Gaji John Stones Terlalu Mahal untuk Serie A: Inter, Juventus, dan Milan Gigit Jari
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah Inggris John Stones dikabarkan hengkang dari Manchester City setelah satu dekade, dengan tuntutan gaji pokok mencapai 8-9 juta euro plus bonus 2-3 juta euro per musim.
- Jurnalis Alfredo Pedullà menilai angka tersebut terlalu tinggi untuk klub Italia mana pun, termasuk Inter, Juventus, dan AC Milan yang tengah membutuhkan bek baru.
- Meski kualitas Stones tak diragukan, kondisi keuangan Serie A yang ketat membuat transfer ini hampir mustahil terwujud dalam waktu dekat.

Mimpi klub-klub papan atas Italia untuk mendatangkan John Stones dari Manchester City sepertinya harus kandas. Bek tengah timnas Inggris itu dikabarkan mematok gaji yang dinilai terlalu mahal bagi Serie A, membuat Inter Milan, Juventus, dan AC Milan berpikir ulang untuk bergerak.
Menurut jurnalis transfer Alfredo Pedullà, Stones telah memutuskan untuk meninggalkan Etihad Stadium setelah satu dekade membela The Citizens di bawah asuhan Pep Guardiola. Keputusan ini membuka peluang bagi klub-klub Eropa, termasuk raksasa Italia, untuk mendapatkan jasanya. Namun, kabar dari kanal YouTube Pedullà menyebutkan bahwa tuntutan finansial sang pemain menjadi batu sandungan utama.
Pedullà mengungkapkan bahwa Stones meminta gaji pokok sebesar 8 hingga 9 juta euro per musim, ditambah bonus sekitar 2 hingga 3 juta euro. Jika dikonversi ke rupiah, angka tersebut setara dengan lebih dari Rp 150 miliar per tahun — sebuah nominal yang sulit dijangkau klub Serie A di tengah keterbatasan anggaran. "Di Italia, mereka hanya akan memberimu uang sebanyak itu jika mereka sudah memutuskan untuk gila," ujar Pedullà dengan nada sinis.
Meski mahal, kualitas Stones tidak perlu diragukan. Bek berusia 30 tahun itu telah memenangi berbagai gelar bersama Manchester City, termasuk Liga Champions dan beberapa trofi Premier League. Pengalamannya bermain di sistem taktis Guardiola yang kompleks membuatnya dianggap sebagai salah satu bek terbaik Eropa. Pedullà sendiri memuji kemampuannya, bahkan menyebut bahwa di Italia ia akan bermain "dengan dua cerutu di tangan dan penutup mata" — sebuah metafora bahwa levelnya terlalu tinggi untuk kompetisi Serie A.
Bagi konteks Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan betapa ketatnya persaingan finansial di sepak bola Eropa. Klub-klub Italia yang dulu berjaya kini harus bersaing dengan raksasa Inggris dan Arab Saudi yang memiliki daya beli lebih besar. Jika Stones akhirnya memilih bertahan di Premier League atau pindah ke klub kaya lainnya, hal ini akan menjadi cerminan pergeseran kekuatan ekonomi dalam sepak bola global. Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengikuti Serie A, ketiadaan pemain sekelas Stones bisa mengurangi daya tarik liga, namun juga membuka peluang bagi pemain muda lokal untuk bersinar.
Inter, Juventus, dan Milan saat ini sama-sama membutuhkan tambahan tenaga di lini belakang. Inter kehilangan beberapa pemain kunci, Juventus sedang dalam proses regenerasi, sementara Milan ingin memperkuat pertahanan di bawah pelatih anyar. Namun, dengan kondisi keuangan yang belum pulih sepenuhnya pasca-pandemi, mustahil bagi mereka untuk memenuhi tuntutan gaji Stones. Apakah klub-klub Italia akan mencari alternatif yang lebih terjangkau, atau justru menunggu hingga harga Stones turun? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: Serie A harus lebih kreatif dalam berburu pemain bintang.



