Tevez Dorong Duet Conte-Maldini untuk Timnas Italia, Kritik Allegri dan Spalletti
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang Juventus, Carlos Tevez, mendukung kembalinya Antonio Conte sebagai pelatih timnas Italia dengan Paolo Maldini sebagai direktur teknis.
- Tevez menilai Conte sebagai pelatih terbaik yang pernah ia miliki, namun mengkritik gaya defensif Max Allegri yang disebut mirip Lionel Scaloni.
- Ia juga menyoroti kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026 dan menilai Luciano Spalletti tidak memiliki 'darah' seperti Conte.

Carlos Tevez, mantan penyerang Juventus dan timnas Argentina, secara terbuka mendorong Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk segera menunjuk Antonio Conte sebagai pelatih kepala dan Paolo Maldini sebagai direktur teknis. Dalam wawancara dengan media Italia, termasuk Repubblica, Tevez menilai duet tersebut merupakan solusi terbaik untuk membangkitkan kembali kejayaan Azzurri yang gagal tampil di Piala Dunia 2026.
Tevez, yang pernah bermain di bawah asuhan Conte selama dua musim di Juventus, menyebut mantan pelatihnya itu sebagai sosok paling berpengaruh dalam kariernya. “Antonio Conte for life. Hanya dia yang bisa mengeluarkan Italia dari situasi ini. Pada tahun pertama, dia pasti langsung berhasil. Tapi Anda harus mendukungnya tanpa keraguan,” ujar Tevez. Ia juga memuji kecerdasan Maldini, yang dinilainya terbukti sukses saat membangun kembali AC Milan sebagai direktur teknis.
Namun, Tevez tak segan melontarkan kritik tajam kepada dua pelatih lain: Max Allegri dan Luciano Spalletti. Meskipun mengakui Allegri sebagai pelatih yang baik, Tevez menuduhnya terlalu defensif—bahkan menyamakan gaya bermainnya dengan Lionel Scaloni, pelatih Argentina yang membawa timnya juara Piala Dunia 2022. “Saya kadang menuduhnya terlalu defensif. Seperti Scaloni, kan?” katanya. Sementara itu, mengenai Spalletti, Tevez melontarkan pernyataan kontroversial: “Spalletti tidak punya darah. Conte punya darah, dan saya suka orang yang punya darah.”
Komentar Tevez muncul saat FIGC di bawah presiden baru Giovanni Malagò masih dalam proses perekrutan. Maldini disebut sebagai kandidat terdepan untuk posisi direktur teknis, sementara Conte dan Roberto Mancini menjadi pesaing utama kursi pelatih. Tevez yakin bahwa kombinasi Conte-Maldini adalah formula ideal, mengingat pengalaman keduanya di level klub dan tim nasional.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika kepelatihan Italia ini menarik untuk dicermati. Italia, yang pernah menjadi kiblat taktik dunia, kini tengah berjuang bangkit dari keterpurukan. Jika Conte kembali, gaya bermain agresif dan disiplin tinggi yang menjadi ciri khasnya bisa menjadi inspirasi bagi pelatih-pelatih lokal. Sementara itu, kritik Tevez terhadap Allegri dan Spalletti mengingatkan bahwa sepak bola modern tidak hanya membutuhkan hasil, tetapi juga identitas permainan yang jelas.
Tevez juga menyoroti kegagalan Juventus lolos ke Liga Champions musim depan, menyebutnya sebagai “bencana” yang memaksa klub melakukan pembangunan ulang. Mantan pemain berusia 40 tahun itu menegaskan bahwa Italia harus segera mengambil keputusan tegas. “Anda harus membangun pemain bagus sendiri,” katanya, mengisyaratkan pentingnya pembinaan jangka panjang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIGC berani mengambil risiko dengan menunjuk Conte—yang dikenal temperamental namun punya rekam jejak juara—atau memilih opsi yang lebih aman seperti Mancini. Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib Italia di turnamen mendatang, tetapi juga arah filosofi sepak bola Negeri Pizza.



