Tarik Toko dari Rakuten: Perusahaan Jepang Tolak Bisnis dengan Pemasok Drone Militer
Baca dalam 60 detik
- Cataloghouse, penerbit katalog belanja asal Jepang, menutup tokonya di Rakuten Ichiba sebagai protes atas rencana kerja sama Rakuten dengan Helsing, perusahaan AI pertahanan Jerman.
- Langkah ini mencerminkan ketegangan antara etika bisnis dan industri pertahanan, serta menguji posisi perusahaan dalam rantai pasok teknologi militer.
- Keputusan tersebut dapat memicu diskusi lebih luas tentang tanggung jawab korporasi dan keterlibatan bisnis dalam sektor pertahanan, terutama di kawasan Asia.

Keputusan berani diambil oleh penerbit katalog belanja asal Jepang, Cataloghouse Ltd., yang secara resmi menarik tokonya dari platform e-commerce Rakuten Ichiba. Langkah ini merupakan bentuk protes keras terhadap rencana Rakuten Group untuk bermitra dengan Helsing, perusahaan rintisan asal Jerman yang mengembangkan drone dengan kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan militer.
Cataloghouse, yang dikenal konsisten dengan sikap anti-perang, menilai kerja sama tersebut bertentangan dengan filosofi perusahaan. Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan komitmen terhadap Pasal 9 Konstitusi Jepang yang menolak perang sebagai hak berdaulat negara. Toko resmi mereka, Tsuhan Seikatsu, telah beroperasi di Rakuten sejak Maret tahun ini, namun kini tutup setelah hanya berjalan beberapa bulan.
Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi. Bagi Cataloghouse, kehilangan akses ke salah satu pasar online terbesar di Jepang adalah risiko besar. Namun, mereka menilai bahwa prinsip lebih penting daripada keuntungan komersial. Seperti yang pernah mereka nyatakan, "Berbelanja akan menjadi hal terakhir yang dipikirkan orang jika perang pecah." Sikap ini menunjukkan bahwa perusahaan siap mengambil langkah radikal demi mempertahankan nilai-nilai yang diyakininya.
Di sisi lain, Rakuten tampaknya melangkah lebih jauh ke sektor pertahanan. Kerja sama dengan Helsing, yang didirikan pada 2021, akan memungkinkan Rakuten memasok drone otonom ke Kementerian Pertahanan Jepang. Helsing dikenal dengan teknologi AI yang memungkinkan drone beroperasi secara mandiri, bahkan memiliki kemampuan ofensif. Ini adalah langkah strategis yang sejalan dengan meningkatnya belanja pertahanan Jepang di tengah ketegangan geopolitik regional.
Konteks ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di tengah meningkatnya modernisasi militer di kawasan, keputusan Cataloghouse menjadi pengingat bahwa sektor bisnis tidak bisa lepas dari dilema etika. Perusahaan-perusahaan di Indonesia, terutama yang bergerak di bidang teknologi dan e-commerce, mungkin menghadapi tekanan serupa jika mereka terlibat dalam rantai pasok pertahanan. Apakah mereka akan mengikuti jejak Cataloghouse atau justru melihat peluang bisnis di balik kerja sama semacam ini?
Para analis menilai bahwa langkah Cataloghouse adalah sinyal bahwa konsumen dan pelaku bisnis semakin peduli pada isu etika dan dampak sosial dari operasi perusahaan. Ini sejalan dengan tren global di mana investor dan publik mulai mempertanyakan keterlibatan perusahaan dalam industri yang berpotensi melanggar hak asasi manusia atau memperpanjang konflik. Di Jepang, sentimen anti-perang masih kuat, terutama mengingat sejarah negara tersebut.
Rakuten sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait penarikan diri Cataloghouse. Namun, keputusan ini bisa menjadi preseden bagi perusahaan lain yang memiliki prinsip serupa. Pertanyaannya, apakah akan ada lebih banyak perusahaan yang berani mengambil sikap seperti Cataloghouse? Atau justru sebaliknya, semakin banyak yang melihat kerja sama dengan industri pertahanan sebagai peluang pertumbuhan? Hanya waktu yang akan menjawab, namun langkah Cataloghouse telah membuka diskusi yang lebih luas tentang peran bisnis dalam isu perdamaian dan keamanan.



