10.000 Suporter Lazio Turun ke Jalan, Desak Presiden Lotito Jual Klub
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 10.000 pendukung Lazio menggelar aksi unjuk rasa di Roma, menuntut Presiden Claudio Lotito melepaskan kendali atas klub.
- Boikot pertandingan kandang yang sudah berlangsung setahun memuncak setelah Lotito membeli klub lain, Reggina, yang dianggap mengabaikan ambisi olahraga Lazio.
- Aksi ini disebut sebagai protes terbesar dalam sejarah suporter sepak bola Italia, mencerminkan krisis kepercayaan antara manajemen dan basis fans.

Lebih dari 10.000 pendukung Lazio memadati jalan-jalan Roma dalam aksi unjuk rasa bersejarah, menuntut Presiden Claudio Lotito segera menjual klub. Dalam demonstrasi yang digelar Minggu (16/2), massa berjalan dari Ponte Milvio menuju gerbang Stadio Flaminio sambil membawa spanduk dan meneriakkan yel-yel kecaman terhadap sang presiden.
Aksi ini merupakan puncak dari ketidakpuasan yang sudah lama terpendam. Para suporter, termasuk kelompok ultras, telah memboikot pertandingan kandang Lazio selama hampir setahun, meski sudah membeli tiket musiman. Mereka menilai Lotito lebih fokus pada stabilitas finansial ketimbang ambisi olahraga klub. Sejak mengambil alih Lazio pada 2004 saat klub nyaris bangkrut, Lotito memang berhasil menyelamatkan keuangan, tetapi kebijakannya dianggap menghambat prestasi tim.
Kemarahan semakin memuncak setelah Lotito mengakuisisi klub Reggina pekan lalu. Banyak fans menilai langkah itu sebagai bukti bahwa presiden lebih tertarik pada investasi pribadi daripada mengembalikan kejayaan Lazio. โIni adalah manifestasi ketidaksetujuan terbesar dalam sejarah suporter sepak bola Italia,โ klaim panitia aksi.
Konteks Indonesia: Meski terpisah jarak, dinamika antara suporter dan manajemen klub di Italia kerap menjadi cermin bagi sepak bola Indonesia. Kasus Lazio mengingatkan pada konflik serupa di klub-klub Tanah Air, di mana intervensi pemilik atau manajemen yang dianggap mengabaikan ambisi olahraga sering memicu aksi boikot. Pengamat sepak bola Indonesia, Andi Widjaja, menilai bahwa protes suporter Lazio menunjukkan pentingnya transparansi dan komunikasi antara pemilik klub dan basis fans. โJika tidak dikelola dengan baik, ketegangan seperti ini bisa merusak iklim kompetisi dan loyalitas suporter,โ ujarnya.
Lotito sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas aksi tersebut. Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ia menegaskan tidak akan mundur dari posisinya. Dengan tensi yang terus meningkat, pertanyaan besarnya adalah: akankah protes ini mendorong perubahan nyata di Lazio, atau justru memperdalam jurang antara manajemen dan suporter? Jika Lotito tetap bertahan, bukan tidak mungkin aksi serupa akan kembali terjadi, bahkan dengan skala yang lebih besar.



