Uji Coba Pengendalian Jangkrik di Singapura: 22.000 Ekor Tertangkap, Warga Bernapas Lega
Baca dalam 60 detik
- Program percontohan selama lima bulan di Tampines Changkat berhasil menangkap sekitar 22.000 jangkrik dan meredam kebisingan hingga level yang dapat ditoleransi warga.
- Pendekatan inovatif meliputi perangkap cahaya, pembungkusan batang pohon dengan aluminium foil, dan pemasangan alas sabut kelapa untuk mengganggu siklus hidup serangga.
- Keberhasilan ini membuka jalan bagi pengelolaan jangkrik di kawasan tropis perkotaan, dengan potensi adopsi oleh negara tetangga seperti Indonesia yang kerap menghadapi masalah serupa.

Sebanyak 22.000 ekor jangkrik berhasil ditangkap dalam program percontohan selama lima bulan di Tampines Changkat, Singapura. Inisiatif yang digagas People’s Association, NParks, dan Dewan Kota Tampines ini berhasil meredam gangguan suara dan ketidaknyamanan yang selama ini dikeluhkan warga akibat munculnya serangga tersebut secara musiman.
Program yang berlangsung sejak Maret lalu itu menguji berbagai metode pengendalian jangkrik pada tahap kehidupan yang berbeda. Langkah-langkah langsung seperti pemasangan perangkap cahaya di 18 blok perumahan dan penangkapan fisik serangga di area yang terdampak menjadi andalan utama. Sementara itu, pendekatan non-intrusif juga diterapkan dengan membungkus lebih dari 500 batang pohon menggunakan aluminium foil atau plastik, serta meletakkan alas terpal atau sabut kelapa di pangkal pohon. Hambatan fisik ini dirancang untuk mengganggu proses pergantian kulit (moulting) nimfa jangkrik menjadi dewasa.
Jangkrik dikenal sebagai serangga paling berisik di dunia. Beberapa spesies mampu menghasilkan suara hingga 120 desibel—setara dengan ambang nyeri telinga manusia. Di lingkungan perumahan padat seperti Tampines Changkat, suara bising dari ribuan jangkrik yang muncul serempak dapat mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari warga. Oleh karena itu, upaya pengendalian yang efektif menjadi kebutuhan mendesak.
Program ini juga memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk memahami lebih dalam perilaku jangkrik di kawasan Tampines. Asesmen lapangan sejak Februari menghasilkan temuan awal, termasuk kemungkinan kaitan dengan jenis pohon tertentu dan keberadaan titik-titik kemunculan lokal. Variasi jumlah jangkrik di berbagai area survei mengindikasikan bahwa faktor seperti usia pohon, komposisi vegetasi, karakteristik lanskap, dan kondisi lingkungan setempat turut memengaruhi kepadatan populasi.
Di kawasan perkotaan tropis, belum ada metode baku untuk mengelola kemunculan jangkrik secara massal. Minimnya pengetahuan tentang spesies ini dalam konteks Singapura membuat pengelolaan populasi dan dampaknya terhadap warga menjadi tantangan tersendiri. Namun, pemantauan berkelanjutan dan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika populasi jangkrik diharapkan dapat mendukung pengembangan intervensi yang lebih terarah.
“Karena belum ada praktik baik yang mapan, kami harus inovatif untuk melindungi warga Changkat sambil tetap peka terhadap lingkungan,” ujar Desmond Choo, anggota parlemen daerah Tampines Changkat. “Kami terus menyempurnakan langkah-langkah berdasarkan pembelajaran dari uji coba ini, sambil mengeksplorasi metode baru untuk mengelola populasi jangkrik secara lebih efektif.”
Meskipun musim kemunculan jangkrik tahun ini telah mereda, satuan tugas pengelolaan jangkrik akan terus bersiap menghadapi musim-musim berikutnya. Langkah-langkah yang sudah ada, seperti pembungkusan pohon dan pemasangan alas sabut kelapa, akan diterapkan kembali pada waktu yang tepat. Untuk area yang terdampak parah, penggunaan pestisida baru yang sangat terbatas juga sedang dipertimbangkan, dengan tinjauan ketat untuk memastikan dampak minimal terhadap keanekaragaman hayati non-target.
NParks juga telah berkoordinasi dengan dewan kota di wilayah lain yang terdampak untuk memberikan saran mengenai langkah-langkah yang dapat diadopsi. Keberhasilan uji coba di Tampines Changkat ini menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan inovatif dan kolaboratif dapat mengatasi masalah lingkungan perkotaan yang kompleks. Pertanyaannya kini, akankah metode serupa diadopsi oleh negara-negara tetangga seperti Indonesia, yang juga kerap menghadapi ledakan populasi jangkrik di daerah permukiman?



