HUT ke-81 RI: Novita Hardini Hibahkan Dua Ambulans Gratis untuk Trenggalek
Baca dalam 60 detik
- Anggota DPR dari dapil Trenggalek menyerahkan dua unit ambulans baru kepada komunitas layanan sosial setempat pada perayaan kemerdekaan.
- Langkah ini menyusul kebijakan efisiensi anggaran yang membatasi penambahan armada kesehatan oleh pemerintah daerah.
- Armada tambahan diharapkan mempercepat akses warga ke fasilitas medis tanpa biaya, dengan koordinasi bersama Dinas Kesehatan setempat.

Di tengah perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini memilih momen tersebut untuk menyerahkan dua unit ambulans kepada warga Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Bantuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan jawaban atas kebutuhan mendesak akan transportasi medis gratis di daerah yang armada pelayanannya masih terbatas.
Dua kendaraan tersebut diterima oleh organisasi IST dan Ambulans Sigaling, dua lembaga yang selama ini bergerak di bidang layanan kemanusiaan. Penyerahan dilakukan pada Senin, bertepatan dengan peringatan kemerdekaan, sebuah simbol bahwa akses kesehatan adalah hak dasar yang harus terus diperjuangkan.
Ini merupakan kali kedua Novita memberikan bantuan serupa. Sebelumnya, pada 9 Maret 2026, ia telah menyerahkan ambulans yang kini dilaporkan aktif beroperasi melayani masyarakat. Tambahan armada baru ini dinilai perlu karena kebutuhan di tingkat akar rumput masih tinggi, terutama ketika kebijakan efisiensi membatasi kemampuan pemerintah kabupaten dalam menambah fasilitas publik.
Menurut Novita, inisiatif ini lahir dari aspirasi yang ia jemput langsung dari konstituennya. Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan harus tetap prima, dan kehadiran ambulans gratis adalah wujud gotong royong dalam pembangunan daerah. "Kami memberikan ambulans sebagai bentuk gotong royong dalam pembangunan Kabupaten Trenggalek," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Kuncahyo, relawan dari Sigaling, menyambut baik bantuan tersebut. Ia mengakui selama ini relawan kerap mengoperasikan ambulans dengan kondisi yang kurang layak. Dengan adanya unit baru, ia berharap pelayanan kemanusiaan yang mereka lakukan bisa semakin kuat dan menjangkau lebih banyak warga. "Allah mengamanahkan kepada Ibu Novita untuk menghibahkan unit ambulans ini agar digunakan untuk masyarakat," katanya.
Fenomena ini mencerminkan tantangan yang lebih luas di banyak daerah di Indonesia: ketika anggaran pemerintah ketat, peran relawan dan inisiatif pribadi menjadi penopang layanan sosial. Namun, ketergantungan pada bantuan individu juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan dan pemerataan. Apakah model seperti ini bisa menjadi solusi jangka panjang, atau justru menutupi celah yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara?
Ke depan, kolaborasi antara wakil rakyat, relawan, dan dinas kesehatan akan menjadi kunci. Dengan adanya hotline dan layanan Novita Center, diharapkan masyarakat tidak lagi ragu untuk mencari pertolongan medis. Namun, ujian sebenarnya adalah apakah inisiatif ini bisa direplikasi di daerah lain yang menghadapi masalah serupa, dan apakah pemerintah pusat akan mengambil peran lebih besar dalam memastikan akses kesehatan yang merata.



