Bangladesh hingga Lebanon: Mengapa Dunia Memuja Timnas Brasil di Piala Dunia 2026?
Baca dalam 60 detik
- Fans di Bangladesh, Lebanon, dan negara tanpa wakil di Piala Dunia 2026 berbondong-bondong mendukung Brasil, menciptakan fenomena global yang viral di media sosial.
- Kecintaan terhadap Brasil berakar pada sejarah panjang, mulai dari legenda sepak bola hingga ikatan imigrasi, yang diperkuat oleh globalisasi dan talenta tanpa henti.
- Fenomena ini membuka peluang bagi Indonesia—negara dengan basis penggemar sepak bola besar—untuk memperkuat hubungan budaya dan komersial dengan Brasil.

Timnas Brasil kembali menjadi magnet global di Piala Dunia 2026, menarik hati jutaan penggemar dari negara-negara yang tak lolos kualifikasi, seperti Bangladesh, Lebanon, India, Pakistan, dan Jamaika. Fenomena ini bukan sekadar dukungan biasa; di Bangladesh, ribuan orang memadati pusat kota Dhaka, mengubah kafe dan ruang publik menjadi mini Maracanã, sementara di Lebanon, ikatan emosional yang dibangun selama puluhan tahun melalui imigrasi membuat Seleção terasa seperti tim sendiri.
Menurut data FIFA, Bangladesh—yang menempati peringkat 181 dunia—belum pernah sekalipun merasakan Piala Dunia. Setelah timnas lokal tersingkir di babak awal kualifikasi, publik Bangladesh beralih total ke Brasil. Shanur Rumen, jurnalis foto asal Bangladesh yang kini menetap di Brasil, menjelaskan bahwa kecintaan ini diwariskan turun-temurun. “Pele, Ronaldo, Ronaldinho, Neymar—mereka adalah pahlawan yang menyatukan generasi,” ujarnya kepada FIFA. “Sepak bola indah ala Brasil adalah bahasa universal yang dipelajari dari ayah ke anak.”
Di Lebanon, dukungan terhadap Brasil memiliki akar sejarah yang dalam. Komunitas diaspora Lebanon di Brasil telah menjalin hubungan erat selama lebih dari satu abad. Banyak warga Lebanon yang memiliki kerabat di Brasil, sehingga Seleção menjadi simbol persaudaraan lintas benua. Globalisasi dan media sosial mempercepat penyebaran fenomena ini; video viral pertandingan Brasil di Dhaka atau Beirut mendapat jutaan tayangan, memperlihatkan kegembiraan yang melampaui batas geografis.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di Asia Tenggara. Meskipun Timnas Indonesia belum pernah lolos Piala Dunia, antusiasme terhadap turnamen ini sangat tinggi. Banyak penggemar Indonesia yang juga mendukung Brasil, terutama karena gaya bermain atraktif dan ikon-ikon seperti Ronaldo dan Neymar. Potensi kerja sama budaya dan komersial antara Indonesia dan Brasil—dari pertukaran pemain muda hingga hak siar—semakin terbuka lebar. Menurut analis olahraga, pasar Asia Tenggara adalah target ekspansi utama klub-klub Brasil, dan fenomena dukungan massal ini bisa menjadi pintu masuk strategis.
Meski Brasil belum meraih gelar juara sejak 2002, aliran talenta tanpa henti—dari Vinícius Jr. hingga Rodrygo—terus memikat penggemar baru. Pertanyaannya, akankah fenomena global ini bertahan jika Brasil gagal memenuhi ekspektasi di Piala Dunia 2026? Atau justru sebaliknya, ikatan emosional yang sudah mengakar akan membuat Seleção tetap menjadi tim favorit dunia, terlepas dari hasil akhir?



