Australia Kembali Hentikan Langkah Inggris di Final T20 World Cup
Baca dalam 60 detik
- Australia sukses mempertahankan gelar juara T20 World Cup ketujuh setelah mengalahkan Inggris dengan tujuh wicket di Lord's.
- Penampilan gemilang Beth Mooney (64) dan Phoebe Litchfield (48) menjadi kunci kemenangan Australia, sementara Inggris gagal memanfaatkan keunggulan kandang.
- Kekalahan ini menegaskan dominasi Australia di kriket wanita dan menjadi pekerjaan rumah besar bagi Inggris menjelang Ashes musim panas mendatang.

Australia kembali menunjukkan superioritasnya di kriket wanita dengan mengalahkan Inggris dalam final T20 World Cup di Lord's, Minggu (2/6). Kemenangan tujuh wicket ini mempertegas status Australia sebagai penguasa turnamen, sekaligus memupus harapan Inggris yang tampil di hadapan publik sendiri untuk pertama kalinya sejak 2017.
Inggris yang tampil kurang agresif hanya mampu mengumpulkan 150-4 dalam 20 over. Kapten Nat Sciver-Brunt menjadi tulang punggung dengan 58 run dari 53 bola, namun kurangnya dukungan dari pemain lain membuat skor tersebut mudah dikejar Australia. Freya Kemp mencetak 44 run dari 28 bola, tetapi itu tidak cukup untuk memberi tekanan berarti.
Australia memulai pengejaran dengan tenang meski kehilangan Georgia Voll di over kedua. Duet Phoebe Litchfield (48) dan Beth Mooney (64) kemudian membangun kemitraan 100 run hanya dalam 67 bola, menghancurkan pertahanan Inggris. Mooney, yang dikenal sebagai spesialis final, kembali menunjukkan kelasnya dengan memanfaatkan setiap bola longgar.
Kontroversi sempat mewarnai pertandingan saat wasit TV memutuskan tangkapan Sophie Ecclestone terhadap Ellyse Perry tidak sah. Keputusan itu memicu kemarahan pemain dan penonton, namun tidak mengubah jalannya pertandingan. Australia hanya butuh 7 run saat itu, dan akhirnya memenangkan pertandingan dengan 17 bola tersisa setelah Ecclestone melepaskan lima wide di over berikutnya.
Bagi Inggris, kekalahan ini menjadi pukulan berat setelah mereka menunjukkan peningkatan signifikan di bawah pelatih Charlotte Edwards. Namun, jarak dengan Australia masih terlihat jelas. Pelatih kepala Inggris harus segera mencari cara untuk menutup celah tersebut, terutama menjelang Ashes di kandang sendiri musim panas mendatang.
Di sisi lain, Australia merayakan dominasi yang tak terbantahkan. Dengan sembilan gelar World Cup, Ellyse Perry kini menjadi pemain dengan koleksi trofi terbanyak, sementara Beth Mooney dan kapten Tahlia McGrath (yang menggantikan Meg Lanning) terus membangun warisan baru. Australia menyelesaikan turnamen tanpa kekalahan, menegaskan bahwa mereka masih menjadi tolok ukur di kriket wanita global.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik yang menunjukkan betapa kompetitifnya kriket wanita. Meski belum ada wakil Asia Tenggara di level ini, perkembangan kriket wanita di Indonesia perlahan mulai terlihat dengan semakin banyaknya turnamen domestik. Pertanyaan besarnya: kapan Indonesia bisa mengikuti jejak negara-negara besar seperti Australia dan Inggris?



