FIFA Pecat COO Kevin Lamour Usai Kritik Rencana Jual Hak Siar Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- FIFA resmi mengakhiri kerja sama dengan Kevin Lamour per 17 Agustus 2026, menyusul kritiknya terhadap rencana penjualan hak siar Piala Dunia kepada investor.
- Langkah ini menegaskan kebijakan zero tolerance FIFA terhadap perbedaan pendapat internal, sekaligus memicu pertanyaan tentang transparansi tata kelola organisasi sepak bola dunia.
- Keputusan tersebut berpotensi mempengaruhi arah komersialisasi Piala Dunia mendatang dan menjadi sorotan bagi federasi nasional, termasuk PSSI, dalam menjaga independensi.

FIFA resmi memutus hubungan kerja dengan Chief Operating Officer (COO) Kevin Lamour pada 17 Agustus 2026, hanya beberapa hari setelah ia mengkritik rencana Presiden Gianni Infantino untuk menjual sebagian hak siar Piala Dunia kepada investor. Pemecatan ini dikonfirmasi langsung oleh FIFA kepada Sky News, menandai babak baru dalam dinamika internal organisasi sepak bola tertinggi di dunia.
Kritik Lamour muncul di tengah rencana FIFA yang tengah menjajaki kemitraan dengan dana investasi global untuk memonetisasi hak siar turnamen. Langkah ini dinilai sebagian kalangan sebagai upaya meningkatkan pendapatan, namun di sisi lain memicu kekhawatiran tentang independensi dan komersialisasi berlebihan Piala Dunia. Lamour, yang sebelumnya dipercaya mengelola operasional harian FIFA, dianggap mewakili suara kritis di internal yang selama ini jarang terdengar.
Keputusan FIFA ini menjadi sorotan karena menghadirkan pertanyaan besar: sejauh mana kebebasan berpendapat di lingkungan organisasi yang mengatur sepak bola dunia? Beberapa pengamat menilai pemecatan ini sebagai sinyal bahwa perbedaan pandangan dengan pimpinan puncak tidak akan ditoleransi. Hal ini berpotensi memicu kekhawatiran di kalangan federasi anggota, termasuk PSSI di Indonesia, yang selama ini menjalin hubungan erat dengan FIFA.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. PSSI sebagai federasi nasional kerap berinteraksi dengan FIFA dalam berbagai program pengembangan sepak bola. Keputusan FIFA yang tegas terhadap Lamour bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya menjaga harmoni internal, namun juga memunculkan kekhawatiran tentang minimnya ruang bagi kritik membangun. Di tengah upaya Indonesia menjadi tuan rumah berbagai event internasional, stabilitas hubungan dengan FIFA menjadi krusial.
Para analis memperkirakan bahwa langkah FIFA ini akan memicu diskusi lebih luas tentang tata kelola organisasi olahraga global. Beberapa pihak menilai bahwa komersialisasi Piala Dunia memang tak terelakkan, tetapi harus diimbangi dengan transparansi dan akuntabilitas. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah pemecatan Lamour akan memperlambat rencana investasi tersebut, atau justru mempercepatnya dengan menghilangkan hambatan internal?
Ke depan, publik akan mencermati siapa pengganti Lamour dan bagaimana FIFA menangani isu serupa di masa mendatang. Keputusan ini juga menjadi ujian bagi Infantino dalam menjaga kredibilitas FIFA di mata dunia. Apakah langkah tegas ini akan diterima sebagai upaya menegakkan disiplin, atau justru dianggap sebagai pembungkaman kritik? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, dinamika di tubuh FIFA akan terus menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia.



