Wabah Kolera di Yangon: 500 Dirawat, Infrastruktur Myanmar Kian Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- Sedikitnya 500 warga Yangon dirawat akibat diare akut, dengan 149 kasus positif kolera terkonfirmasi melalui tes cepat.
- Konflik sipil berkepanjangan dan ekonomi yang lesu memperparah kerentanan sistem kesehatan Myanmar menghadapi wabah.
- Otoritas setempat mengklaim kasus baru mulai menurun, namun pengawasan epidemiologi masih terus diperketat.

Sebanyak 500 warga Yangon, Myanmar, dilarikan ke rumah sakit dalam sepekan terakhir akibat diare akut yang dipicu kolera. Dari jumlah tersebut, 149 orang dinyatakan positif melalui tes cepat, sementara sembilan di antaranya telah dikonfirmasi sebagai kasus Vibrio cholerae oleh laboratorium nasional. Pernyataan ini disampaikan Menteri Sosial Wilayah Yangon, Bo Htay, di hadapan parlemen regional, Senin (17/8).
Ini merupakan konfirmasi resmi pertama dari pemerintah Myanmar terkait wabah kolera, lebih dari sepekan setelah pasien pertama kali masuk rumah sakit. Menurut Bo Htay, lonjakan pasien terjadi sejak 9 Agustus lalu, dengan lebih dari 100 orang dirawat dalam sehari pada Kamis pekan lalu. Meski demikian, ia mengklaim jumlah kasus baru mulai menunjukkan penurunan.
Kolera adalah infeksi diare parah yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri. Penyakit ini dapat berakibat fatal dalam hitungan jam jika tidak segera ditangani. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kolera sebagai ancaman kesehatan global yang mencerminkan ketimpangan dan kurangnya pembangunan sosial-ekonomi.
Wabah ini menjadi pukulan telak bagi Myanmar yang infrastruktur dan sistem kesehatannya sudah rapuh akibat perang saudara yang berlangsung lebih dari lima tahun. Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 100.000 orang dan melumpuhkan perekonomian negara. Rumah sakit di Yangon, kota terbesar di Myanmar, kewalahan menangani lonjakan pasien di tengah keterbatasan sumber daya.
Seorang pasien lanjut usia, 92 tahun, yang dirawat dengan gejala diare meninggal dunia pada akhir pekan lalu. Namun, media pemerintah Global New Light of Myanmar mengutip pernyataan pejabat bahwa kematian tersebut disebabkan oleh penyakit jantung dan paru-paru yang sudah diderita sebelumnya, bukan semata-mata karena kolera. Pihak berwenang mengklaim telah melakukan pengawasan epidemiologi dan langkah-langkah pengendalian wabah di daerah terdampak.
Bagi Indonesia, wabah ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan sistem kesehatan di tengah krisis. Meski Indonesia tidak berbatasan langsung dengan Myanmar, mobilitas penduduk di kawasan ASEAN tetap menjadi celah potensial penyebaran penyakit. Pengalaman Indonesia dalam menangani wabah serupa, seperti kejadian luar biasa kolera di beberapa daerah, menunjukkan bahwa deteksi dini dan akses air bersih adalah kunci pencegahan.
Para analis kesehatan masyarakat menilai bahwa krisis di Myanmar diperparah oleh terbatasnya akses bantuan internasional dan runtuhnya layanan dasar. Tanpa dukungan global yang memadai, wabah seperti ini berisiko meluas ke negara tetangga. Pertanyaannya, akankah komunitas internasional merespons cepat sebelum krisis kemanusiaan ini semakin dalam?



