Lewis Capaldi: Terapi Bukan Hanya untuk Saat Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Lewis Capaldi menekankan pentingnya menjalani terapi secara konsisten, bahkan saat kondisi mental terasa baik.
- Ia mendonasikan 734.000 jam terapi gratis melalui BetterHelp, mendorong penggemar untuk terus memeriksa kondisi mental mereka.
- Pesan Capaldi relevan bagi Indonesia, di mana stigma kesehatan mental masih tinggi dan akses terapi terbatas.

Lewis Capaldi, pelantun hit "Someone You Loved", mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah proses yang selesai begitu saja, melainkan komitmen berkelanjutan. Dalam wawancara dengan platform terapi daring BetterHelp, ia mengaku kerap tergoda untuk menganggap dirinya "sudah aman" begitu merasa lebih baik. Namun, justru di hari-hari baik itulah ia merasa terapi menjadi lebih penting.
Pernyataan ini muncul setelah Capaldi mengambil jeda dari sorotan publik pasca penampilannya di Glastonbury 2023, yang ia jalani dengan berjuang melawan gejala sindrom Tourette. Kini, meski kondisi mentalnya jauh lebih stabil, ia menegaskan bahwa perbaikan diri tidak boleh berhenti. "Sangat mudah ketika saya mulai merasa baik untuk menganggap saya sudah aman. Tapi justru melakukan terapi di hari-hari baik itu lebih penting daripada saat hari buruk," ujarnya.
Donasi besar-besaran itu tidak hanya membuka akses terapi bagi ribuan orang, tetapi juga menginspirasi penggemar seperti Alice Williams. "Melihat Lewis berbicara tentang BetterHelp dan menyumbangkan menit gratis, entah kenapa saya merasa dia mirip dengan saya—suka bercanda dan pura-pura tegar. Saya pikir, jika dia bisa berani, saya juga bisa," kata Williams. Kisahnya menunjukkan bagaimana figur publik dapat memicu perubahan nyata dalam perilaku pencarian bantuan.
Sara Brooks, Chief Growth Officer BetterHelp, menekankan bahwa langkah awal hanyalah permulaan. "Kesehatan mental bukanlah sesuatu yang kita selesaikan sekali lalu beranjak. Ini adalah perawatan seumur hidup. Tahun lalu kami membantu orang memulai; tahun ini kami mendorong mereka untuk terus memeriksa diri sendiri," jelasnya. Brooks juga mengapresiasi keterbukaan Capaldi yang telah membuat banyak orang merasa tidak sendirian.
Pesan Capaldi memiliki resonansi kuat di Indonesia, di mana stigma terhadap gangguan mental masih menghalangi banyak orang untuk mencari bantuan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, lebih dari 19 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, namun hanya sebagian kecil yang mengakses layanan profesional. Terapi daring seperti BetterHelp mulai diminati, meski tantangan biaya dan literasi digital masih ada. Inisiatif Capaldi bisa menjadi contoh bagaimana selebritas lokal pun dapat berperan dalam normalisasi konsultasi psikologis.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Capaldi akan kembali ke panggung besar, tetapi bagaimana ia—dan kita semua—dapat terus "menunjukkan diri" dalam perjalanan kesehatan mental. Seperti diingatkan Capaldi, konsistensi adalah kunci, dan tidak ada kata aman dalam urusan jiwa.



