Perang Masa Depan Butuh AI di Garis Depan: Smack Technologies Raup Rp950 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Startup pertahanan Smack Technologies mengamankan pendanaan Seri B senilai 61 juta dolar AS untuk mempercepat produksi sistem AI militer dan mengembangkan perangkat wearable untuk medan perang.
- Keputusan Pentagon yang melarang penggunaan produk Anthropic memicu perburuan vendor AI alternatif, menjadikan Smack sebagai salah satu pemain kunci yang diuntungkan.
- Dana segar ini akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi sistem Omega dan mengembangkan perangkat Alpha, dengan target 10-20 unit prototipe dalam enam bulan ke depan.

Washington, D.C. โ Smack Technologies, perusahaan rintisan di bidang teknologi pertahanan yang mengembangkan perangkat kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan militer, baru saja mengumumkan perolehan pendanaan Seri B senilai 61 juta dolar AS (sekitar Rp950 miliar). Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat produksi produk unggulannya serta mengembangkan perangkat AI wearable yang dirancang khusus untuk digunakan di medan perang.
Keputusan ini muncul di tengah gejolak yang melanda industri AI militer Amerika Serikat. Pada Maret lalu, Departemen Pertahanan AS secara resmi menetapkan Anthropic, salah satu pengembang AI terkemuka, sebagai 'risiko rantai pasokan'. Langkah ini memicu kekacauan di kalangan militer yang selama ini bergantung pada teknologi Anthropic, sekaligus membuka peluang besar bagi perusahaan-perusahaan kecil seperti Smack yang sebelumnya kurang diperhitungkan.
Menurut Andy Markoff, salah satu pendiri sekaligus CEO Smack Technologies, efek dari keputusan tersebut sangat terasa. Dalam beberapa bulan terakhir, pihaknya telah melakukan serangkaian diskusi dengan Korps Marinir dan Angkatan Laut AS. Kedua cabang militer tersebut secara langsung mendesak Smack untuk mempercepat produksi, mengingat kebutuhan mendesak akan sistem AI yang dapat diandalkan di tengah krisis kepercayaan terhadap vendor sebelumnya.
Urgensi ini tidak lepas dari kekhawatiran yang lebih luas di internal Pentagon. Markoff mengungkapkan bahwa konflik masa depan dengan negara adidaya akan berlangsung di lingkungan yang terdesentralisasi dan minim komunikasi. Berbeda dengan operasi di Irak dan Afghanistan yang mengandalkan pusat komando yang terhubung dengan baik, perang di masa depan menuntut keputusan taktis yang harus diambil langsung di medan perang, tanpa menunggu data terkirim ke pusat.
"Perang masa depan akan lebih terdesentralisasi daripada konflik apa pun yang pernah kita hadapi," ujar Markoff, menekankan bahwa sebagian besar keputusan taktis harus dibuat di lapangan sebelum data mencapai sistem terpusat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Smack mengandalkan teknologi inti bernama Omega. Sistem ini dirancang untuk mempersingkat proses perencanaan penembakan (fires-planning) yang selama ini menjadi salah satu tahapan paling krusial dan rumit dalam operasi militer. Omega menggunakan model reinforcement-learning dan computer vision real-time untuk menghasilkan opsi-opsi serangan dalam hitungan menit, sekaligus mampu memperbaiki rencana yang gagal dalam hitungan detik. Kemampuan ini dinilai penting untuk mengatasi 'kill chain' yang selama ini dianggap rapuh dan lambat beradaptasi dalam pertempuran yang bergerak cepat.
Kepercayaan militer terhadap teknologi Smack semakin terlihat dari dua kontrak prototipe yang berhasil dimenangkan perusahaan pada Juli lalu. Kontrak tersebut berasal dari Joint Fires Network (JFN) dan Marine Corps Warfighting Lab. Meskipun nilai kontrak tidak diungkapkan secara rinci, Smack memastikan bahwa nilai gabungannya mencapai lebih dari tujuh digit angka.
Selain mempercepat produksi Omega, pendanaan segar ini juga akan dialokasikan untuk pengembangan Alpha, sebuah perangkat AI wearable berbentuk layar fleksibel yang dipasang di lengan. Perangkat ini dirancang untuk menggantikan papan tulis darurat yang selama ini sering digunakan tentara di lapangan. Smack telah mendirikan kantor khusus di Austin, Texas, untuk menggarap proyek ini, dengan target memproduksi 10 hingga 20 unit prototipe dalam enam bulan ke depan.
Lonjakan permintaan ini juga berdampak pada pertumbuhan internal perusahaan. Smack yang pada April lalu hanya memiliki 19 karyawan, kini telah mempekerjakan 51 orang dan berencana menambah hingga sekitar 85 orang pada akhir tahun. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mendapat kepercayaan dari militer, tetapi juga mampu menarik minat investor dan talenta terbaik di bidang teknologi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting tentang arah masa depan teknologi militer global. Ketergantungan pada AI dalam pengambilan keputusan taktis akan menjadi standar baru, dan negara-negara yang tidak mempersiapkan diri akan tertinggal. Indonesia, yang tengah memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), perlu mencermati bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan untuk meningkatkan efektivitas operasi, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan di kawasan yang semakin kompleks.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana teknologi seperti Omega dan Alpha akan diadopsi secara luas, tidak hanya oleh militer AS tetapi juga oleh sekutu-sekutunya. Apakah Indonesia akan menjadi salah satu pengadopsi awal, atau justru hanya menjadi penonton di tengah perlombaan AI militer global? Jawabannya akan sangat menentukan postur pertahanan Indonesia di masa depan.



