Chris Froome Pensiun: Legenda Balap Sepeda dengan Empat Gelar Tour de France Tutup Karier
Baca dalam 60 detik
- Chris Froome, peraih empat gelar Tour de France, mengumumkan pensiun setelah kecelakaan parah pada Agustus 2025 yang mengakibatkan cedera serius.
- Pebalap asal Kenya-Britania Raya itu meninggalkan warisan tujuh kemenangan Grand Tour dan dua medali perunggu Olimpiade.
- Karier Froome diwarnai kontroversi doping salbutamol serta perjuangan pulih dari cedera, namun ia dikenang sebagai salah satu pembalap terhebat sepanjang masa.

Chris Froome, pebalap sepeda asal Kenya-Britania Raya yang meraih empat gelar Tour de France, resmi mengakhiri karier profesionalnya pada usia 41 tahun. Keputusan ini diambil setelah ia mengalami kecelakaan berat pada Agustus 2025 yang membuatnya tidak pernah kembali berlomba.
Kecelakaan tersebut terjadi saat Froome menabrak rambu jalan dengan kecepatan lebih dari 30 mil per jam, mengakibatkan lima tulang rusuk patah, paru-paru kolaps, dan fraktur tulang belakang lumbar. Dalam operasi, dokter menemukan ruptur perikardial—robekan pada kantung yang mengelilingi jantung—yang berhasil diperbaiki. "Sayangnya, kecelakaan musim panas lalu bukanlah akhir yang saya inginkan. Tapi saat itu juga saya tahu sudah berakhir," ujar Froome kepada penyiar Belgia Sporza.
Froome pensiun sebagai salah satu pebalap paling sukses dalam sejarah, dengan tujuh kemenangan Grand Tour bersama Team Sky (kini Team Ineos). Empat gelar Tour de France-nya diraih pada 2013, 2015, 2016, dan 2017. Hanya empat pebalap—Jacques Anquetil, Bernard Hinault, Miguel Indurain, dan Eddy Merckx—yang memiliki lebih banyak gelar Tour de France. Ia juga memenangi Giro d'Italia 2018 dan Vuelta a Espana 2011 serta 2017, ditambah dua medali perunggu Olimpiade dalam uji waktu perorangan pada 2012 dan 2016.
Salah satu momen paling ikonik dalam karier Froome terjadi pada Tour de France 2016. Di tahap 12, kurang dari satu kilometer dari garis finis, ia terpaksa berlari tanpa sepeda setelah bertabrakan dengan motor di Mont Ventoux. Dengan sepeda yang tidak bisa digunakan dan mobil tim yang membawa sepeda cadangan tertinggal beberapa menit, Froome berlari menuju finis. Ia mencoba menggunakan sepeda netral sebelum beralih ke sepeda ketiga dari mobil Team Sky sekitar 200 meter kemudian, akhirnya melewati garis sambil menggelengkan kepala. "Saya bilang pada diri sendiri, 'Saya tidak punya sepeda dan mobil saya tertinggal lima menit—terlalu jauh, saya akan lari sedikit'," kenangnya.
Pada 2017, Froome terlibat dalam kasus antidoping setelah ditemukan kadar salbutamol—obat asma legal—berlebih dalam urinnya. Badan Antidoping Dunia (WADA) yang bekerja sama dengan UCI kemudian menerima bahwa tidak ada pelanggaran dan merekomendasikan kasus tersebut dihentikan.
Setelah meninggalkan Team Ineos pada 2020, Froome bergabung dengan Israel-Premier Tech. Ia berusaha pulih dari kecelakaan 2019 yang menyebabkan patah tulang paha dan pinggul, namun kesulitan mengembalikan performa puncaknya. Tim tersebut tidak memasukkannya dalam tiga edisi Tour de France terakhir dan melepasnya pada November 2024.
Froome lahir di Nairobi, Kenya, dari orang tua Inggris. Ia beralih kewarganegaraan pada 2008 dan bergabung dengan Team Sky pada 2010 sebagai bagian dari proyek ambisius Sir Dave Brailsford untuk menjadi tim Inggris pertama yang memenangi Tour de France. Gaya balapnya yang disiplin, didukung oleh 'Sky Train'—strategi menguras tenaga domestique dengan kecepatan tinggi—menjadi ciri khas. Namun, kecerdasan balapnya sendiri sering menjadi pembeda, seperti saat ia melakukan 'super tuck'—posisi aerodinamis dengan membungkuk di atas tabung atas sepeda—yang kini dilarang karena alasan keamanan.
Puncak karier Froome mungkin adalah kemenangan Giro d'Italia 2018 setelah comeback spektakuler, termasuk memenangi tahap 19 dengan selisih tiga menit. Namun, cedera 2019 menghambatnya; hasil terbaiknya setelah itu adalah posisi ketiga di tahap 12 Tour de France 2022. Setelah 2022, ia tak pernah kembali ke balapan yang sangat berarti baginya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, pensiunnya Froome menandai berakhirnya era dominasi pebalap yang membawa pendekatan ilmiah dan disiplin tinggi ke dalam olahraga ini. Meski kontroversi doping sempat mencoreng namanya, pencapaiannya menginspirasi generasi baru pebalap di Asia, termasuk Indonesia yang mulai melirik potensi atlet sepeda. Pertanyaannya kini: siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai ikon global balap sepeda?



