Pocognoli Resmi Latih Skotlandia: Gaya Menyerang Jadi Taruhan Baru di Tengah Tekanan Regenerasi
Baca dalam 60 detik
- Eks pelatih Union Saint-Gilloise itu meneken kontrak dua tahun untuk menggantikan Steve Clarke, dengan misi mempertahankan prestasi sekaligus mengubah filosofi permainan.
- Kegagalan di Monaco tak menghentikan langkahnya; ia dianggap punya pendekatan progresif yang diyakini SFA bisa membangkitkan kembali antusiasme suporter.
- Laga perdana di Nations League melawan Slovenia pada 26 September akan menjadi ujian awal bagi skema barunya.

Setelah tujuh tahun di bawah kendali Steve Clarke, tim nasional Skotlandia resmi menunjuk Sebastien Pocognoli sebagai pelatih kepala anyar. Pelatih asal Belgia berusia 39 tahun itu menandatangani kontrak awal dua tahun, dengan mandat yang tidak ringan: mempertahankan tren positif sekaligus menyuntikkan gaya bermain yang lebih berani dan atraktif.
Pocognoli bukan nama asing di kancah sepak bola Eropa. Ia membawa Union Saint-Gilloise meraih gelar liga Belgia pertama dalam 90 tahun pada musim 2024-25, sebuah pencapaian yang mengantarnya dinobatkan sebagai pelatih terbaik di negerinya. Namun, kariernya di Monaco berakhir pahitโia dipecat pada Juni setelah hanya delapan bulan menjabat. Kekalahan beruntun dan ketidakcocokan dengan manajemen menjadi biang keladinya. Meski begitu, Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) menilai pengalaman itu tidak mengurangi kapasitasnya untuk membawa perubahan.
Pekerjaan Pocognoli di Skotlandia pada 2026 jelas berbeda dengan yang dihadapi Clarke pada 2019. Saat itu, Skotlandia baru saja dipermalukan Kazakhstan dan telah dua dekade absen dari turnamen besar. Kini, setelah Clarke membawa tim ke dua Euro beruntun dan satu Piala Dunia, ekspektasi publik melonjak. Pocognoli dituntut untuk setidaknya menyamai catatan tersebut, tetapi yang lebih penting, ia harus menjawab kerinduan suporter akan permainan yang lebih hidup. Craig Mulholland, kepala petugas sepak bola SFA, menyebut Pocognoli akan membawa "gaya agresif dan menyerang yang akan menggairahkan pendukung", seraya menegaskan Skotlandia ingin "berevolusi dari posisi kuat".
Filosofi yang diusung Pocognoli memang terdengar menjanjikan. Ia menggambarkan sepak bolanya sebagai "dominasi, baik dengan maupun tanpa bola". Ia menginginkan tim yang menekan dengan intensitas tinggi, tetapi tetap menguasai penguasaan bola. Namun, transisi ke gaya berbasis penguasaan bola tidak bisa instan. Pelatih tim nasional memiliki waktu latihan yang jauh lebih terbatas dibanding pelatih klub, sehingga kesabaran menjadi kata kunci. Pocognoli sendiri pernah bekerja sebagai pelatih muda di level internasional bersama Belgia, serta membina akademi di USG dan Genkโmodal yang dianggap SFA sebagai nilai tambah.
Di sisi lain, Pocognoli mewarisi generasi emas Skotlandia yang mulai menua. Kapten Andy Robertson, John McGinn, dan Scott McTominay masih bermain di level tertinggi Eropa, tetapi skuad Piala Dunia lalu tercatat sebagai salah satu yang tertua. Clarke sendiri dalam wawancara perpisahannya menegaskan bahwa inti tim yang ia bangun "belum selesai". Namun, Pocognoli dituntut untuk mulai menekan tombol regenerasi. Ia perlu memberi ruang bagi pemain muda seperti Ben Gannon-Doak (20), Findlay Curtis (19), dan Tyler Fletcher yang belum sempat tampil di Piala Dunia. Lennon Miller, gelandang muda yang sempat dipanggil, juga menjadi sorotan. Sementara itu, striker Robbie Ure yang baru pindah ke Sevilla setelah musim gemilang bersama Sirius di Swedia, menjadi harapan baru di lini depan.
Jadwal perdana Pocognoli akan langsung padat. Ia akan memimpin pemusatan latihan selama tiga pekan dengan empat pertandingan, sebuah format baru yang dirancang untuk mengurangi jeda kompetisi klub. Ini menjadi keuntungan besar baginya untuk menerapkan ide-ide baru. Laga pertama di Nations League melawan Slovenia pada 26 September akan menjadi ujian awal, disusul laga kandang melawan Swiss, tandang ke Makedonia Utara, dan pertemuan kedua dengan Slovenia di Glasgow.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perubahan di kubu Skotlandia ini menarik untuk dicermati. Bagaimana sebuah tim nasional dengan basis penggemar fanatik mengelola transisi pelatih tanpa kehilangan identitas? Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya keseimbangan antara mempertahankan hasil dan membangun gaya permainan jangka panjang. Pocognoli mungkin bukan nama sebesar beberapa kandidat lain, tetapi keberanian SFA memberi kepercayaan kepada pelatih muda dengan filosofi jelas patut diapresiasi. Pertanyaannya, apakah ia mampu membuktikan bahwa kegagalan di Monaco hanyalah sebuah anomali, bukan cerminan kapasitasnya? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



