Michael Olise: Bintang Piala Dunia yang Membenci Sorotan, Kini Bersinar Terang
Baca dalam 60 detik
- Michael Olise menjadi pemain pertama sejak 1994 yang mencatat lima assist dalam satu edisi Piala Dunia, membawa Prancis ke babak 16 besar.
- Di balik prestasinya, Olise dikenal sebagai pribadi pendiam yang menghindari wawancara, jarang merayakan gol, dan bahkan tidak memiliki kontrak dengan merek perlengkapan olahraga mana pun.
- Perjalanan kariernya yang unik—dari dibuang akademi Chelsea dan Manchester City hingga menjadi bintang Bayern Munich—menawarkan perspektif baru tentang kesuksesan di luar pakem pesepakbola modern.

Michael Olise bukanlah pesepakbola biasa. Di tengah hingar-bingar Piala Dunia 2026, pemain berusia 24 tahun ini justru memilih jalan sunyi: ia jarang tersenyum di depan kamera, enggan merayakan gol, dan lebih sering terlihat memeriksa rumput lapangan dengan sandal jepit sebelum pertandingan. Namun, di balik sikapnya yang dingin, statistiknya berbicara lain—lima assist sudah ia catatkan, menyamai rekor Thomas Hassler pada 1994, dan menjadikannya motor serangan paling mematikan Prancis saat ini.
Lahir di London dari ibu Prancis-Aljazair dan ayah Nigeria, Olise sejak kecil sudah menunjukkan bakat luar biasa. Daniel Coker, guru olahraganya di Dr Triplett's CE Primary School, mengingat bagaimana Olise—yang saat itu sudah terdaftar di akademi Chelsea—mendominasi setiap cabang olahraga yang ia coba. "Dia pendiam dan pemalu, tapi begitu di lapangan, dia seperti monster," kenang Coker. "Dia sering memberi assist, mencetak banyak gol, tapi tidak pernah merayakannya. Dia langsung kembali ke posisi dan ingin segera bermain lagi." Kepala sekolah Rachel Anderson menambahkan bahwa Olise adalah perfeksionis yang sering over-analisis, bahkan sulit diajak kembali ke kelas jika timnya kalah.
Jalan Olise menuju puncak tidaklah mulus. Dibuang Chelsea di usia 14 tahun, lalu dilepas Manchester City, ia nyaris putus asa. Namun, Reading memberinya kesempatan kedua. Brendan Flanagan, kepala rekrutmen Reading saat itu, harus berjuang meyakinkan manajemen untuk merekrut pemain yang sudah dua kali ditolak. "Ada bias di sepak bola: jika dilepas klub besar, dianggap bermasalah. Tapi Michael hanya pendiam dan pemalu, itu bukan masalah," ujarnya. Ibu Olise, Mina, bahkan meminta waktu sebulan untuk memulihkan kepercayaan diri putranya melalui seorang mentor. Empat minggu kemudian, Olise siap bergabung. "Dia tanpa keraguan pemain terbaik yang pernah saya datangkan ke klub ini," tambah Flanagan.
Keputusan Olise membela Prancis, bukan Inggris, Nigeria, atau Aljazair, juga mencerminkan karakternya yang pragmatis. "Mereka yang pertama menghubungi saya. Kalian tidak menginginkan saya saat muda, jadi saya pergi ke sana," kata Flanagan menirukan sikap Olise. Di Reading, ia menembus tim utama dan langsung dipanggil tim junior Prancis. Setelah pindah ke Crystal Palace seharga £8 juta pada 2021, ia perlahan menunjukkan kualitasnya di Premier League. Musim 2023-24 menjadi titik balik: 10 gol dan 6 assist dalam 19 pertandingan, meski diganggu cedera. Chelsea sempat mengaktifkan klausul £35 juta untuk merekrutnya kembali, namun Olise mengejutkan semua orang dengan menandatangani kontrak baru bersama Palace.
Kepindahannya ke Bayern Munich pada musim panas 2024 seharga £50 juta semakin mengukuhkan statusnya sebagai bintang dunia. Namun, yang paling berkesan bagi mantan bek Gael Clichy adalah saat Olise meminta Bayern mengizinkannya tetap bermain di Olimpiade Paris 2024. "Seorang pemain muda yang baru mendapat transfer besar justru meminta untuk menyelesaikan petualangan Olimpiade. Itu langka dan menunjukkan bahwa ia bukan hanya pemain hebat, tapi juga pribadi yang luar biasa," kata Clichy. Olise membantu Prancis meraih medali perak, kalah dari Spanyol di final.
Kini, dengan 88 kontribusi gol dalam dua musim terakhir, Olise disebut-sebut sebagai kandidat Ballon d'Or. Legenda Prancis Olivier Giroud memujinya sebagai pemain tim yang rendah hati. "Jika ia bisa assist, ia akan assist, meski punya peluang mencetak gol. Itulah yang membuatnya istimewa," ujar Giroud. Namun, akankah gaya hidupnya yang anti-sorotan mampu bertahan di tengah tekanan menjadi bintang global? Atau justru sikapnya yang unik inilah yang akan membawanya ke puncak sepak bola dunia?



