SK Hynix Siapkan Biaya Underwriting 0,5% untuk IPO di AS, Target Dana Rp470 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Produsen chip asal Korea Selatan itu akan membayar 0,5% dari dana IPO kepada bank penjamin emisi, dengan potensi insentif tambahan.
- SK Hynix menargetkan penerbitan hingga 2,5% saham beredar dalam bentuk ADR di Nasdaq, dengan proses book building mulai 6 Juli.
- IPO ini menjadi salah satu yang terbesar secara global, memanfaatkan euforia investor terhadap saham AI, dan berimplikasi pada rantai pasok semikonduktor Indonesia.

SK Hynix, produsen chip memori terbesar kedua di dunia, dikabarkan akan membayar biaya underwriting sebesar 0,5% dari total dana yang dihimpun dalam penawaran saham perdana (IPO) di bursa Amerika Serikat. Langkah ini menjadi sinyal keseriusan perusahaan asal Korea Selatan itu untuk memanfaatkan geliat pasar modal global yang tengah demam saham kecerdasan buatan (AI).
Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber terdekat, SK Hynix telah memberi isyarat akan menerbitkan hingga 2,5% dari total saham beredarnya dalam bentuk American Depositary Receipt (ADR) di Nasdaq. Meski demikian, jumlah pasti saham yang dilepas masih bisa berubah tergantung respons investor. Selain biaya pokok, perusahaan juga disebut-sebut akan memberikan insentif diskresioner kepada bank-bank penjamin emisi jika permintaan melampaui target.
Proses book building ADR dijadwalkan dimulai pada 6 Juli, dengan harga final ditentukan pada 9 Juli, sehari sebelum debut resmi di bursa teknologi AS tersebut. SK Hynix menargetkan dana segar hingga US$29,4 miliar atau setara Rp470 triliun, menjadikannya salah satu IPO terbesar di dunia tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai pemasok utama Nvidia, raksasa chip AI yang sahamnya melesat dalam setahun terakhir.
Konsorsium bank investasi global yang memimpin transaksi ini meliputi Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan, dan Bank of America. Hingga berita ini diturunkan, SK Hynix dan Citigroup menolak berkomentar, sementara tiga bank lainnya belum memberikan respons.
Bagi Indonesia, langkah SK Hynix memiliki implikasi strategis. Sebagai pemasok utama Nvidia, SK Hynix memproduksi memori berkecepatan tinggi (HBM) yang menjadi komponen krusial dalam pusat data AI. Indonesia yang tengah gencar membangun ekosistem digital dan pusat data nasional sangat bergantung pada pasokan chip ini. Keberhasilan IPO SK Hynix dapat memperkuat rantai pasok global semikonduktor, namun juga berpotensi meningkatkan tekanan permintaan yang sudah tinggi.
Analis menilai bahwa euforia saham AI masih akan berlanjut, dan SK Hynix berada di posisi tepat untuk menuai keuntungan. Namun, risiko perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik antara AS dan China tetap menjadi bayang-bayang. Pertanyaannya, akankah investor global tetap antusias membeli saham SK Hynix di tengah ketidakpastian suku bunga tinggi?



