Bek Inter Bastoni Tak Penuhi Panggilan Penyidik, Kasus Prostitusi di Italia Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Alessandro Bastoni menolak hadir dalam pemeriksaan penyidik terkait dugaan prostitusi bawah umur, menggunakan hak diam seperti di AS.
- Pemain lain seperti Daniel Maldini dan Kevin Bonifazi telah diperiksa sebagai saksi, sementara Riccardo Calafiori dijadwalkan Jumat.
- Kasus ini berpotensi memengaruhi citra pesepak bola Italia dan memicu diskusi tentang regulasi hiburan malam di kalangan atlet.

Bek Inter Milan, Alessandro Bastoni, memutuskan untuk tidak memenuhi panggilan penyidik dalam kasus dugaan prostitusi yang melibatkan layanan pendamping dan kemungkinan pelanggaran usia. Langkah ini diambil meskipun ia sebelumnya dijadwalkan diperiksa pada Kamis (20/2) di Milan.
Penyelidikan yang dilakukan oleh otoritas Italia menyasar sebuah perusahaan penyelenggara acara di wilayah Milan yang menawarkan paket hiburan lengkap, termasuk makanan, minuman, dan jasa pendamping. Meskipun kegiatan tersebut tidak sepenuhnya ilegal, Bastoni menjadi tersangka karena diduga menjalin hubungan dengan seorang gadis yang saat itu berusia 17 tahun delapan bulan pada 2020, ketika pemain berusia 21 tahun. Baik Bastoni maupun gadis tersebut membantah adanya hubungan, apalagi transaksi uang.
Kuasa hukum Bastoni, Salvatore Scuto, mengonfirmasi kepada kantor berita ANSA bahwa kliennya tidak akan hadir. Tindakan ini sepenuhnya sesuai dengan hak hukum di Italia, yang mirip dengan hak untuk tidak menjawab pertanyaan yang dapat memberatkan diri sendiri di Amerika Serikat. Dengan demikian, Bastoni memilih untuk tidak memberikan keterangan resmi kepada penyidik.
Sementara itu, sejumlah pemain lain justru dipanggil sebagai saksi dan tidak berstatus tersangka. Gelandang Lazio, Daniel Maldini, dan mantan bek Bologna, Kevin Bonifazi, telah menjalani pemeriksaan pada hari yang sama. Bek Arsenal, Riccardo Calafiori, dilaporkan akan hadir untuk diperiksa pada Jumat (21/2). Perbedaan status ini menunjukkan bahwa penyidik masih terus mengumpulkan keterangan untuk memperjelas alur kasus.
Kasus ini menyoroti sisi gelap kehidupan pesepak bola di Italia, di mana hiburan malam kerap menjadi bagian dari gaya hidup atlet. Namun, ketika melibatkan individu di bawah umur, masalah ini memasuki ranah pidana. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah mencuat di kalangan artis dan olahragawan, memicu diskusi tentang perlindungan anak dan pengawasan terhadap figur publik. Regulasi yang ketat dan kesadaran hukum menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kasus serupa.
Ke depan, perkembangan kasus ini akan bergantung pada keterangan saksi dan bukti yang diajukan penyidik. Jika terbukti bersalah, Bastoni bisa menghadapi sanksi pidana dan dampak pada kariernya. Pertanyaan besarnya: apakah kasus ini akan mendorong perubahan dalam pengawasan aktivitas hiburan di kalangan atlet profesional Italia?



