Ibu Hayden Panettiere Sesalkan Kepergian Putrinya: 'Kami Lama Ingin Jauhkan Brian Hickerson'
Baca dalam 60 detik
- Lesley Vogel, ibu Hayden Panettiere, mengungkapkan kekhawatirannya yang sudah lama terhadap Brian Hickerson, yang hadir saat aktris itu meninggal.
- Hayden Panettiere, bintang serial Heroes, ditemukan tak bernyawa di apartemennya di Carolina Selatan pada 16 Agustus 2026, dengan dugaan overdosis.
- Keluarga menyoroti tekanan industri hiburan yang dialami aktris cilik, sekaligus mengenang hubungan rumit antara Hayden dan ibunya yang juga manajernya.

Lesley Vogel, ibu dari mendiang aktris Hayden Panettiere, angkat bicara untuk pertama kalinya setelah kematian putrinya yang mengejutkan publik. Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, ia mengungkapkan bahwa dirinya dan ayah Hayden, Alan Panettiere, telah lama berusaha menjauhkan Brian Hickerson, kekasih yang sering putus-nyambung dengan Hayden, dari kehidupan sang aktris. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan, mengingat Brian pernah dipenjara terkait kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan Hayden.
Hayden Panettiere, yang dikenal luas melalui perannya sebagai Claire Bennet dalam serial Heroes, ditemukan meninggal dunia di sebuah apartemen di Carolina Selatan pada Minggu, 16 Agustus 2026, di usia 36 tahun. Brian Hickerson dan saudaranya, Zach Hickerson, disebut berada di lokasi saat kejadian. Rekaman audio dari layanan darurat yang bocor ke publik menyebutkan dugaan overdosis dan henti jantung sebagai penyebab awal kematian. Hingga berita ini diturunkan, penyebab resmi masih menunggu hasil otopsi.
Lesley, yang juga pernah menjadi manajer karier Hayden saat ia masih anak-anak, menuding Brian telah "memfasilitasi" kebiasaan buruk Hayden selama bertahun-tahun. "Orang yang selama ini kami coba jauhkan dari hidupnya justru berada di sisinya saat ia meninggal," ujarnya. "Brian telah berulang kali memanjakan Hayden, dan itulah mengapa ayahnya serta saya selalu khawatir." Pernyataan ini memicu pertanyaan besar tentang dinamika hubungan terakhir Hayden, yang selama ini dikenal publik memiliki riwayat penyalahgunaan zat dan alkohol.
Di tengah duka, Lesley juga menyoroti betapa kerasnya industri hiburan bagi para bintang cilik. "Hayden adalah pribadi yang luar biasa berbakat, tetapi tumbuh di industri ini adalah perjuangan berat. Tidak jarang mereka tersesat," tuturnya. Ia menyesali bahwa Hayden "kehilangan arah" dan berharap putrinya kini telah menemukan kedamaian bersama kakaknya, Jansen Panettiere, yang meninggal mendadak pada 2023 di usia 28 tahun. "Saya merasa ia kini bersama kakaknya dan mereka berdua tenang," tambahnya.
Kisah hubungan Hayden dengan ibunya memang tidak pernah sederhana. Dalam wawancara dengan Jay Shetty pada Mei lalu, Hayden mengungkapkan bagaimana batas antara peran ibu dan manajer menjadi kabur. "Semuanya serba bisnis. Saya menjadi tempat curhat, asisten, terapis, dan sandaran, tetapi bukan anaknya," kenang Hayden. Ketika berusia 19 tahun dan tengah syuting Heroes, Hayden memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan ibunya demi memperbaiki hubungan personal mereka. "Saya bilang, 'Aku tidak mau bekerja sama lagi. Aku hanya ingin kamu menjadi ibuku.' Jawabannya, 'Kamu berhutang padaku,'" cerita Hayden. Ia kemudian merasa kecewa karena ibunya lebih mementingkan uang daripada hubungan mereka.
Meski renggang dengan ibunya, Hayden tetap dekat dengan sang ayah. Alan Panettiere-lah yang pertama kali mengumumkan kabar duka melalui pernyataan resmi. "Dengan kesedihan yang mendalam, kami berbagi kepergian tragis Hayden tercinta. Ia adalah cahaya yang luar biasa dan kekuatan alam yang membawa cinta serta kebahagiaan bagi semua yang mengenalnya, dan bagi jutaan orang yang menontonnya di layar," tulisnya.
Kepergian Hayden Panettiere menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka kembali diskusi tentang tekanan psikologis yang dihadapi para aktor cilik di Hollywood. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana anak-anak yang terjun ke dunia hiburan sejak dini rentan mengalami masalah kesehatan mental akibat tuntutan industri dan relasi kuasa yang tidak sehat. Pertanyaannya, apakah industri hiburan global, termasuk Indonesia, sudah cukup melindungi para bintang mudanya dari jerat eksploitasi dan kecanduan? Atau akankah tragedi seperti ini terus berulang?



