Vitamin A dan D Terbukti Perbaiki Fungsi Paru Pasien Asma, Studi Ungkap Potensi Perlambat Penuaan Sel
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap lebih dari 2.000 partisipan menunjukkan kadar vitamin A dan D yang tinggi berkorelasi dengan fungsi paru yang lebih baik pada penderita asma.
- Vitamin D juga dikaitkan dengan perlambatan penuaan biologis sel paru-paru melalui mekanisme epigenetik, membuka peluang intervensi nutrisi.
- Para ahli menekankan perlunya uji klinis acak untuk memastikan hubungan kausal sebelum rekomendasi klinis dapat diubah.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Thorax mengungkapkan bahwa vitamin A dan D tidak hanya penting untuk kesehatan mata dan tulang, tetapi juga berpotensi meningkatkan fungsi paru-paru pada penderita asma, bahkan memperlambat penuaan biologis sel paru pada orang dewasa. Temuan ini memperkuat bukti bahwa nutrisi sederhana dapat menjadi kunci dalam manajemen penyakit pernapasan kronis.
Peneliti dari Mass General Brigham dan Harvard Medical School menganalisis data kesehatan hampir 1.200 anak dalam studi GACRS (Kosta Rika) dan sekitar 1.000 orang dewasa dalam studi ODOLLFA. Mereka mengukur kadar vitamin A dan D partisipan serta menilai fungsi paru-paru mereka. Hasilnya, baik anak-anak maupun orang dewasa dengan asma yang memiliki kadar vitamin A lebih tinggi menunjukkan fungsi paru yang lebih baik. Sementara itu, kadar vitamin D yang tinggi juga dikaitkan dengan fungsi paru yang lebih baik pada orang dewasa, serta berkurangnya tanda-tanda penuaan epigenetik.
“Kami menemukan bahwa mikroRNA dan metilasi DNA—dua regulator aktivitas gen—berperan dalam bagaimana vitamin A dan D memengaruhi kesehatan paru,” ujar Michael McGeachie, PhD, penulis senior studi tersebut. Ia menambahkan bahwa vitamin-vitamin ini juga dikenal mengatur respons imun, mengurangi peradangan, serta mendukung perbaikan jaringan paru. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Di Indonesia, di mana prevalensi asma mencapai sekitar 4,5% dari total penduduk berdasarkan data Riskesdas 2018, temuan ini membuka diskusi baru tentang peran suplementasi vitamin dalam tata laksana asma. Namun, para ahli paru seperti Khaled Abu-Ihweij, MD, dari Hackensack Meridian Health menekankan perlunya kehati-hatian. “Studi ini menunjukkan asosiasi yang kuat, tetapi kita membutuhkan uji coba terkontrol secara acak sebelum mengubah rekomendasi klinis,” katanya. Ia menambahkan bahwa konsep “usia paru” yang diukur secara epigenetik masih tergolong baru dan perlu validasi lebih lanjut.
Jimmy Johannes, MD, spesialis paru dari MemorialCare Long Beach Medical Center, menilai studi ini unik karena menghubungkan kadar vitamin dengan penanda molekuler penuaan. “Bagi penderita asma, penelitian ini mengindikasikan bahwa kadar vitamin A dan D yang memadai dapat membantu menjaga paru-paru tetap muda, setidaknya pada tingkat molekuler,” ujarnya. Namun, ia juga menekankan masih banyak yang perlu dipelajari tentang nutrisi dan kesehatan paru secara keseluruhan.
Langkah selanjutnya, menurut peneliti utama Rinku Sharma, PhD, adalah mengintegrasikan data genetik, epigenetik, dan nutrisi untuk memahami mengapa beberapa individu mendapat manfaat lebih besar. “Kami berharap dapat mengidentifikasi strategi personal untuk mendorong penuaan paru yang sehat,” katanya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah suplemen vitamin A dan D menjadi resep tambahan bagi pasien asma di Indonesia? Atau justru pola makan yang diperkaya kedua vitamin tersebut lebih direkomendasikan? Jawabannya masih menunggu bukti dari uji klinis mendatang.



