Harga Tiket Laga Inggris vs Meksiko Tembus Rp50 Juta, Fans Harus Bayar 12 Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Tiket termurah laga 16 besar Piala Dunia antara Inggris dan Meksiko di Estadio Azteca dijual dengan harga £2.622 (sekitar Rp50 juta) di situs resale FIFA, hampir 12 kali lipat dari harga asli.
- Keterbatasan pasokan tiket—hanya 4.000 lembar dialokasikan untuk suporter Inggris dan habis terjual sejak Januari—memicu lonjakan harga di pasar sekunder.
- Fenomena ini mencerminkan besarnya antusiasme suporter tuan rumah Meksiko dan minimnya akses tiket reguler, yang berpotensi menjadi preseden bagi penyelenggaraan Piala Dunia di masa depan.

Suporter Inggris yang berniat menyaksikan langsung laga 16 besar Piala Dunia melawan Meksiko di Estadio Azteca harus merogoh kocek minimal £2.622 (sekitar Rp50 juta) untuk satu tiket di situs penjualan ulang resmi FIFA. Angka itu hampir 12 kali lipat dari harga face value yang hanya £224.
Kenaikan harga yang mencengangkan ini terjadi setelah Tim Tiga Singa memastikan tempat di babak gugur dengan kemenangan 2-1 atas Republik Demokratik Kongo pada Rabu lalu. Pertandingan yang akan berlangsung Senin dini hari WIB itu disiarkan langsung oleh BBC One, namun bagi yang ingin hadir langsung, biayanya jauh dari kata terjangkau.
Sebelum pengundian Desember lalu, England Supporters' Travel Club mendapat jatah 4.000 tiket untuk stadion berkapasitas 80.824 kursi. Seluruh tiket itu ludes terjual pada tahap undian Januari, dan FIFA tidak mengeluarkan tiket tambahan. Akibatnya, satu-satunya jalan bagi penggemar untuk masuk stadion adalah melalui situs resale, di mana harga melambung tak terkendali.
Data menunjukkan bahwa sebelum laga Inggris vs DR Kongo, hanya 250 tiket yang terdaftar di situs resale. Angka itu naik tipis menjadi 273 setelah pertandingan, lalu melonjak menjadi 429 dalam semalam. Sebagian besar tiket yang muncul berada di kategori supporter value di belakang salah satu gawang.
Fenomena harga selangit ini tidak lepas dari faktor tuan rumah. Meksiko, yang lolos sebagai juara grup, mendapat dukungan penuh dari publiknya. Pertandingan di Mexico City sepanjang turnamen ini selalu mencatat harga resale tertinggi dengan pasokan sangat terbatas, karena suporter lokal berebut tiket. Sementara itu, hotel-hotel di Mexico City justru relatif murah—banyak kamar tersedia di bawah £80 untuk dua malam—sehingga akomodasi bukan kendala utama.
Bagi penggemar Indonesia yang berencana menonton langsung, situasi ini menjadi pelajaran berharga. Dengan tidak adanya alokasi tiket resmi untuk pasar Asia Tenggara, satu-satunya cara adalah membeli dari resale dengan harga yang bisa puluhan kali lipat. Belum lagi biaya penerbangan dan akomodasi yang tidak murah. Meski demikian, euforia Piala Dunia seringkali membuat sebagian rela merogoh kocek dalam-dalam demi pengalaman langka.
Ke depan, praktik penetapan harga tiket resale yang melambung ini bisa memicu diskusi tentang regulasi penjualan tiket ulang di ajang olahraga global. Apakah FIFA perlu membatasi markup maksimal atau memperbesar alokasi tiket untuk suporter tim tamu? Atau justru pasar bebas yang akan terus mendikte harga? Yang jelas, bagi suporter Inggris yang ingin menyaksikan sejarah di Estadio Azteca—di mana terakhir kali mereka bermain pada 1986—harganya kini terasa sangat mahal.



