Dari Zagreb ke Panggung Dunia: Bagaimana Kroasia Membentuk Bintang Spanyol Dani Olmo
Baca dalam 60 detik
- Dani Olmo meninggalkan La Masia pada usia 16 tahun untuk bergabung dengan Dinamo Zagreb, sebuah keputusan berani yang membentuk kariernya.
- Para mentor di Dinamo memuji ketahanan, kerendahan hati, dan kemampuan adaptasinya, yang menjadi fondasi kesuksesannya di level tertinggi.
- Kisah Olmo menjadi contoh bagaimana klub non-unggulan dapat menjadi batu loncatan bagi talenta muda global.

Pada usia 16 tahun, Dani Olmo mengambil keputusan yang jarang dilakukan pemain muda berbakat: meninggalkan akademi megah Barcelona, La Masia, untuk merantau ke Dinamo Zagreb. Langkah berani itu, menurut para mentornya di Kroasia, menjadi fondasi kesuksesan gelandang serang Spanyol tersebut di panggung sepak bola dunia.
Nenad Bjelica, yang kemudian melatih Olmo di tim utama Dinamo, mengaku terkejut saat pertama kali mendengar rencana kepindahan itu. “Produk La Masia lain pernah pergi sangat muda ke negara berbeda, tapi tidak ada yang ke Kroasia,” ujarnya kepada FIFA. Namun, Marko Vukelic, mantan direktur olahraga Dinamo, melihat logika di balik langkah tersebut. “Saat itu, Barcelona punya strategi berbeda; pemain debut di usia 22 atau 23 tahun. Sementara kami harus menghasilkan uang setiap tahun melalui penjualan pemain dan butuh hasil instan. Jadi pemain terbaik kami debut di usia 17 atau 18 tahun,” jelasnya.
Perjalanan Olmo di Zagreb tidak selalu mulus. Bjelica mengingat masa-masa sulit yang harus dihadapi pemain muda itu. “Saya yakin tidak semuanya berjalan sesuai harapan, tapi pada akhirnya berhasil dan semua orang bisa bahagia.” Vukelic menambahkan, “Dia masih bocah, jadi tidak mudah, terutama saat tidak banyak bermain. Tapi dia punya kepribadian dan kualitas... pada akhirnya dia mengatasi semuanya.” Dukungan keluarga menjadi kunci; ayah Olmo, seorang pelatih berpengalaman di Katalonia, memahami tuntutan dan keraguan yang menyertai langkah berani tersebut.
Adaptasi bahasa dan budaya menjadi tantangan tersendiri. Bahasa Kroasia sangat berbeda dari Spanyol atau Inggris. Bjelica, yang pernah bermain enam tahun di Spanyol dan fasih berbahasa Spanyol, menjadi jembatan penting. “Dia merasa sangat nyaman dengan saya karena saya bisa bicara dalam bahasanya sendiri dan mengobrol dengan ayahnya. Kami selalu punya hubungan terbuka, sebagai teman sekaligus pelatih dan pemain,” kenang Bjelica. Sebelum debut senior, Olmo sudah bisa berbahasa Kroasia, tapi kemampuan berekspresi dalam bahasa ibunya memberikan kepercayaan diri ekstra.
Bjelica, yang kini melatih di tempat lain, memuji kelengkapan kemampuan Olmo. “Dia memposisikan diri brilian di antara lini, mungkin lebih baik dari siapa pun di dunia, menunggu bola di area itu dan menghubungkan dengan rekan setim. Kontrol bola, visi, timing lari ke kotak penalti, gol, assist, dan serangan ruang—dia pemain yang benar-benar sempurna.” Pujian setinggi itu datang dari pelatih yang pernah menangani bintang seperti Marek Hamsik dan Leonardo Bonucci.
Karier Olmo di Kroasia juga memicu spekulasi bahwa ia mungkin membela timnas Kroasia, negara yang melahirkan Luka Modric, Ivan Rakitic, dan Ivan Perisic. Namun, Bjelica mengungkapkan, “Kemungkinan itu ada, tapi dia selalu bilang jika Spanyol memanggil, dia akan memilih Spanyol. Begitu dia debut untuk U-21 Spanyol, perdebatan itu selesai.”
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Olmo relevan dengan perkembangan sepak bola nasional. Banyak pemain muda Indonesia kini mulai merantau ke klub-klub Eropa, seperti yang dilakukan Pratama Arhan, Marselino Ferdinan, dan lainnya. Tantangan adaptasi bahasa, budaya, dan tekanan kompetitif yang dihadapi Olmo bisa menjadi pelajaran berharga. Klub-klub kecil di Eropa—seperti Dinamo Zagreb—terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi talenta global, sebuah model yang patut dicermati oleh pemain dan agen di Indonesia.
Kini, saat melihat mantan anak asuhnya bersinar di panggung terbesar, Bjelica dan Vukelic merasa bangga. Namun, yang paling melekat adalah kepribadian Olmo di luar lapangan. “Dia orang yang sangat normal, rendah hati. Saat diberi saran, dia tidak menganggapnya kritik. Jika suatu hari saya bilang dia tidak berlatih baik, keesokan harinya dia siap memberikan segalanya. Dia sangat rendah hati,” kata Bjelica. Pelatih Spanyol Luis de la Fuente sering menekankan pentingnya mengelilingi diri dengan orang baik, bukan hanya pemain bagus. Mereka yang mengenal Olmo sejak remaja akan setuju bahwa ia memenuhi deskripsi itu.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah ada pemain Indonesia yang mampu meniru jejak Olmo—berani meninggalkan zona nyaman dan membangun karier di klub Eropa yang tidak terlalu populer, lalu menembus timnas dan papan atas Eropa? Jawabannya mungkin tergantung pada keberanian pemain dan dukungan sistem di tanah air.



