Gugup di Istana, Neeltje Werimon Buktikan Diri sebagai Pembawa Baki: 'Tugas Berat, tapi Bangga'
Baca dalam 60 detik
- Neeltje Werimon, siswi asal Jayapura, sukses mengemban tugas sakral membawa baki bendera dalam Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI di Istana Merdeka.
- Di balik rasa gugup yang diakuinya, pelajar Papua ini menuntaskan misi tanpa cela dan menyebut pengalaman tersebut sebagai bekal berharga untuk masa depannya.
- Kisah Neeltje menjadi simbol representasi generasi muda dari Indonesia timur yang kini bercita-cita menjadi insinyur pertambangan, menantikan dukungan nyata bagi talenta daerah.

JAKARTA, LyndHub.com — Di tengah hikmat Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih di halaman Istana Merdeka, Senin (17/8/2026), nama Neeltje Deliana Insjowi Werimon mencuri perhatian. Siswi SMA Negeri 8 Jayapura ini memegang peran krusial sebagai pembawa baki, menyerahkan bendera pusaka langsung ke hadapan Presiden Prabowo Subianto—sebuah tugas yang menurutnya tidak memberi ruang untuk salah langkah.
Bagi Neeltje, momen yang disaksikan jutaan pasang mata melalui layar kaca maupun langsung di lokasi itu adalah puncak dari latihan intensif selama sebulan terakhir. Ia mengakui rasa gugup sempat menyelimuti saat melangkah dari tiang bendera menuju mimbar kehormatan. Namun, kebanggaan membawa bendera di istana kepresidenan dan bertemu langsung dengan kepala negara berhasil mengalahkan degup jantung yang tak karuan.
“Tentu gugup sekali karena harus melakukan tugas yang sangat berat ini, tetapi sisi lain saya juga excited karena bisa melakukan pengibaran di Istana dan bertemu dengan Bapak Presiden,” tuturnya selepas menjalankan tugas, seperti dikutip dari keterangan resmi. Pernyataan itu menggambarkan beban psikologis yang dipikul anggota Paskibraka, yang dituntut sempurna di hadapan publik dan pemimpin tertinggi negara.
Perjalanan Neeltje menuju Istana Merdeka bukanlah kebetulan. Ia terpilih mewakili Provinsi Papua setelah melalui seleksi ketat. Selama kurang lebih satu bulan, ia dan puluhan anggota Paskibraka lainnya menjalani pembekalan, latihan fisik, dan penguatan mental. Ikatan yang terbentuk selama masa karantina itu membuat perpisahan di akhir acara terasa berat. “Haru dan lega bercampur, sedih juga harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga,” ujarnya.
Di balik sorotan kamera, Neeltje menyimpan mimpi besar: menjadi insinyur pertambangan. Baginya, peringatan kemerdekaan ke-81 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat akan jasa para pahlawan yang membuka jalan bagi generasi muda untuk mengejar cita-cita. Ia berharap pengalaman berharga ini menjadi modal untuk mewujudkan ambisinya, sekaligus membuktikan bahwa putra-putri Papua mampu bersaing di tingkat nasional.
Kisah Neeltje menjadi cermin pentingnya pemerataan kesempatan bagi talenta muda dari Indonesia timur. Di tengah wacana pembangunan Papua yang kerap disorot, kehadirannya di panggung nasional adalah bukti nyata bahwa anak-anak daerah mampu tampil gemilang. Namun, pertanyaan yang menggantung: akankah pemerintah dan dunia usaha memberikan ruang lebih luas bagi generasi seperti Neeltje untuk mengembangkan potensi di bidang yang ia impikan, khususnya sektor pertambangan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah?
Di akhir perbincangan, Neeltje menyampaikan harapan tulusnya untuk Presiden Prabowo. “Semoga Bapak panjang umur, sehat selalu, dan bisa melihat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang jauh lebih baik lagi, dan bisa melihat kami generasi muda menjadi harapan baru bangsa,” ujarnya. Pernyataan itu bukan sekadar doa, melainkan juga tantangan bagi kepemimpinan nasional untuk menjadikan generasi muda sebagai prioritas pembangunan—bukan hanya sebagai simbol seremoni, tetapi sebagai mitra sejati dalam membangun negeri.



