Penuaan Biologis yang Dipercepat Meningkatkan Risiko Demensia pada Wanita: Studi 26 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 3.000 partisipan menunjukkan bahwa percepatan penuaan biologis meningkatkan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular pada semua orang, serta demensia khusus pada wanita.
- Risiko demensia pada wanita dengan penuaan biologis dipercepat dua kali lipat dibandingkan mereka yang penuaannya melambat, meskipun pria tidak menunjukkan kaitan signifikan.
- Para ahli menekankan bahwa pengukuran usia biologis belum siap dipakai di klinik, namun dapat menjadi alat komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien untuk memotivasi perubahan gaya hidup.

Sebuah studi observasional yang melibatkan lebih dari 3.000 partisipan menemukan bahwa percepatan penuaan biologis—kondisi ketika sel-sel tubuh menua lebih cepat daripada usia kronologis—berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular pada semua orang, serta risiko demensia yang lebih tinggi secara khusus pada wanita. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports ini menyoroti pentingnya memperhatikan kesehatan seluler sebagai penanda risiko jangka panjang, terutama bagi populasi yang rentan.
Penelitian yang menggunakan data dari Framingham Offspring Study ini melacak partisipan selama lebih dari dua dekade, dengan median waktu tindak lanjut 26 tahun untuk demensia dan mortalitas, serta 23 tahun untuk penyakit kardiovaskular. Selama periode tersebut, tercatat 713 kejadian kardiovaskular, 1.105 kematian, dan 265 kasus demensia. Para peneliti mengelompokkan partisipan ke dalam tiga kategori berdasarkan perbandingan usia biologis dan kronologis: dipercepat, melambat, atau sejalan. Rata-rata, pria dengan penuaan dipercepat memiliki usia biologis empat tahun lebih tua dari usia sebenarnya, sementara wanita 2,5 tahun lebih tua.
Hasil analisis menunjukkan bahwa partisipan dengan penuaan biologis dipercepat memiliki risiko penyakit kardiovaskular 1,6 kali lebih tinggi pada pria dan 1,8 kali lebih tinggi pada wanita, dibandingkan dengan kelompok yang penuaannya melambat. Risiko kematian juga dua kali lebih besar pada kedua jenis kelamin. Namun, yang paling menonjol adalah temuan bahwa wanita dengan penuaan dipercepat memiliki risiko demensia yang lebih tinggi secara signifikan, sementara pada pria tidak ditemukan kaitan yang bermakna secara statistik. Analisis sensitivitas bahkan menunjukkan bahwa wanita dengan usia biologis yang sejalan pun tetap berisiko lebih tinggi terkena demensia dibandingkan mereka yang penuaannya melambat.
Para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini memberikan catatan kritis. Salim Hayek, profesor kardiovaskular dari University of Texas Medical Branch, menggarisbawahi bahwa penambahan usia biologis ke dalam model prediksi yang sudah mencakup faktor risiko tradisional seperti merokok, tekanan darah, dan diabetes hanya meningkatkan akurasi prediksi secara marginal. "Ukuran ini melacak risiko, tetapi tidak memberi informasi tambahan yang signifikan di luar faktor risiko individual," ujarnya. Sementara itu, Beverly Pennington, praktisi perawat geriatri, menyoroti perlunya memahami faktor-faktor yang menyebabkan percepatan penuaan, seperti pendidikan, penyalahgunaan zat, dan lingkungan.
Meskipun temuan ini menarik, para peneliti mengakui keterbatasan studi, termasuk sifat observasional yang tidak dapat membuktikan hubungan kausal, serta kurangnya standar universal dalam mengukur usia biologis. Selain itu, mayoritas partisipan berasal dari keturunan Eropa, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi ke populasi lain. Cheng-Han Chen, direktur medis program jantung di MemorialCare Saddleback Medical Center, menekankan bahwa usia biologis belum siap digunakan sebagai alat klinis rutin. "Diperlukan lebih banyak penelitian untuk menetapkan pengukuran standar dan menentukan apakah perubahan usia biologis benar-benar berdampak pada hasil kesehatan," katanya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat meningkatnya prevalensi demensia dan penyakit kardiovaskular di tengah populasi yang menua. Meskipun pengukuran usia biologis belum tersedia secara luas, masyarakat dapat mulai memperhatikan faktor-faktor yang mempercepat penuaan, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Hayek menyarankan bahwa konsep usia biologis dapat menjadi alat komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien. "Mengatakan kepada pria berusia 55 tahun bahwa tubuhnya terlihat seperti 61 tahun akan lebih membekas daripada membacakan daftar hasil laboratorium yang abnormal. Jika itu memotivasi seseorang untuk mengontrol tekanan darah atau berhenti merokok, itu sudah lebih bermanfaat daripada sekadar statistik prediksi," jelasnya.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan percepatan penuaan biologis dan mengembangkan standar pengukuran yang valid. Pertanyaan yang muncul adalah: akankah suatu saat usia biologis menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin di Indonesia? Jika ya, bagaimana cara mengintegrasikannya dengan sistem layanan kesehatan yang ada? Jawabannya mungkin akan menentukan bagaimana kita mencegah penyakit terkait usia di masa mendatang.



