Sambaran Petir di Pantai Pasir Ris Singapura: Tujuh Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria berusia 20-an tidak sadarkan diri setelah tersambar petir saat bermain paddleboard di Pantai Pasir Ris, Singapura, Minggu sore.
- Total tujuh orang, termasuk dua anak-anak, dilarikan ke rumah sakit; sebagian besar dalam kondisi sadar.
- Insiden ini menjadi pengingat akan tingginya frekuensi sambaran petir di Singapura, yang rata-rata terjadi 176 hari per tahun.

Seorang pria berusia 20-an tahun tidak sadarkan diri setelah tersambar petir saat tengah bermain paddleboard di perairan Pantai Pasir Ris, Singapura, Minggu (5/7) sore. Peristiwa itu menyebabkan total tujuh orang, termasuk dua anak-anak, harus dilarikan ke rumah sakit.
Menurut laporan harian berbahasa Mandarin Lianhe Zaobao, korban merupakan bagian dari rombongan delapan orang—lima pria dan tiga wanita—yang sedang melakukan kayak dan paddleboarding di lokasi kejadian. Tim penyelamat dari Singapore Civil Defence Force (SCDF) menerima laporan sekitar pukul 16.50 waktu setempat.
Seorang saksi mata, Muhammad Fairuz (40), yang sedang memancing di pantai, mengaku merasakan aliran listrik pada joran pancingnya saat petir menyambar. “Saya bisa merasakan arus (listrik) di joran pancing saya,” ujarnya. Fairuz melihat korban tergeletak tak sadarkan diri di atas papan paddleboard, sementara anggota rombongan lainnya mendayung kembali ke tepi. Bersama seorang pria lain, ia kemudian menggunakan kayak untuk mengevakuasi korban ke darat.
Video yang direkam oleh seorang pembaca Straits Times sekitar pukul 17.10 memperlihatkan petugas SCDF melakukan kompresi dada pada seseorang di area berumput dekat pantai. Sebuah kendaraan pemadam kebakaran ringan (Red Rhino) dan ambulans tampak berada di jalur pejalan kaki di belakang lokasi. Polisi juga terlihat berada di dekat area parkir D Pasir Ris Park pada pukul 18.30.
Insiden ini bukan yang pertama terjadi di Singapura. Pada Mei lalu, seorang pekerja tambak ikan tewas setelah tersambar petir. Pada Desember 2023, tiga pekerja dilarikan ke rumah sakit setelah petir menyambar dekat lokasi kerja mereka. Tingginya frekuensi sambaran petir di negara kota itu—rata-rata 176 hari per tahun—menjadikan keselamatan saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di perairan terbuka, sebagai perhatian serius.
Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat kondisi geografis yang juga rawan petir, terutama di musim pancaroba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa petir sering terjadi di wilayah perairan dan pesisir. Aktivitas wisata air seperti kayak dan paddleboarding yang populer di Bali, Lombok, atau Danau Toba pun memiliki risiko serupa. Belum ada regulasi khusus di Indonesia yang mewajibkan pemantauan cuaca ekstrem bagi pelaku olahraga air rekreasi, meski peringatan dini cuaca sudah tersedia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah otoritas setempat akan memperketat prosedur keselamatan, seperti mewajibkan pemantauan radar cuaca sebelum aktivitas air dimulai, atau memasang alat deteksi petir di area wisata pantai. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga air, edukasi tentang bahaya petir dan langkah evakuasi cepat menjadi semakin krusial.



