras tenaga. Lim dan Seah harus mendorong sled seberat 152 kg sejauh 50 meter, menarik sled 103 kg, melakukan lunge dengan karung pasir 20 kg di pundak, dan 100 repetisi wall ball 6 kg. Beban yang digunakan setara dengan kategori pria terbuka.
Keduanya lolos ke level dunia setelah meraih posisi kedua di AIA Hyrox Singapura pada November 2025. Mereka bersaing dengan atlet dari Amerika, Asia-Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah, yang sebagian besar jauh lebih muda. "Kami mungkin bukan yang tercepat atau terkuat, tapi kami tidak menyerah," ujar Lim. Seah menambahkan, "Banyak perempuan meremehkan kemampuan mereka di usia 50-an. Saya tidak pernah menganggap diri saya atlet, jadi lolos ke kejuaraan dunia terasa seperti mimpi."
Perjalanan mereka dimulai dari keprihatinan akan kesehatan. Seah memiliki masalah lutut dan riwayat diabetes gestasional, sementara Lim terkejut saat pemeriksaan kesehatan 2024 menunjukkan massa tulangnya rendah meski aktif berolahraga. "Saya sadar harus beralih dari sekadar aktif menjadi sengaja meningkatkan kepadatan otot dan tulang," kata Lim. Mereka bertemu di pusat kebugaran F45 Novena dan memutuskan berpasangan karena usia dan pola pikir yang sama.
Latihan mereka padat: Lim berlatih 6-8 jam per minggu, Seah sekitar 9 jam, kebanyakan pagi hari sebelum bekerja. Mereka berlatih terpisah karena jadwal sibuk, bertemu akhir pekan untuk simulasi "mini Hyrox". Seah mengaku sering dilanda keraguan, tetapi rasa tanggung jawab terhadap pasangan dan keinginan menjadi teladan bagi anak-anaknya membuatnya bertahan. "Kami bukan superwomenโkami tetap lelah dan ragu seperti orang lain," katanya.
Keduanya juga menghadapi skeptisisme dari lingkungan sekitar. Seah sering mendengar komentar seperti, "Kamu sudah tidak muda lagi, kalau patah tulang akan lama sembuh." Namun, seiring waktu, para skeptis berubah menjadi pendukung setelah melihat konsistensi dan hasil latihan mereka. Ibunda Seah yang berusia 78 tahun, kata Seah sambil tertawa, masih tetap skeptis dan menganggapnya terlalu keras.
Kunci sukses mereka adalah strategi pembagian beban kerja berdasarkan kekuatan masing-masing. Misalnya, Seah lebih banyak mengambil alih stasiun SkiErg karena pukulannya efisien, sementara Lim fokus pada wall ball saat Seah cedera bahu. "Kami saling menjaga selama lomba, kadang tanpa bicara," ujar Seah. Kepercayaan ini juga mendorong mereka untuk tetap disiplin berlatih meski sibuk.
Bagi Lim, pencapaian ini adalah awal dari "babak bernama Menua dengan Baik". Ia kini menjadi instruktur pilates yang melayani lansia dan pasien rehabilitasi. Seah menekankan pentingnya langkah kecil yang konsisten: "Saya ingin terus belajar, mencoba hal baru, dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan selama mungkin."
Pesan mereka untuk perempuan di mana pun: jangan biarkan usia membatasi apa yang bisa dilakukan. "Tunjukkan diri secara konsisten, jangan lakukan sendiri, dapatkan bimbingan yang tepat, dan bergabunglah dengan komunitas. Kadang satu langkah kecil bisa membawa kita ke hal yang tak pernah kita bayangkan," kata Seah.
Kisah Lim dan Seah menjadi pengingat bahwa penurunan fisik di usia paruh baya lebih banyak disebabkan oleh kurangnya gerak daripada usia itu sendiri. "Beri tubuh stimulus yang tepat, ia akan merespons," kata Lim. Pertanyaannya kini: akankah lebih banyak perempuan Indonesia berani menantang batasan usia dan mengikuti jejak mereka?



