Fitness Tracker: Antara Motivasi dan Jerat Angka Palsu
Baca dalam 60 detik
- Target 10.000 langkah berasal dari kampanye pemasaran tahun 1960-an, bukan rekomendasi ilmiah.
- Pelacak kebugaran sering mengabaikan aktivitas non-langkah seperti renang atau latihan beban, sehingga memberikan gambaran yang tidak akurat.
- Tekanan untuk memenuhi target dapat memicu kecemasan, rasa gagal, dan bahkan gangguan makan pada pengguna.

Di balik popularitas jam tangan pintar dan aplikasi kebugaran yang menjanjikan hidup lebih sehat, terdapat sisi gelap yang jarang disadari: alih-alih memotivasi, perangkat ini justru bisa memicu kecemasan, rasa malu, hingga gangguan makan. Sebuah riset selama satu dekade mengungkap bahwa desain yang mengutamakan angka—seperti target 10.000 langkah—seringkali mengabaikan kebutuhan individual dan konteks pengguna.
Target 10.000 langkah per hari, yang kini menjadi standar di hampir semua pelacak kebugaran, ternyata lahir dari kampanye pemasaran pedometer Jepang pada 1960-an. Tidak ada dasar ilmiah yang kuat yang menyatakan angka itu ideal untuk semua orang. Beberapa peneliti justru menunjuk 7.000 langkah sebagai batas yang lebih realistis dan bermanfaat bagi kebanyakan orang dewasa. Namun, karena sudah mendarah daging, angka 10.000 tetap dianggap sebagai lencana kesehatan yang harus diraih.
Masalahnya, satu target tidak bisa cocok untuk semua. Pelacak di pergelangan tangan sering salah membaca gerakan, atau gagal menangkap aktivitas seperti bersepeda, berenang, atau latihan kekuatan karena gerakannya tidak mirip langkah kaki. Akibatnya, aktivitas yang tidak terhitung—seperti Pilates, rehabilitasi, atau pemulihan cedera—dianggap kurang penting, padahal justru itulah yang dibutuhkan seseorang.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Inggris. Di Indonesia, tren penggunaan smartwatch dan aplikasi kebugaran juga meningkat pesat, terutama di kalangan pekerja kantoran dan komunitas lari. Banyak pengguna yang merasa tertekan untuk menutup "ring" atau mencapai target harian, sehingga aktivitas fisik berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi kewajiban yang membebani. Riset menunjukkan bahwa kegagalan berulang dalam memenuhi target justru membuat orang meninggalkan perangkat dan kebiasaan sehat yang ingin dibangun.
Lebih jauh lagi, perangkat ini sering dirancang untuk "rata-rata konsumen" yang ternyata tidak ada. Tubuh yang dibayangkan oleh perangkat adalah tubuh yang mampu bergerak bebas, tidak hamil, sudah percaya diri berolahraga, dan punya waktu setiap hari untuk bergerak. Standar ini seringkali bias gender dan mengamplifikasi ide-ide sempit tentang kesehatan dan kecantikan. Indeks massa tubuh (BMI), misalnya, kerap menghukum tubuh berotot dan menganggap tubuh wanita yang sehat sebagai masalah yang harus diperbaiki. Asumsi serupa tertanam dalam pelacak yang mendorong penurunan berat badan secara default, yang pada kasus ekstrem bisa mendorong olahraga berlebihan atau makan kurang.
Para peneliti menekankan bahwa gaya hidup sedentari adalah masalah sosial, bukan semata kegagalan individu. Namun, pelacak kebugaran sering membingkai ketidakaktifan sebagai kurangnya kemauan pribadi, mengalihkan perhatian dari faktor struktural seperti keamanan jalan, waktu, biaya, tanggung jawab mengasuh, disabilitas, dan akses ke ruang terbuka hijau. Banyak pengguna melaporkan merasa tertekan oleh perangkat mereka; ketika hidup menghalangi target, mereka merasa malu, gagal, atau menyerah sama sekali.
Lantas, apa solusinya? Bagi pengguna, langkah pertama adalah menganggap data dari perangkat sebagai informasi, bukan instruksi. Jam tangan bisa memberi tahu apa yang telah diukur, tetapi tidak bisa memberi tahu apa yang dibutuhkan tubuh hari ini. Tanggung jawab yang lebih besar ada pada pengembang. Pelacak seharusnya mengurangi penekanan pada target langkah tetap, memberi ruang lebih besar untuk aktivitas non-langkah, menyediakan fitur istirahat dan pemulihan tanpa rasa bersalah, serta menawarkan default yang lebih aman untuk berbagai tipe tubuh, kemampuan, riwayat kesehatan, dan tujuan. Pertanyaannya, mampukah industri mengubah desain yang selama ini menguntungkan—atau pengguna harus terus berdamai dengan angka-angka yang diciptakan setengah abad lalu?



