Mbappe Hujat Senator Rasis Paraguay: 'Wanita Hina dan Tak Layak'
Baca dalam 60 detik
- Kylian Mbappe mengecam senator Paraguay Celeste Amarilla yang melontarkan komentar rasis tentang asal-usul dan pendidikannya usai kekalahan Paraguay dari Prancis di Piala Dunia.
- Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) berencana mengajukan tuntutan pidana, sementara pemerintah Paraguay mengecam pernyataan tersebut sebagai bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang rasisme dalam sepak bola global, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan pejabat FFF ikut angkat bicara.

Kylian Mbappe, bintang timnas Prancis, melontarkan kecaman keras terhadap senator Paraguay Celeste Amarilla setelah politikus itu membuat serangkaian pernyataan rasis yang mengejek asal-usul dan tingkat pendidikan pemain berusia 24 tahun tersebut. Dalam respons yang dipublikasikan di media sosial, Mbappe menyebut Amarilla sebagai "wanita hina" yang tidak layak menduduki jabatan publik.
Amarilla, anggota Partai Radikal Liberal Paraguay, mengunggah komentarnya di platform X tak lama setelah timnya dikalahkan Prancis pada babak 16 besar Piala Dunia. Mbappe menjadi aktor kunci dalam laga itu dengan mencetak gol penalti penentu kemenangan di babak kedua, yang mengantarkan Les Bleus ke perempat final melawan Maroko di Boston.
"Nyonya Celeste Amarilla, Anda adalah wanita hina dan tidak layak atas posisi Anda. Anda tidak mewakili Paraguay, negara yang telah berjuang dengan penuh gairah dan kehormatan sepanjang turnamen ini," tulis Mbappe dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa tindakan ceroboh dan rasisme terang-terangan Amarilla telah membuat dunia melupakan perjuangan dan usaha bersejarah para pemain Paraguay di Piala Dunia.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) segera bereaksi dengan mengumumkan rencana untuk mengajukan tuntutan pidana. Dalam pernyataan resmi, FFF menyebut komentar Amarilla "sangat keji dan tidak dapat diterima" serta bersifat kriminal dan tercela. "Pernyataan ini membawa aib bagi mereka yang membuat dan menyebarkannya. Para pemain timnas Prancis mewakili Prancis; negara kamilah yang dihina," demikian bunyi pernyataan FFF.
Pemerintah Paraguay pun angkat bicara, menyatakan "menyesali dan menolak pernyataan" yang dibuat Amarilla. Mereka menegaskan bahwa komentar tersebut "bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip yang menginspirasi hidup berdampingan secara damai dan penghormatan terhadap martabat manusia yang dipromosikan negara kami." Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan disipliner internal terhadap senator tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron turut memberikan dukungan melalui media sosial. "Gol lain untuk Kylian Mbappe. Kali ini melawan rasisme. Semua dukungan saya. Ketika kata-kata menodai, nilai-nilai kita merespons: martabat, rasa hormat, persaudaraan," tulis Macron.
Insiden ini bukan yang pertama kali menimpa timnas Prancis di ajang Piala Dunia. Sebelum pertandingan, mantan kiper Paraguay Jose Luis Chilavert menyebut bahwa Paraguay menghadapi "skuad dari Afrika", merujuk pada keragaman etnis pemain Prancis. Presiden FFF Philippe Diallo mengecam Chilavert sebagai "aib" dan menegaskan bahwa pernyataan rasis tersebut merusak nilai-nilai rasa hormat, persaudaraan, dan keberagaman dalam sepak bola.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa rasisme masih menjadi momok dalam sepak bola global. Dengan keragaman etnis dan budaya yang dimiliki Indonesia, insiden seperti ini relevan untuk direnungkan, terutama dalam konteks pembinaan sepak bola nasional yang semakin inklusif. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya untuk menghadapi isu serupa di masa depan?



