Bupati Mimika: Disiplin Paskibraka Harus Jadi Karakter, Bukan Sekadar Seremoni
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 54 Paskibraka Mimika dikukuhkan untuk bertugas pada HUT ke-81 RI, dengan pesan agar nilai kedisiplinan melekat dalam keseharian.
- Bupati Johannes Rettob menekankan bahwa pengukuhan bukan akhir pembinaan, melainkan awal kontribusi nyata bagi daerah dan bangsa.
- Peristiwa ini merefleksikan tantangan regenerasi kepemimpinan di Papua Tengah, di mana karakter integritas menjadi modal utama generasi muda.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengukuhkan 54 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Minggu (16/8), dengan pesan tegas: disiplin yang ditempa selama pelatihan harus menjadi karakter permanen, bukan sekadar atribut seremonial yang ditinggalkan setelah upacara 17 Agustus usai.
Pengukuhan yang berlangsung di Graha Eme Neme Yauware, Timika, ini menjadi momen refleksi bagi para pemuda yang akan bertugas mengibarkan dan menurunkan Bendera Merah Putih di Lapangan Sentra Pemerintahan SP 3 pada Senin (17/8). Rettob menggarisbawahi bahwa tanggung jawab, persatuan, dan nasionalisme yang ditanamkan selama seleksi serta pendidikan harus terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat berhadapan dengan upacara resmi.
“Disiplin harus menjadi karakter, tanggung jawab harus menjadi kebiasaan, persatuan harus menjadi sikap, dan nasionalisme harus menjadi jiwa,” ujar Rettob dalam sambutannya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan pengingat bahwa proses pembinaan Paskibraka kerap berhenti setelah tugas negara selesai. Padahal, menurut bupati, generasi muda adalah penentu masa depan Mimika dan Indonesia, yang membutuhkan integritas, kecerdasan, keberanian, serta kepedulian untuk memberikan kontribusi nyata bagi daerahnya.
Rettob juga menegaskan bahwa kepercayaan menjadi Paskibraka adalah amanah besar. Bendera Merah Putih yang akan dikibarkan bukan sekadar kain, melainkan simbol kehormatan, perjuangan, dan pengorbanan para pahlawan. Pesan ini relevan di tengah dinamika sosial-politik Papua Tengah yang masih mencari format pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Pendidikan karakter sejak dini, seperti yang dijalani para Paskibraka, menjadi salah satu instrumen strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki pondasi moral yang kokoh.
Acara pengukuhan ini juga menjadi ajang konsolidasi antar pemangku kepentingan di daerah. Kehadiran Wakil Bupati Emanuel Kemong, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta pimpinan organisasi perangkat daerah menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda mendapat perhatian serius dari lintas sektor. Keluarga anggota Paskibraka yang turut hadir menjadi saksi atas komitmen para pemuda ini, sekaligus pengingat bahwa dukungan orang tua adalah fondasi utama keberhasilan mereka.
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di Papua, perhatian pada pembangunan karakter manusia sering kali tertinggal. Padahal, keberlanjutan pembangunan sangat bergantung pada kualitas generasi penerus. Mimika, yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan alam melimpah, menghadapi tantangan besar dalam memastikan bahwa sumber daya manusianya mampu mengelola potensi tersebut secara bijak dan berkeadilan. Paskibraka, dengan pembinaan kedisiplinan dan nasionalisme yang intensif, menjadi salah satu kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin masa depan yang berintegritas.
Pertanyaannya, apakah nilai-nilai yang ditanamkan selama pelatihan Paskibraka akan benar-benar bertahan dan menjadi pola hidup? Atau akankah ia luntur begitu seragam dilepas? Jawabannya bergantung pada sejauh mana lingkungan sekitar—keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah—mampu memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut. Jika tidak, maka upacara 17 Agustus hanyalah rutinitas tahunan yang kehilangan makna.



