Membaca Iliad di Era TikTok: Epik Kuno yang Terasa Seperti Infinite Scroll
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 5.500 baris Iliad berisi adegan pertempuran singkat yang berganti cepat, mirip konten vertikal di media sosial.
- Penggunaan simile dalam Iliad memperlambat momen dan menciptakan intensitas emosional, setara dengan efek audio-visual di video pendek.
- Pola narasi fragmentaris ini menunjukkan bahwa cara manusia memproses cerita secara emosional telah ada sejak ribuan tahun lalu.

Epik Homer, Iliad, yang selama berabad-abad dianggap sebagai monumen sastra Barat yang sakral, ternyata memiliki ritme yang sangat akrab bagi generasi yang tumbuh dengan TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels. Alih-alih narasi mulus yang berkesinambungan, puisi sepanjang 15.000 baris ini justru bergerak melalui rentetan mikro-episode yang intens, cepat berganti, dan berdiri sendiri—sebuah struktur yang mencerminkan cara kita mengonsumsi konten digital saat ini.
Dalam analisis yang dimuat di The Conversation, seorang pembaca modern menemukan bahwa sekitar 5.500 baris Iliad—lebih dari sepertiga total—dikhususkan untuk adegan pertempuran yang terdiri dari sekitar 300 pertemuan prajurit. Polanya berulang: seorang prajurit maju, menyerang, membunuh atau terbunuh, lalu digantikan oleh yang lain. Tidak ada pengembangan psikologis yang mendalam atau alur cerita tunggal; yang diutamakan adalah dampak langsung setiap momen. Frasa seperti "tombaknya tidak meninggalkan tangannya dengan sia-sia" muncul berulang kali, menekankan aksi daripada konsekuensi.
Irama ini diperkuat oleh lebih dari 300 simile yang tersebar di seluruh puisi. Simile-simile tersebut mengubah tindakan sederhana—seperti Akhilles mengenakan perisainya—menjadi momen yang diperlambat dan diperkuat secara emosional. Dalam satu contoh, kilau perisai Akhilles dibandingkan dengan cahaya bulan atau api di pertanian terpencil yang terlihat oleh pelaut di laut. Efeknya mirip dengan lapisan audio dan penyuntingan dalam video pendek: tindakan sederhana menjadi terasa lebih besar, lebih berbobot, sebelum narasi kembali melesat ke pertempuran berikutnya.
Terjemahan modern karya Peter Jones—revisi dari versi E.V. Rieu—semakin memperkuat efek kontemporer ini. Para dewa dan manusia berbicara dengan bahasa yang blak-blakan, bahkan mengejutkan. Zeus, yang kesal dengan Hera yang mendukung Yunani, berkata: "Tidak ada yang lebih brengsek dari kamu." Helen, yang merasa bersalah atas perang yang dipicu olehnya, mengaku: "Aku ini pelacur yang dingin dan jahat." Kalimat-kalimat ini berfungsi seperti "shock beat" dalam video pendek: momen yang dirancang untuk merebut perhatian sebelum cerita berlanjut.
Bagi pembaca Indonesia, perbandingan ini membuka perspektif baru tentang karya klasik yang sering dianggap berat dan elitis. Iliad tidak harus menjadi artefak museum yang dikagumi dari kejauhan. Sebaliknya, epik ini justru bergerak seirama dengan kebiasaan atensi kita yang terfragmentasi—sebuah pengingat bahwa pola narasi berbasis intensitas emosional bukanlah penemuan era digital, melainkan sesuatu yang mendasar dalam cara manusia memproses cerita.
Seperti yang ditulis oleh Harsh Trivedi dalam artikel yang sama, rekomendasi bacaan pendamping yang relevan adalah novel Quand Vient la Horde karya Aurélie Luong. Berlatar Korea abad pertengahan yang menjadi koloni Rusia, novel ini mengikuti Ivan, seorang petani idealis yang diculik oleh gerombolan tentara bayaran. Sama seperti Iliad, novel ini penuh dengan tikungan, pembalikan, dan transformasi mengejutkan—sebuah fantasi gelap yang layak mendapatkan pembaca lebih luas di luar dunia Francophone.
Pertanyaan yang tersisa: apakah cara membaca seperti ini—menyamakan epik kuno dengan feed media sosial—akan memperkaya atau justru mereduksi pengalaman sastra? Yang jelas, Iliad telah membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan selama ribuan tahun bukan karena kekakuan bentuknya, melainkan karena kemampuannya beradaptasi dengan cara manusia—dari tradisi lisan, hingga cetakan, dan kini, scroll tanpa akhir.



