Motsi Mabuse: Perimenopause Mengubah Hidupku, Kini Aku Berjuang untuk Kekuatan Bukan Ukuran Tubuh
Baca dalam 60 detik
- Juri Strictly Come Dancing, Motsi Mabuse, mengaku kehilangan jati diri akibat gejala perimenopause yang dialaminya sejak awal 2025, memaksanya berhenti menari bersama suami.
- Peringatan dokter tentang risiko diabetes memicu transformasi pola hidupnya, dari fokus mengecilkan badan menjadi membangun kekuatan fisik dan mental.
- Mabuse menekankan pentingnya dukungan emosional dan terapi, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kesehatan mental anaknya, serta mengkritik stigma sosial terhadap tubuh perempuan.

Juri ajang tari BBC, Motsi Mabuse, mengungkapkan bahwa perimenopause telah mengubah hidupnya secara drastis. Sejak awal 2025, ia merasa kehilangan kendali atas tubuh dan emosinya, bahkan tak jarang bertanya-tanya siapa dirinya yang akan 'bangun' setiap pagi. Kondisi ini tak hanya memengaruhi kariernya, tetapi juga hubungan pribadinya, terutama saat ia tak lagi mampu menari bersama suaminya, Evgenij Voznyuk.
Dalam wawancara dengan majalah Women's Health UK edisi September, Mabuse menceritakan bagaimana gejala seperti nyeri lutut dan penurunan energi drastis membuatnya merasa asing dengan tubuhnya sendiri. "Aku bertanya, 'Motsi mana yang akan kutemui hari ini? Yang akan membuatku menangis? Yang bahagia? Yang tidak ingin bertemu siapa pun?' Setiap hari kau menemukan sisi baru dari dirimu. Itulah menopause," ujarnya. Ia juga mengaku sedih karena tak bisa lagi menari bersama suaminya, aktivitas yang selama ini menjadi sumber kebahagiaannya.
Puncaknya, pemeriksaan kesehatan menyeluruh mengungkapkan peringatan serius dari dokter. Riwayat diabetes tipe 2 di keluarga dan riwayat diabetes gestasional saat hamil membuatnya masuk dalam kategori berisiko tinggi. "Dokter berkata, 'Nyonya Mabuse, Anda tidak bisa terus seperti ini. Angka-angka menunjukkan Anda berisiko. Jika ingin tetap sehat dalam jangka panjang, kita perlu mengubah sesuatu,'" kenang Mabuse. Peringatan ini menjadi titik balik baginya untuk fokus pada kesehatan jangka panjang.
Alih-alih terpuruk, Mabuse justru mengubah paradigma hidupnya. Ia kini berfokus pada penguatan tubuh, bukan pengecilan ukuran. Baginya, perjalanan ini bukan tentang menjadi lebih kurus, melainkan menjadi lebih kuat. Ia juga membela perempuan yang memilih menggunakan obat penurun berat badan seperti GLP-1 demi kesehatan. "Aku punya empati yang dalam untuk perempuan karena mereka tidak akan pernah benar. Perempuan dipermalukan sepanjang hidup mereka, dan aku tidak di sini untuk mempermalukan siapa pun," tegasnya.
Pengalaman pahit masa muda juga membentuk pandangannya. Sebagai penari, ia kerap menerima komentar untuk menurunkan berat badan, yang menurutnya adalah hal paling menyakitkan yang pernah didengar. Kini, ia harus terus mengingatkan diri untuk mencintai tubuhnya yang telah berubah. "Aku harus belajar menerima bahwa tubuhku bukan lagi tubuh penari atletis dan tidak akan pernah terlihat seperti dulu. Tapi aku tidak berpikir akan ada saat di mana aku berkata, 'Ini dia! Aku sudah sampai!'". Ia bahkan harus melawan rasa iri saat melihat orang lain dengan tubuh ideal, dengan meyakinkan diri bahwa ia sehat dan melakukan yang terbaik.
Di tengah perjuangannya, Mabuse juga menyoroti pentingnya kesehatan mental, baik untuk dirinya maupun keluarganya. Ia mengaku bahwa terapi telah membantunya lebih peka terhadap kondisi psikologis putrinya yang berusia delapan tahun. "Aku menganggap serius semua yang dikatakan anakku. Aku menanyainya berbagai hal karena aku ingin tahu kondisi mentalnya... tidak ada yang lebih buruk daripada anakmu memiliki masalah kesehatan mental dan kamu tidak menyadarinya," tuturnya. Kesadaran ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Menjelang kembalinya ia ke panel juri Strictly Come Dancing pada September mendatang, Mabuse telah menyiapkan ritual perawatan diri. Ia berencana makan sehat, berenang, dan memberi waktu untuk tubuhnya. "Aku akan makan sehat, berenang โ dan ini bukan tentang diet, tapi tentang memberi kembali pada tubuhku. Aku berharap banyak dari tubuhku. Aku berharap ia bisa tampil, menjadi ibu, bekerja, bepergian, menari. Saat aku melangkah ke pantai, aku akan berkata, 'Tubuh, sekarang giliranmu,'" katanya. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari tuntutan eksternal menuju penghargaan diri yang lebih dalam.
Kisah Mabuse menyoroti realitas yang dihadapi banyak perempuan, terutama di Indonesia, di mana diskusi tentang menopause dan perimenopause masih sering dianggap tabu. Padahal, kesadaran akan perubahan hormonal dan dampaknya pada kesehatan fisik dan mental sangat penting. Di Indonesia, banyak perempuan yang mengalami gejala serupa namun enggan membicarakannya karena stigma sosial. Kisah Mabuse dapat menjadi inspirasi bagi mereka untuk lebih terbuka dan proaktif dalam menjaga kesehatan, tanpa merasa malu atau tertekan oleh standar kecantikan yang sempit.
Ke depannya, apakah pengakuan publik dari figur seperti Mabuse akan mendorong lebih banyak perempuan untuk berbicara terbuka tentang perimenopause? Atau akankah stigma dan tekanan sosial tetap menjadi penghalang utama? Yang jelas, perjalanan Mabuse menunjukkan bahwa menghadapi perubahan tubuh dengan keberanian dan kasih sayang adalah langkah pertama menuju kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.



