Riyad Mahrez Tawarkan Diri ke Klub Serie A: Peluang atau Jalan Buntu?
Baca dalam 60 detik
- Riyad Mahrez berstatus bebas transfer setelah kontraknya di Al-Ahli diputus lebih awal, dan ia dikabarkan membuka peluang bergabung dengan klub Italia.
- Meski memiliki reputasi gemilang, usia 35 tahun dan kebutuhan taktis yang spesifik membuat opsi di Serie A terbatas, dengan Roma, Juventus, Inter, dan lainnya belum menunjukkan minat konkret.
- Situasi ini mencerminkan pergeseran pasar transfer Eropa yang lebih selektif terhadap pemain senior, sementara klub Indonesia bisa belajar dari strategi perekrutan berbasis kebutuhan tim.

Riyad Mahrez, mantan bintang Manchester City yang kini berusia 35 tahun, secara mengejutkan memutus kontraknya dengan Al-Ahli lebih awal bulan ini dan menawarkan diri ke sejumlah klub Serie A. Langkah ini membuka spekulasi tentang masa depan pemain sayap kanan asal Aljazair tersebut di kancah sepak bola Eropa.
Menurut laporan Calciomercato, Mahrez telah mengindikasikan kesediaannya untuk bermain di Italia, namun hingga saat ini belum ada klub yang benar-benar bergerak untuk mengamankan jasanya. Meskipun memiliki rekam jejak mentereng—termasuk gelar Premier League bersama Leicester City dan Manchester City—pertanyaan terbesar kini bukan lagi soal kualitas, melainkan kecocokan taktis dan finansial.
Roma, yang tengah memburu penyerang baru, disebut sebagai kandidat potensial. Namun, sisi kanan mereka sudah padat dengan kehadiran Paulo Dybala yang baru saja memperpanjang kontrak dan Matias Soulé yang menempati peran serupa. Sementara itu, Juventus masih terikat perjanjian penyelesaian dengan UEFA yang membatasi pengeluaran mereka; hanya jika Lois Openda hengkang, ruang untuk Mahrez mungkin terbuka.
Inter Milan, yang tidak terikat pembatasan tersebut, memiliki Direktur Olahraga Beppe Marotta yang dikenal jeli memanfaatkan peluang pemain bebas transfer. Namun, prioritas utama mereka saat ini adalah mencari pengganti Denzel Dumfries dan menambah bek tengah, bukan mendatangkan pemain sayap senior. Di Como, klub promosi yang tengah bersiap menghadapi musim Eropa, Mahrez dianggap sebagai opsi pengalaman, tetapi pelatih Cesc Fàbregas lebih menyukai profil pemain muda.
Di klub lain, AC Milan tengah membangun skuad di sekitar Christopher Nkunku dan Christian Pulisic, sementara Napoli justru harus memangkas skuad yang kelebihan pemain sayap—dengan 47 pemain di tim utama. Situasi ini membuat Mahrez sulit menemukan tempat yang tepat di Italia, meskipun ia masih dianggap sebagai pemain berkualitas tinggi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Mahrez menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan rekrutmen yang matang. Klub-klub Liga 1 sering tergoda mendatangkan pemain bintang berusia di atas 30 tahun tanpa mempertimbangkan kebutuhan taktis jangka panjang. Fenomena ini mirip dengan situasi Mahrez: nama besar tidak selalu menjamin kesuksesan jika tidak sesuai dengan filosofi tim.
Ke depan, apakah Mahrez akan menemukan pelabuhan baru di Serie A atau justru memilih petualangan di liga lain seperti MLS atau kembali ke Premier League? Jawabannya tergantung pada sejauh mana klub-klub Italia bersedia beradaptasi dengan profil pemain yang sudah tidak muda lagi, namun masih memiliki naluri gol dan pengalaman level tertinggi.



