Sprint Singkat vs Endurance: Studi Baru Ungkap Protein Pelindung Jantung yang Dilepaskan Tubuh
Baca dalam 60 detik
- Latihan interval sprint 30 detik memicu perubahan lebih dari 200 metabolit dan meningkatkan protein pelindung jantung dalam darah secara instan.
- Dari 33 protein terkait penurunan risiko penyakit kardiometabolik, sprint memengaruhi 32 protein, sementara latihan sedang hanya 3 protein.
- Para ahli menekankan bahwa hasil ini tidak menggantikan manfaat olahraga rutin, namun membuka peluang desain program latihan yang lebih efisien.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Cell Reports Medicine mengungkap bahwa latihan intensitas tinggi seperti sprint interval mampu memicu pelepasan protein pelindung jantung dalam aliran darah secara lebih signifikan dibandingkan latihan moderat seperti bersepeda santai. Temuan ini memberikan penjelasan molekuler mengapa olahraga singkat namun berat kerap dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.
Dalam uji klinis yang melibatkan 19 pria muda sehat, peneliti membandingkan respons protein darah setelah 90 menit bersepeda moderat dengan enam set sprint all-out selama 30 detik. Hasilnya, sprint memicu perubahan pada lebih dari 200 metabolit—molekul kecil hasil metabolisme—serta meningkatkan kadar protein yang berperan dalam pertumbuhan pembuluh darah, remodeling jaringan, dan sinyal hormonal. Ketika data ini disilangkan dengan catatan medis lebih dari 53.000 partisipan UK Biobank, banyak protein yang dipicu sprint justru berkorelasi langsung dengan risiko penyakit jantung dan metabolik yang lebih rendah.
Paul Cohen, peneliti senior dari Rockefeller University, menegaskan bahwa pemahaman tentang respons metabolik terhadap intensitas latihan yang berbeda sangat penting untuk merancang program olahraga yang efektif. "Kedua bentuk latihan ini populer dan digunakan luas, tetapi mekanisme molekuler di balik manfaatnya belum sepenuhnya jelas," ujarnya. Luke Olsen, penulis pertama studi, menambahkan bahwa olahraga memicu komunikasi antarorgan melalui protein dan metabolit yang dilepaskan ke sirkulasi darah, misalnya otot yang berkontraksi memberi sinyal ke hati untuk melepas energi.
Yang menarik, dari 33 protein yang diketahui terkait dengan penurunan risiko obesitas dan diabetes, sprint berhasil mengubah 32 protein, sementara latihan moderat hanya mengubah 3 protein. Ini menunjukkan bahwa intensitas latihan memainkan peran kunci dalam memicu respons protektif tubuh. Namun, para ahli yang tidak terlibat dalam studi ini mengingatkan agar temuan ini tidak disalahartikan sebagai pengganti olahraga rutin.
Socrates Kakoulides, kardiolog dari Baptist Health South Florida, menyebut temuan ini "menakjubkan" karena menunjukkan seberapa cepat tubuh merespons intensitas latihan. Namun, ia menekankan bahwa latihan moderat tetap sangat berharga. "Tidak perlu sprint untuk mendapatkan manfaat; jalan cepat atau bersepeda santai pun sudah baik," katanya. Joshua Scott dari Cedars-Sinai menambahkan bahwa pertanyaan besarnya adalah apakah perubahan molekuler ini benar-benar berdampak pada kesehatan jangka panjang. "Kita perlu studi lebih lanjut pada populasi yang lebih luas," ujarnya.
Bagi masyarakat Indonesia yang semakin sadar akan pentingnya olahraga, temuan ini bisa menjadi pertimbangan untuk memasukkan interval intensitas tinggi dalam rutinitas, misalnya dengan menambah kecepatan saat berjalan kaki atau bersepeda. Namun, konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan, terutama bagi pemula atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Ke depan, penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan program latihan yang lebih personal dan efisien—mungkin hanya butuh beberapa menit sprint untuk mendapatkan manfaat yang setara dengan latihan lebih lama. Apakah ini akan mengubah paradigma kebugaran global? Waktu yang akan menjawab.



