Sabalenka vs Osaka: Rivalitas Dua Petenis Grand Slam yang Kini Beradu di Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka dan Naomi Osaka akan bertemu di babak keempat Wimbledon, memperpanjang rivalitas yang dimulai sejak 2018.
- Keduanya sama-sama memiliki empat gelar Grand Slam, namun perjalanan karier mereka berbeda drastis: Osaka sukses lebih awal, Sabalenka baru menonjol belakangan.
- Pertandingan ini menjadi ujian bagi keduanya di permukaan rumput, yang belum pernah memberikan gelar WTA bagi mereka.

Aryna Sabalenka dan Naomi Osaka akan kembali berhadapan di babak keempat Wimbledon, Minggu (9/7), dalam laga yang menyatukan dua petenis dengan empat gelar Grand Slam dan perjalanan karier yang kontras. Pertemuan ini menjadi yang keempat dalam tiga bulan terakhir setelah mereka nyaris delapan tahun tidak bertemu sejak pertama kali beradu di US Open 2018.
Keduanya sama-sama lahir pada 1998, sama-sama mengandalkan pukulan keras, dan sama-sama pernah menjadi nomor satu dunia. Namun, Osaka meraih gelar mayor pertamanya lebih cepat—tepatnya lima hari setelah mengalahkan Sabalenka di New York—dan mengumpulkan tiga trofi Grand Slam dalam 28 bulan berikutnya. Sementara itu, Sabalenka harus menunggu hingga 2023 untuk memenangkan Australian Open, gelar pertamanya.
Osaka sempat vakum karena masalah kesehatan mental dan cuti melahirkan, sedangkan Sabalenka justru menemukan puncak performa di periode yang sama. "Kami memiliki cerita yang berbeda," ujar Sabalenka usai mengalahkan Jelena Ostapenko di babak ketiga. "Dia melewati hal yang berbeda, saya juga. Saya rasa kami adalah pemain dan pribadi yang sangat berbeda sekarang."
Pertandingan di Wimbledon ini menjadi ujian khusus karena rumput adalah permukaan yang paling sulit bagi keduanya. Sabalenka, yang kini menjadi unggulan teratas, tampil solid dengan hanya enam kesalahan sendiri saat mengalahkan Ostapenko. Sementara itu, Osaka menunjukkan peningkatan signifikan dengan kecepatan servis pertama rata-rata 109 mph, naik dari 105 mph tahun lalu. "Saya tidak lagi takut bergerak di rumput," kata Osaka. "Butuh waktu lama untuk nyaman, tapi saya sudah sampai di titik itu."
Bagi penggemar tenis Indonesia, rivalitas ini menarik karena menunjukkan bagaimana dua atlet dengan latar belakang berbeda—Osaka yang blasteran Jepang-Haiti dan Sabalenka dari Belarus—bisa mendominasi panggung yang sama. Pertandingan ini juga menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu linier; terkadang butuh waktu dan jalan yang berliku.
Laga nanti tidak hanya menentukan siapa yang melaju ke perempat final, tetapi juga siapa yang mampu mematahkan kutukan rumput. Apakah Sabalenka akan melanjutkan dominasinya, atau justru Osaka yang bangkit setelah hampir satu dekade? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau Wimbledon.



