Kebakaran Palmerah Hanguskan Lima Rumah, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Lima rumah semi permanen di Palmerah, Jakarta Barat, ludes terbakar pada Minggu malam akibat kompor yang ditinggal menyala.
- Sebanyak 13 unit mobil pemadam kebakaran dan 65 personel dikerahkan, api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam.
- Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini; polisi masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran.

Kebakaran melanda permukiman padat di Jalan Palmerah Utara III, Jakarta Barat, Minggu (5/7) malam, menghanguskan setidaknya lima rumah semi permanen dan memicu kepanikan warga setempat. Insiden yang diduga dipicu oleh kompor yang lupa dimatikan ini berhasil dipadamkan setelah petugas dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat mengerahkan 13 unit mobil pemadam kebakaran dan 65 personel.
Api pertama kali terlihat dari salah satu rumah milik warga bernama Beni. Menurut keterangan saksi di lokasi, Rafi, kobaran api menyebar dengan cepat karena material bangunan yang mudah terbakar. "Awalnya saya tidak tahu, karena sedang di luar. Lalu ditelpon keluarga bahwa ada kebakaran. Yang terbakar rumah Pak Beni, terus menyebar. Lima rumah lebih," ujar Rafi kepada Antara. Ia menambahkan bahwa api diduga berasal dari kompor yang masih menyala saat ditinggal penghuninya.
Kepala Gulkarmat Jakarta Barat, Syaiful Kahfi, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan sekitar pukul 18.37 WIB dan langsung menerjunkan armada lengkap. "Setelah berjibaku selama kurang lebih satu jam, petugas berhasil mengendalikan api dan mencegahnya merembet ke bangunan lain," kata Syaiful. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerugian materi diperkirakan cukup besar mengingat lima rumah hangus total.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko kebakaran di permukiman padat Jakarta, terutama yang menggunakan konstruksi semi permanen. Data Dinas Gulkarmat DKI Jakarta mencatat, kebakaran akibat kelalaian manusiaโseperti kompor lupa dimatikan atau korsleting listrikโmasih mendominasi kasus di ibu kota. Palmerah sendiri merupakan kawasan dengan kepadatan tinggi, sehingga potensi perambatan api sangat besar jika respons pemadaman terlambat.
Pasca kebakaran, warga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa mengungsi ke rumah kerabat atau tempat penampungan sementara. Belum ada informasi resmi mengenai bantuan yang akan diberikan oleh pemerintah kota. Sementara itu, pihak kepolisian dari Polsek Palmerah telah melakukan olah tempat kejadian perkara untuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran. "Kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari tim laboratorium forensik," ujar perwakilan Polsek Palmerah.
Ke depan, insiden ini diharapkan mendorong pengawasan lebih ketat terhadap standar keamanan permukiman padat, termasuk kewajiban pemasangan alat deteksi dini kebakaran. Apakah pemerintah daerah akan memperketat regulasi atau justru memberikan insentif bagi warga untuk meningkatkan keselamatan rumah? Pertanyaan itu masih menggantung di tengah asap yang mulai sirna.



