Kemenangan Bersejarah di Ellis Park: Garda Depan Revitalisasi Rezim Borthwick?
Baca dalam 60 detik
- Timnas Inggris akan menghadapi Afrika Selatan di Ellis Park, markas yang belum pernah ditaklukkan dalam 54 tahun, setelah performa buruk di Six Nations.
- Kekalahan beruntun di Six Nations memicu evaluasi internal RFU, namun pelatih Steve Borthwick tetap dipertahankan untuk Piala Dunia 2026.
- Kemenangan atas juara dunia ganda bisa menyelamatkan proyek Borthwick dan mengubah arah tim menuju gaya bermain lebih agresif.

Setelah menjalani Six Nations yang penuh kekecewaan dengan empat kekalahan beruntun, tim nasional rugby Inggris kini menghadapi ujian paling berat: menaklukkan Afrika Selatan di kandang mereka, Ellis Park, Johannesburg—sebuah benteng yang belum pernah ditembus tim putih sejak 1972. Laga ini bukan sekadar pertandingan persahabatan, melainkan momentum yang bisa menentukan masa depan pelatih Steve Borthwick dan seluruh proyek kebangkitan rugby Inggris.
Performa Inggris di Six Nations 2025 menjadi antiklimaks setelah rentetan 11 kemenangan beruntun sepanjang tahun sebelumnya. Disiplin yang buruk, akurasi rendah, dan eksekusi yang kacau membuat para pendukung frustrasi. Satu-satunya titik terang adalah pertandingan terakhir melawan Prancis di Stade de France, di mana meskipun kalah 48-46, Inggris menunjukkan permainan menyerang yang atraktif dan semangat juang tinggi. Pertandingan itu dianggap sebagai gambaran awal "cara baru" bermain yang diinginkan Borthwick.
Manajer asal Inggris itu, yang dikenal mengutamakan kontinuitas, justru melakukan perubahan besar-besaran setelah kekalahan dari Skotlandia dan Irlandia. Ia merombak total lini belakang untuk menghadapi Italia dan Prancis. Hasilnya, trio gelandang Fin Smith, Seb Atkinson, dan Tommy Freeman kini tampil bersama untuk ketiga kalinya secara beruntun—sebuah sinyal stabilitas di tengah ketidakpastian. Sementara itu, pemain kunci seperti George Martin dan George Furbank kembali setelah absen 18 bulan karena cedera, menambah kedalaman skuad.
Kapten Jamie George mengaku terkesan dengan semangat anak asuhnya. "Ada keinginan luar biasa dari para pemain untuk segera bertanding. Saya bahkan harus meminta mereka untuk sedikit mengalihkan pikiran," ujarnya dalam podcast Rugby Union Weekly. Menurut George, tekad untuk menebus kegagalan di Six Nations menjadi motivasi utama. Ia yakin persiapan yang matang, termasuk aklimatisasi selama seminggu di ketinggian, akan membuahkan hasil.
Di sisi lain, Afrika Selatan bukanlah lawan yang mustahil dikalahkan. Juara dunia dua kali berturut-turut itu belum bertanding sejak November, dan sejumlah pemainnya yang bermain di Jepang mungkin kurang matang secara pertandingan. Australia musim lalu membuktikan bahwa Springboks bisa rentan jika lengah. Namun, dengan rekor kandang yang menakutkan dan ambisi meraih tiga gelar Piala Dunia beruntun, Afrika Selatan tetap menjadi favorit.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menarik karena menunjukkan bagaimana tim besar menghadapi tekanan setelah kegagalan. Pelajaran tentang manajemen krisis, rotasi pemain, dan adaptasi terhadap lawan tangguh bisa menjadi referensi bagi pengembangan olahraga di tanah air, terutama dalam menghadapi ajang internasional. Selain itu, keberhasilan Inggris mengatasi ketinggian Ellis Park bisa menjadi studi kasus bagi atlet Indonesia yang berlaga di dataran tinggi.
Setelah laga ini, Inggris masih harus menghadapi Fiji, Argentina, dan lawan-lawan berat lainnya dalam tur yang padat. Tiga kekalahan beruntun bukanlah skenario yang mustahil, dan itu akan memicu kembali pertanyaan-pertanyaan sulit bagi Borthwick dan federasi. Namun, kemenangan bersejarah di Ellis Park bisa menjadi titik balik yang mengubur kenangan pahit Six Nations dan menghidupkan kembali proyek Borthwick menuju Piala Dunia 2027 di Australia.



