Pogacar Incar Sejarah di Tour de France 2026: Saingan Berat atau Jalan Terjal?
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar berpeluang menyamai rekor lima gelar juara Tour de France jika menang di Paris pada 26 Juli.
- Jonas Vingegaard dan Remco Evenepoel menjadi pesaing utama, sementara debutan Paul Seixas membawa harapan baru bagi Prancis.
- Balapan tahun ini juga menandai debut tim NSN Cycling yang dipimpin legenda sepak bola Andres Iniesta.

Tadej Pogacar mengawali petualangan di Tour de France 2026 dengan misi besar: menyamai rekor lima gelar juara yang dipegang legenda seperti Eddy Merckx dan Bernard Hinault. Pebalap Slovenia berusia 27 tahun itu menjadi favorit mutlak setelah mendominasi musim ini, termasuk kemenangan di Tour de Suisse. Namun, persaingan ketat dari rival lama Jonas Vingegaard dan munculnya bakat baru seperti Paul Seixas membuat perjalanan menuju Paris tak semulus yang dibayangkan.
Tour de France edisi ke-113 ini dimulai dari Barcelona, menandai ke-27 kalinya balapan start di luar Prancis. Rute sepanjang 21 etape mencakup tanjakan gunung yang brutal, turunan Alpen berkecepatan tinggi, dan sprint finish eksplosif. Pogacar, yang tahun lalu meraih triple crown (Tour, Giro, dan Kejuaraan Dunia), menunjukkan performa luar biasa di semua disiplin, terutama di tanjakan dan time trial. Namun, ia harus mewaspadai Vingegaard yang baru saja memenangkan Giro d'Italia dengan selisih lebih dari lima menit setelah pulih dari cedera.
Di sisi lain, Vingegaard datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah dua gelar Tour sebelumnya (2022 dan 2023). Pebalap Denmark berusia 29 tahun itu sempat terhambat cedera, tetapi kini kembali ke performa terbaik. Ia akan menjadi ancaman serius bagi Pogacar, terutama di etape pegunungan. Sementara itu, Remco Evenepoel (Red Bull-Bora-Hansgrohe) dan debutan Paul Seixas (Decathlon-CMA CGM) juga disebut-sebut sebagai kuda hitam. Seixas, yang baru berusia 19 tahun, menjadi harapan baru Prancis yang sudah puluhan tahun tak memiliki juara Tour.
Dari kubu pebalap Inggris, Tom Pidcock menjadi andalan untuk kemenangan etape. Pebalap Pinarello-Q36.5 itu finis ketiga di Vuelta a Espana 2025 dan punya kenangan manis di Alpe d'Huez. Adam Yates, yang biasanya menjadi domestique Pogacar, juga berpotensi merebut etape gunung jika diberi kesempatan. Namun, ketidakhadiran Oscar Onley akibat cedera membuat Netcompany Ineos Cycling mengandalkan Egan Bernal dan Thymen Arensman untuk klasemen umum.
Persaingan jersey hijau (sprinter) juga menarik. Jasper Philipsen mengincar gelar kedua setelah 2023, sementara Biniam Girmayโpemenang jersey hijau 2024 dan pebalap Afrika pertama yang meraihnyaโkini membela tim NSN Cycling yang dipimpin Andres Iniesta. Iniesta, legenda Barcelona, mengaku terkesan dengan strategi di balik layar balap sepeda. "Dari luar, Anda hanya melihat pebalap, tapi tidak melihat kerja keras di belakang layar. Itu yang paling mengejutkan saya," ujarnya dalam konferensi pers.
Isu doping juga kembali mengemuka. Badan Anti-Doping Internasional (ITA) tengah mengkaji penggunaan data power sebagai alat deteksi baru. Meski tak ada skandal besar dalam lima tahun terakhir, kecepatan rata-rata yang terus meningkat memicu kecurigaan. Sementara itu, model bisnis tim yang masih bergantung pada sponsor menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi tim baru seperti NSN Cycling yang tak punya pendapatan hak siar seperti sepak bola.
Bagi penggemar sepeda di Indonesia, Tour de France 2026 bisa disaksikan secara langsung melalui platform streaming. Dominasi Pogacar yang nyaris sempurna membuat balapan ini terasa seperti perebutan posisi kedua. Namun, dengan rute berat dan kejutan yang selalu mungkin terjadi, mampukah Vingegaard atau Evenepoel menggagalkan pesta Pogacar? Atau justru Seixas yang akan mencuri perhatian?



