Bouaddi, Gelandang Muda Maroko yang Membuat Raksasa Eropa Antre
Baca dalam 60 detik
- Ayyoub Bouaddi, gelandang Lille berusia 18 tahun, menjadi pemain U-18 dengan menit terbanyak di lima liga top Eropa musim lalu.
- Penampilannya di Piala Dunia 2026, termasuk saat mengalahkan Brasil, menarik minat Manchester City, Arsenal, Real Madrid, dan Barcelona.
- Lille membanderolnya hingga ยฃ86 juta, sementara City mencari suksesor Rodri yang kontraknya tersisa setahun.

Gelandang muda Maroko, Ayyoub Bouaddi, menjadi pusat perhatian klub-klub besar Eropa setelah penampilannya yang gemilang di Piala Dunia 2026. Pemain berusia 18 tahun itu sukses membungkam lini tengah Brasil yang diperkuat Casemiro dan Bruno Guimaraes pada laga pembuka, membuktikan bahwa bakatnya tidak sekadar rumor.
Bouaddi, yang membela Lille di Ligue 1, mencatatkan statistik impresif musim lalu: menjadi pemain di bawah 19 tahun dengan menit bermain terbanyak (2.329 menit) dan jumlah penampilan terbanyak (30) di lima liga top Eropa. Ia juga memimpin dalam hal merebut bola (151 kali), tekel (59), dan intersepsi (27) untuk kategori usianya. Angka-angka ini membuatnya disejajarkan dengan gelandang legendaris seperti Sergio Busquets, berkat ketenangannya dalam menguasai bola dan kecerdasan membaca permainan.
Manchester City disebut-sebut sebagai salah satu klub terdepan yang memantau Bouaddi. Sumber BBC Sport mengonfirmasi bahwa nama Bouaddi masuk dalam daftar target City, yang baru saja memecahkan rekor klub dengan mendatangkan Elliot Anderson dari Nottingham Forest senilai ยฃ116 juta. Selain City, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, dan Paris Saint-Germain juga dikabarkan tertarik. Mantan pemain timnas Maroko, Hassan Kachloul, menilai Bouaddi memiliki "arogansi positif" yang langka di usianya, serta kemampuan tampil percaya diri di panggung besar.
Lille dilaporkan memasang banderol antara ยฃ69 juta hingga ยฃ86 juta untuk Bouaddi. Angka ini sejalan dengan harga pasar gelandang top saat ini, terutama setelah City mengeluarkan dana besar untuk Anderson. Di sisi lain, masa depan Rodri di City mulai dipertanyakan karena kontraknya memasuki tahun terakhir, membuat Bouaddi menjadi kandidat ideal sebagai pengganti jangka panjang.
Bouaddi bukan hanya unggul secara fisik dan teknis, tetapi juga cerdas di luar lapangan. Ia meraih diploma sekolah menengah dalam bidang matematika dan fisika, menunjukkan kecerdasan yang membantunya membaca permainan. Jurnalis sepak bola Maroko, Amine el Amri, menyebut Bouaddi sebagai "menantu idaman" karena kepribadiannya yang rendah hati dan disiplin. "Dia punya potensi menjadi salah satu gelandang terbaik sepanjang masa, tidak hanya untuk Maroko," ujar el Amri. Namun, ia mengingatkan bahwa Bouaddi harus tetap fokus dan tidak terbawa arus pemberitaan.
Bagi Indonesia, fenomena Bouaddi menjadi cerminan bagaimana negara berkembang dapat melahirkan bakat kelas dunia melalui pembinaan usia dini dan keberanian bermain di liga Eropa. Maroko, yang sebelumnya mencapai semifinal Piala Dunia 2022, kini memiliki aset berharga untuk melangkah lebih jauh. Sementara itu, persaingan klub-klub top Eropa merebut Bouaddi akan menjadi ujian bagi Lille untuk mempertahankan pemainnya di tengah godaan finansial. Akankah Bouaddi memilih Premier League atau tetap setia di Ligue 1? Keputusan itu akan menentukan arah kariernya dalam beberapa tahun ke depan.



