UEFA Tolak Aturan Kartu Merah untuk Pemain yang Tutup Mulut, Pilih Pendekatan Kasus per Kasus
Baca dalam 60 detik
- UEFA memutuskan tidak mengadopsi aturan FIFA yang memberikan kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat beradu argumen di lapangan.
- Keputusan ini diambil setelah kontroversi aturan tersebut dinilai mengasumsikan kesalahan tanpa bukti, dan hanya akan diterapkan di kompetisi FIFA.
- Di kompetisi Eropa, wasit tetap bisa memberi kartu kuning jika tindakan itu dianggap sebagai perilaku tidak sportif, namun tidak ada hukuman otomatis.

UEFA memastikan tidak akan menerapkan aturan baru FIFA yang menghukum pemain dengan kartu merah jika mereka menutup mulut saat berhadapan dengan lawan. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (13/6) dan berlaku untuk seluruh kompetisi Eropa, termasuk Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Konferensi.
Aturan kontroversial itu sebenarnya lahir dari usulan Presiden FIFA Gianni Infantino yang menginginkan efek jera di Piala Dunia. Dalam praktiknya, dua pemain sudah pernah diusir wasit karena menutup mulut: Miguel Almiron (Paraguay) dan Piero Hincapie (Ekuador). Keduanya terkena kartu merah setelah VAR meninjau ulang insiden tersebut. Namun, UEFA menilai pendekatan itu terlalu kaku dan berpotensi menimbulkan ketidakadilan.
โWasit harus menilai setiap situasi secara individual. Jika menutup mulut dianggap sebagai upaya menyembunyikan komunikasi yang tidak sportif, sanksi maksimal yang diberikan adalah kartu kuning,โ demikian pernyataan resmi UEFA. Badan sepak bola Eropa itu juga menegaskan bahwa keputusan di lapangan tidak menghalangi penyelidikan disipliner lebih lanjut jika ditemukan bukti pelanggaran serius.
Keputusan UEFA ini menjadi angin segar bagi banyak pihak yang mengkritik aturan tersebut. Sejumlah pengamat menilai aturan itu mengandung asumsi bersalah sebelum terbukti, dan rentan disalahgunakan untuk menjatuhkan lawan. Contohnya, Jude Bellingham (Inggris) tidak diusir saat menutup mulut dalam pertandingan melawan Ghana, menunjukkan inkonsistensi penerapan.
Di sisi lain, UEFA tetap mengadopsi beberapa perubahan lain, seperti penggunaan VAR untuk memeriksa tendangan sudut yang salah. Sejauh ini, sudah 22 tendangan sudut dibatalkan menjadi tendangan gawang di Piala Dunia. Namun, UEFA menolak memberikan kartu merah bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai protes terhadap keputusan wasit.
Bagi sepak bola Indonesia, keputusan UEFA ini bisa menjadi referensi bagi PSSI dan operator liga. Jika aturan serupa hendak diterapkan di kompetisi domestik, perlu dipertimbangkan aspek keadilan dan potensi penyalahgunaan. Terlebih, di Indonesia, insiden verbal antar pemain kerap terjadi dan bisa memicu kontroversi jika sanksi diterapkan secara otomatis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA akan mempertahankan aturan ini atau justru merevisinya setelah melihat respons dari UEFA dan federasi lain. Dengan pendekatan kasus per kasus yang dipilih UEFA, tekanan terhadap Infantino untuk mengevaluasi kebijakannya semakin besar.



