Akhir Pahit Ronaldo di Piala Dunia: Portugal Tersingkir, Pelatih Mundur
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo mengakhiri perjalanan Piala Dunia tanpa gelar juara setelah Portugal kalah 0-1 dari Spanyol di babak 16 besar.
- Pelatih Roberto Martinez mundur setelah mendapat kritik tajam karena terus memainkan Ronaldo meski performanya menurun drastis.
- Kekalahan ini memicu perdebatan tentang dampak dominasi pemain bintang terhadap taktik tim di turnamen akbar.

Air mata Cristiano Ronaldo menjadi penutup kisah Piala Dunia yang tak pernah memberinya trofi paling bergengsi. Portugal tersingkir di babak 16 besar setelah gol injury time Mikel Merino membawa Spanyol menang 1-0 di Dallas, Senin (1/7) waktu setempat. Bagi megabintang berusia 41 tahun itu, ini adalah pukulan terakhir dalam karier internasional yang gemilang namun tanpa mahkota dunia.
Ronaldo, yang telah mengumumkan turnamen ini sebagai Piala Dunia terakhirnya, hanya menyentuh bola 19 kali sepanjang laga—sebuah angka yang memicu kritik keras. Mantan striker Inggris Chris Sutton, yang menjadi pengamat BBC, tak ragu menyebut penampilan Ronaldo seperti "kakek-kakek yang jalan mondar-mandir". "Dia tidak melakukan apa-apa. Portugal tersingkir karena Roberto Martinez yang terlalu memanjakan pemain bintangnya," ujar Sutton.
Statistik memperkuat argumen tersebut. Dalam lima pertandingan, Ronaldo melepaskan 18 tembakan—hanya kalah dari empat pemain lain—namun hanya mencetak tiga gol. Lebih mencolok, ia hanya menciptakan satu peluang untuk rekan setim. Sebanyak 366 pemain lain lebih sering menyentuh bola ketimbang Ronaldo, yang nyaris tak pernah absen bermain.
Keputusan Martinez untuk tetap memainkan Ronaldo sebagai starter menuai sorotan tajam. Di Piala Dunia sebelumnya, pelatih Fernando Santos berani mencadangkan Ronaldo di fase gugur dan Goncalo Ramos yang menggantikannya mencetak hat-trick. Namun kali ini, Ramos—yang kini membela AC Milan—hanya duduk di bangku cadangan. "Empat tahun berlalu, Ronaldo makin tua, dan lihatlah hasilnya," sindir Sutton.
Martinez, yang sebelumnya menangani Belgia, mengumumkan mundur setelah pertandingan. Ia mengaku gagal mewujudkan target memenangi Piala Dunia. "Saya datang dengan tujuan itu, dan karena tidak tercapai, tak masuk akal untuk lanjut," katanya. Selama menjabat, ia memang sukses membawa Portugal juara Nations League, tapi kegagalan di Piala Dunia dianggap sebagai kemunduran mengingat skuad bertabur bintang seperti Bruno Fernandes, Vitinha, dan Nuno Mendes.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat betapa besarnya pengaruh pemain bintang—baik positif maupun negatif—terhadap dinamika tim. Di liga domestik, fenomena serupa kerap terjadi ketika klub terlalu bergantung pada satu figur. Pelajaran dari Portugal: keseimbangan antara menghormati legenda dan kebutuhan taktis adalah kunci di turnamen seketat Piala Dunia.
Ronaldo tetap memegang rekor sebagai satu-satunya pemain yang mencetak gol di enam edisi Piala Dunia, dengan total 11 gol. Namun hanya satu gol tercipta di fase gugur. Sementara itu, rival abadinya Lionel Messi telah meraih gelar juara dunia pada 2022 dan kini memuncaki daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 20 gol. Perbandingan ini kian menegaskan bahwa di level tertinggi, momen-momen krusiallah yang membedakan legenda.
Ke depan, tanpa Ronaldo dan Martinez, Portugal harus memulai babak baru. Pertanyaan besarnya: mampukah generasi emas seperti Ramos, Fernandes, dan Joao Neves mengangkat trofi yang selalu luput dari genggaman CR7? Atau justru kepergian sang megabintang akan membebaskan potensi tim yang selama ini terkurangi oleh bayang-bayangnya?



