Stres Bisa Mempercepat Penuaan Sel Induk: Studi pada Tikus Ungkap Jalur Otak-Usus-Sumsum Tulang
Baca dalam 60 detik
- Studi pada tikus menunjukkan stres psikologis mengubah mikrobioma usus dan menurunkan kadar spermidine, yang berujung pada disfungsi sel induk hematopoietik mirip penuaan.
- Peneliti mengidentifikasi jalur komunikasi baru antara otak, usus, dan sumsum tulang melalui sistem saraf simpatis, memperkuat hubungan stres dengan penurunan imunitas.
- Temuan ini membuka potensi intervensi berbasis mikrobioma untuk menjaga fungsi kekebalan pada manusia, terutama di tengah tingginya prevalensi stres di Indonesia.

Stres psikologis yang berkepanjangan tidak hanya mengganggu suasana hati, tetapi juga dapat mempercepat penuaan sel induk di sumsum tulang melalui jalur komunikasi yang melibatkan otak, usus, dan mikrobioma. Temuan ini terungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Cell Stem Cell pada Maret 2025, menggunakan model tikus untuk memetakan mekanisme biologis yang sebelumnya jarang dieksplorasi.
Tim peneliti dari Sun Yat-sen University, China, yang dipimpin oleh Prof. Meng Zhao, menemukan bahwa stres kronis mengganggu kemampuan regenerasi sel induk hematopoietik (HSC) โ sel yang bertanggung jawab memproduksi seluruh sel darah dan sistem imun. Akibatnya, produksi limfosit (sel darah putih) menurun, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.
Yang menarik, mekanisme ini tidak langsung terjadi. Otak yang mengalami stres mengirim sinyal melalui sistem saraf simpatis ke usus, mengubah lingkungan usus dan komposisi mikrobioma. Perubahan ini mengurangi ketersediaan spermidine, molekul organik alami yang dikenal berperan dalam memperlambat penuaan. Tanpa spermidine yang cukup, HSC kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan produksi sel darah dan imun yang sehat.
"Banyak orang mengalami peningkatan kerentanan terhadap pilek atau penyakit lain saat stres berkepanjangan. Pengalaman umum ini mendorong kami untuk bertanya apakah stres psikologis menekan imunitas dengan memengaruhi HSC," ujar Zhao dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa stres semakin diakui sebagai faktor risiko penting untuk kanker, penyakit kardiovaskular, dan gangguan terkait usia, namun mekanisme biologis yang menghubungkan stres emosional dengan organ jauh masih sedikit dipahami.
Peneliti juga menemukan bahwa stres kronis menekan aktivitas di korteks prefrontal medial dan periaqueductal gray โ dua wilayah otak yang merespons stres. "Ini adalah bukti fungsional langsung pertama bahwa wilayah otak tertentu mengatur fungsi HSC di sumsum tulang," kata Zhao. Identifikasi sirkuit saraf ini membuka peluang untuk mengembangkan strategi baru guna menjaga fungsi imun di bawah tekanan psikologis kronis.
Ashkan Farhadi, MD, gastroenterolog dari MemorialCare Orange Coast Medical Center yang tidak terlibat dalam studi, menilai temuan ini memperluas pemahaman tentang poros otak-usus. "Kita sudah tahu ada hubungan dua arah yang kuat antara otak dan usus, yang kemudian diperluas ke mikrobioma. Sekarang, hubungan ini meluas ke organ lain termasuk sumsum tulang dan kesehatan tubuh secara umum," jelasnya.
Dung Trinh, MD, internis dan kepala medis Healthy Brain Clinic, menambahkan bahwa studi ini memetakan jalur biologis yang masuk akal: stres mengubah wilayah otak tertentu, mengubah bakteri usus, mengurangi spermidine, dan menyebabkan disfungsi seperti penuaan pada sel induk pembentuk darah. "Ini membuat studi sangat menarik, meskipun perlu ditekankan bahwa ini masih penelitian preklinis pada hewan, bukan bukti bahwa mekanisme yang sama bekerja pada manusia," katanya.
Bagi masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi tekanan hidup perkotaan, pekerjaan, atau ekonomi, temuan ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya manajemen stres. Tingginya prevalensi gangguan kecemasan dan depresi di Indonesia โ yang menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencapai 6,1% populasi โ menjadikan pemahaman tentang jalur biologis stres semakin relevan. Langkah sederhana seperti latihan pernapasan dalam, jalan kaki 20 menit, atau membatasi paparan media sosial dapat membantu menurunkan respons stres.
Langkah selanjutnya, menurut Zhao, adalah memastikan apakah poros otak-usus-sumsum tulang ini beroperasi serupa pada manusia dan apakah berkontribusi pada disfungsi imun pada penuaan, kanker, dan penyakit kronis lainnya. Jika terbukti, intervensi berbasis mikrobioma โ seperti probiotik atau modulasi spermidine โ bisa menjadi terapi baru untuk menjaga kesehatan imun di tengah tekanan psikologis.



