Suara Hutan Kamboja: Teknologi Tersembunyi Menguak Kehidupan Satwa Langka
Baca dalam 60 detik
- Konservasionis di Pegunungan Cardamom, Kamboja, menggunakan kamera tersembunyi, mikrofon, dan kecerdasan buatan untuk memantau spesies langka seperti owa dan gajah.
- Data yang terkumpul menunjukkan lebih dari 100 spesies menghuni kawasan ini, dengan hampir dua lusin berstatus rentan atau terancam punah, memperkuat argumen perlindungan hutan.
- Meskipun perburuan dan perambahan berkurang, proyek infrastruktur seperti bendungan masih mengancam hutan, yang kehilangan hampir 7.000 hektare tutupan pohon dalam lima tahun terakhir.

Di balik rimbunnya kanopi hutan hujan Kamboja, suara owa yang melengking bukan sekadar nyanyian—ia adalah bukti bahwa ekosistem terakhir yang tersisa masih mampu menopang kehidupan. Dengan memadukan kamera jebak, perekam bioakustik, dan kecerdasan buatan, para konservasionis kini mampu mengungkap spesies-spesies yang selama ini sulit terlihat, sekaligus memperkuat upaya perlindungan di kawasan yang kehilangan sepertiga tutupan hutannya dalam seperempat abad terakhir.
Pegunungan Cardamom di barat daya Kamboja, yang membentang lebih dari satu juta hektare, dianggap sebagai salah satu hutan hujan terpenting di Asia Tenggara. Namun, selama puluhan tahun, kawasan ini tergerus oleh deforestasi masif dan perburuan liar. Meskipun perlindungan yang diperketat berhasil memperlambat laju kerusakan, proyek infrastruktur—terutama pembangunan bendungan—masih menjadi ancaman serius. Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, kawasan lindung Cardamom Tengah kehilangan hampir 7.000 hektare tutupan pohon.
Pada 2024, Conservation International (CI) merilis hasil survei kamera jebak sistematis pertama di wilayah Cardamom Tengah. Sebanyak 150 perangkat yang dipasang secara berkala berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 spesies, dengan hampir dua lusin di antaranya berstatus rentan atau terancam punah. Survei ini akan diulang pada akhir tahun ini, dilengkapi dengan pemasangan kamera yang lebih terarah di area-area yang sering dilalui satwa. "Ini adalah bukti nyata bahwa kita melestarikan spesies yang sangat unik di lanskap kita," ujar Ratha Sor, manajer biodiversitas dan sains CI.
Salah satu tantangan terbesar adalah memantau owa, primata yang hidup di pucuk pohon dan bergerak sangat cepat. Kamera jebak konvensional jarang berhasil menangkap gambar mereka. Untuk mengatasinya, CI beralih ke monitor bioakustik yang dipadukan dengan AI. Tim peneliti menghabiskan tiga bulan melatih program pembelajaran mesin untuk mengenali panggilan owa dari puluhan perekam yang dipasang di sepuluh lokasi. Dalam enam minggu, perangkat tersebut merekam hampir 800 panggilan. Setengah dari data itu digunakan untuk melatih AI membedakan suara owa dari suara lain. Ke depannya, AI diharapkan mampu membedakan panggilan jantan dan betina, bahkan individu yang berbeda.
Keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Pan Sok, anggota suku Chong yang telah puluhan tahun tinggal di sekitar hutan, membantu tim CI menentukan lokasi pemasangan perangkat. Saat meninjau rekaman kamera, ia mengaku bangga melihat monyet ekor babi, dhole, dan gajah—spesies favoritnya. "Usaha saya tidak sia-sia," katanya. Namun, pertemuan dengan satwa besar seperti gajah masih sangat langka. Seorang ranger mengaku tidak pernah melihat gajah sekali pun selama 12 tahun berpatroli.
Meskipun perburuan liar dilaporkan menurun, ancaman dari proyek infrastruktur tetap mengkhawatirkan. Ratha Sor enggan mengomentari secara gamblang proyek-proyek yang didukung pemerintah yang menjadi penyebab deforestasi. "Itu di luar kendali kami," ujarnya. Namun, ia berharap bukti kekayaan hayati yang terkumpul dapat mendorong perlindungan yang lebih kuat. "Ini adalah dorongan untuk melindungi salah satu hutan hijau yang masih perawan di Pegunungan Cardamom."
Bagi Indonesia, pengalaman Kamboja ini relevan mengingat tantangan serupa di hutan-hutan Sumatra dan Kalimantan. Teknologi bioakustik dan AI yang digunakan di Cardamom dapat diadopsi untuk memantau satwa langka seperti orangutan dan harimau Sumatra, terutama di area yang sulit dijangkau. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan lembaga konservasi di Indonesia mengalokasikan sumber daya yang memadai untuk teknologi semacam ini di tengah tekanan deforestasi yang terus berlanjut?



