Kematian Fin Tarling: Bos Tim Balap Sebut Kecelakaan di Balap Kecil Bisa Dicegah
Baca dalam 60 detik
- Pembalap muda asal Inggris, Fin Tarling, tewas setelah bertabrakan dengan van di Volta a Portugal, memicu kritik tajam terhadap standar keselamatan balap sepeda.
- Jonathan Vaughters, bos tim EF Education-EasyPost, menilai UCI gagal mengatur lalu lintas di balap kecil dan lebih fokus pada aturan sepele seperti lebar stang.
- Kematian ini menyoroti kesenjangan keselamatan antara ajang besar seperti Tour de France dan balap kecil yang menggunakan pengaman jalan bergulir, memicu pertanyaan tentang masa depan kalender balap.

Kematian pembalap muda asal Inggris, Fin Tarling, dalam kecelakaan di Volta a Portugal Jumat lalu memicu kritik tajam dari bos tim balap sepeda profesional, Jonathan Vaughters. Menurutnya, insiden yang merenggut nyawa atlet berusia 19 tahun itu seharusnya bisa dicegah jika otoritas balap, UCI, lebih serius dalam mengatur keamanan lintasan, terutama pada ajang-ajang kecil yang kerap mengabaikan pengendalian lalu lintas.
Tarling, yang merupakan adik dari pembalap Netcompany-Ineos, Josh Tarling, tewas setelah bertabrakan dengan sebuah van yang masuk ke jalur balap yang seharusnya tertutup. Kejadian ini menjadi yang terbaru dari serangkaian kecelakaan fatal di dunia balap sepeda, dengan enam pembalap tewas dalam tiga tahun terakhir. Vaughters, yang juga pendiri tim EF Education-EasyPost, menyayangkan sikap sejumlah pihak yang menganggap kecelakaan seperti ini sebagai risiko yang tak terhindarkan dari olahraga di jalan terbuka.
โSaya tidak suka dengan sentimen dari orang-orang berpengaruh di dunia balap yang berkata, โMemang mau bagaimana lagi? Kadang mobil masuk ke jalan, ini bagian dari olahraga di jalan terbuka.โ Itu tidak benar. Ini bisa dicegah,โ tegas Vaughters kepada BBC Sport. Ia menambahkan bahwa sejak awal kariernya, ia sudah menyaksikan terlalu banyak rekan yang kehilangan nyawa di lintasan.
Kritik Vaughters terutama ditujukan kepada UCI, badan pengatur balap sepeda internasional. Menurutnya, UCI terlalu fokus pada aturan-aturan teknis yang dianggap remeh, seperti pembatasan lebar stang, sementara gagal memastikan keselamatan dasar seperti memisahkan pembalap dari kendaraan lain. โSaya lelah dengan otoritas yang justru sibuk mengubah aturan-aturan kecil yang konyol, padahal mereka terbukti tidak mampu mengatur olahraga ini agar jalan bebas dari lalu lintas,โ ujarnya.
Perbedaan standar keselamatan antara ajang besar dan kecil sangat mencolok. Tour de France, yang merupakan ajang paling bergengsi dan kaya, mampu menutup total jalan berjam-jam sebelum balapan dimulai, dengan petugas keamanan berjaga di setiap persimpangan. Sementara itu, balapan seperti Volta a Portugal atau Tour of Britain mengandalkan pengaman jalan bergulir, di mana polisi dan ofisial hanya mengawal di depan dan belakang peleton. Metode ini dinilai rawan, terutama saat peleton terpecah dan tidak semua persimpangan dijaga.
Vaughters, yang timnya kerap berlaga di balapan level menengah, mengaku tidak mempercayai keselamatan balapan kecil. โKami mempercayai balapan seperti Tour de France, tapi tidak untuk balapan kecil. Rolling enclosure menjadi masalah ketika peleton terpecah dan tidak semua persimpangan diblokir. Orang-orang mengira balapan sudah selesai, lalu mereka masuk jalan, dan tiba-tiba bertabrakan dengan peleton yang melaju 50 km/jam dari arah berlawanan. Kecepatan gabungannya bisa mencapai 150 km/jam. Itu mengerikan,โ paparnya.
Ia juga menyoroti tekanan finansial yang dialami penyelenggara balapan kecil. Banyak dari mereka yang kesulitan membiayai pengamanan jalan yang memadai, karena pendapatan dari hak siar dan sponsor jauh lebih kecil dibandingkan ajang besar. Namun, Vaughters menegaskan bahwa hal ini tidak bisa menjadi alasan untuk mengorbankan nyawa atlet. โSaya bersimpati pada kesulitan finansial penyelenggara, tapi jika Anda memaksa tim untuk bertarung memperebutkan poin ranking di ajang ini, Anda harus memastikan standar keselamatannya,โ katanya.
Di tengah kritik ini, UCI hanya mengeluarkan pernyataan duka cita atas meninggalnya Tarling, tanpa memberikan komentar lebih lanjut. Padahal, setelah kematian Gino Mader di Tour de Suisse 2023, UCI telah meluncurkan inisiatif SafeR untuk mengevaluasi keselamatan balap. Namun, efektivitas program ini masih dipertanyakan, mengingat masih adanya korban jiwa.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan industri balap sepeda, kecelakaan ini menjadi pelajaran penting. Dengan semakin banyaknya event balap sepeda yang digelar di berbagai daerah, standar keselamatan harus menjadi prioritas utama. Penyelenggara lokal perlu belajar dari kasus ini untuk memastikan tidak ada kendaraan yang masuk ke lintasan, terutama pada balapan yang menggunakan sistem pengaman bergulir. Regulasi yang ketat dan pengawasan yang konsisten dari otoritas olahraga nasional menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa.
Vaughters mengusulkan agar kalender balap dikurangi secara drastis, dari 700 hari menjadi sekitar 100 hari saja. Menurutnya, terlalu banyaknya balapan membuat pengawasan menjadi longgar dan meningkatkan risiko kecelakaan. โSaya takut pada para atlet, dan kita menyuruh mereka untuk memacu diri hingga batas maksimal. Ini adalah disonansi yang menurut saya tercela. Harga nyawa seorang atlet muda jauh lebih mahal daripada semua masalah lainnya,โ pungkasnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah UCI akan berani melakukan reformasi besar-besaran, atau justru terus mempertahankan status quo yang berisiko? Dengan semakin banyaknya suara kritis dari dalam industri, tekanan untuk berubah semakin besar. Namun, tanpa kemauan politik yang kuat, kecelakaan seperti yang menimpa Fin Tarling mungkin akan terus terulang.



